Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan yang dimediasi oleh Pakistan, menghentikan sementara perang yang telah berlangsung enam minggu dan menewaskan ribuan orang serta mengganggu pasokan energi global secara signifikan.
Kesepakatan ini diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump pada Selasa malam, hanya dua jam sebelum batas waktu ultimatum yang ia tetapkan bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Pengumuman tersebut disambut lega oleh pasar keuangan global dan masyarakat di berbagai negara. Harga minyak dunia langsung turun tajam, sementara pasar saham menguat seiring harapan berakhirnya gangguan energi terbesar dalam sejarah modern.
Kedua Pihak Klaim Kemenangan
Baik Washington maupun Teheran sama-sama mengklaim kemenangan, meskipun perbedaan mendasar masih belum terselesaikan. Kedua negara tetap bersikeras pada tuntutan masing-masing terkait kesepakatan damai jangka panjang yang berpotensi membentuk ulang geopolitik Timur Tengah.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengungkapkan bahwa delegasi AS dan Iran telah diundang untuk menghadiri pembicaraan damai di Islamabad pada Jumat mendatang. Presiden Iran dilaporkan telah mengonfirmasi kehadiran.
Baca Juga: Yunani Larang Akses Media Sosial untuk Anak di Bawah 15 Tahun Mulai 2027
Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa Trump telah menginstruksikan tim negosiator untuk mencapai kesepakatan, meski belum memastikan waktu dan lokasi perundingan secara rinci.
Selat Hormuz Jadi Kunci
Gencatan senjata ini bergantung pada kesediaan Iran untuk menghentikan blokade di Selat Hormuz, jalur yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Hingga Rabu sore, kapal-kapal masih belum sepenuhnya kembali melintas, meskipun Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan Teheran siap membuka akses jika serangan terhadap negaranya dihentikan.
Kemampuan Iran untuk mengganggu pasokan energi global selama konflik menjadi faktor penting yang mengubah dinamika kekuatan di kawasan Teluk.
Stabilitas Politik Iran Tetap Terjaga
Meskipun menghadapi serangan militer besar dari AS dan sekutunya, struktur kekuasaan Iran tetap bertahan. Pemerintah Iran bahkan mengklaim telah meraih kemenangan strategis atas apa yang disebut sebagai agresi “tidak adil dan ilegal”.
Namun demikian, konflik belum sepenuhnya menghilangkan kemampuan Iran, termasuk cadangan uranium yang diperkaya dan kapasitas serangan rudal serta drone ke negara-negara tetangga.
Israel Hadapi Kritik Internal
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan dukungan terhadap penghentian sementara serangan. Namun, keputusan ini menuai kritik dari dalam negeri Israel.
Tokoh oposisi seperti Yair Lapid menyebut kesepakatan tersebut sebagai kegagalan diplomatik besar. Sementara itu, mantan pejabat militer Yair Golan menilai hasil perang tidak mencapai tujuan utama, termasuk menghentikan program nuklir Iran.
Baca Juga: Trump Bertemu Pimpinan NATO di Tengah Ketegangan Aliansi Imbas Konflik Iran
Konflik Regional Masih Berlanjut
Meskipun ada gencatan senjata antara AS dan Iran, konflik di kawasan lain belum mereda. Israel masih melanjutkan operasi militernya di Lebanon terhadap kelompok Hezbollah.
Serangan di wilayah selatan Lebanon dilaporkan terus terjadi, termasuk serangan udara yang menewaskan warga sipil. Pemerintah Lebanon menyatakan tidak dilibatkan dalam kesepakatan gencatan senjata ini.
Tantangan Menuju Perdamaian
Jika perundingan damai benar-benar dimulai di Islamabad, negosiasi akan berlangsung dengan sejumlah isu utama yang belum terselesaikan. AS mengajukan rencana 15 poin, sementara Iran merespons dengan proposal 10 poin.
Trump mengindikasikan bahwa proposal Iran dapat menjadi dasar negosiasi, termasuk tuntutan pencabutan sanksi, kompensasi kerugian, serta kendali Iran atas Selat Hormuz.
Namun, pejabat Israel menyatakan bahwa AS tetap akan mendorong syarat sebelumnya, seperti penghentian program nuklir Iran dan eliminasi rudal balistik.












