kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.843.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.921   -74,00   -0,44%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%

Krisis Energi Global Semakin Memburuk: Asia Terancam, Eropa Menyusul April


Rabu, 25 Maret 2026 / 05:58 WIB
Krisis Energi Global Semakin Memburuk: Asia Terancam, Eropa Menyusul April
ILUSTRASI. Selat Hormuz Jalur Perdagangan Minyak (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Krisis energi global semakin memburuk seiring langkah darurat pemerintah di berbagai negara dinilai belum mampu menutup kekurangan pasokan minyak dan gas. Kondisi ini dipicu perang AS-Israel melawan Iran yang mengganggu distribusi energi dunia.

Melansir Reuters, para eksekutif industri dan menteri energi memperingatkan, dunia kini kehilangan hingga 20 juta barel minyak per hari akibat terganggunya pasokan dari Timur Tengah, terutama setelah Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital distribusi energi global.

Dampaknya langsung terasa: harga energi, pupuk, hingga produk petrokimia melonjak tajam dan mulai menekan rantai pasok global.

Kenaikan harga energi mulai merembet ke berbagai sektor. Maskapai penerbangan bahkan mempertimbangkan menaikkan harga tiket hingga 20%.

Di sisi lain, Filipina telah menetapkan status darurat energi nasional. Kawasan Asia yang sangat bergantung pada pasokan energi Timur Tengah menjadi yang paling terdampak saat ini.

Para pejabat memperkirakan, jika kondisi berlanjut, krisis ini akan menyebar ke Eropa mulai April.

Baca Juga: Saham Global Melemah, Harga Minyak Melonjak di Tengah Ketidakpastian Perang

Upaya Darurat Dinilai Tak Cukup

Berbagai langkah telah dilakukan pemerintah global, seperti:

  • Melepas sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan strategis
  • Pelonggaran sanksi AS terhadap sebagian minyak Iran dan Rusia
  • Pengalihan jalur distribusi untuk menghindari Selat Hormuz

Namun, menurut CEO Kuwait Petroleum, langkah tersebut bahkan belum cukup sebagai solusi sementara.

“Ini bahkan belum bisa disebut sebagai langkah penanganan darurat,” ujarnya.

Jepang, misalnya, sudah melepas sekitar 80 juta barel dari cadangan strategisnya. Meski begitu, negara tersebut hanya memiliki cadangan gas untuk sekitar tiga minggu ke depan.

Risiko Kekurangan Energi di Eropa

Menteri ekonomi Jerman dan CEO Shell, Wael Sawan, memperingatkan bahwa Eropa bisa mulai mengalami kekurangan pasokan energi pada April jika perang terus berlanjut.

Menurut Sawan, banyak negara saat ini masih bersifat reaktif, bukan preventif. Padahal, strategi energi yang kuat seharusnya dibangun untuk jangka panjang, bukan sekadar respons krisis.

Tonton: Trump Klaim Ada Deal, Iran Langsung Bantah Keras! Ada Apa?

Produksi Global Mentok, Tak Bisa Naik Cepat

Masalahnya, peningkatan produksi tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.

CEO ConocoPhillips menyebut produksi minyak AS sulit meningkat signifikan sebelum 2027, karena perusahaan sudah menjalankan rencana investasi yang tidak mudah diubah.

Di sisi lain, produsen LNG AS juga sudah beroperasi pada kapasitas maksimal, sehingga tidak mampu menutup kekurangan pasokan dari Timur Tengah.




TERBARU

[X]
×