Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.Co.ID - HAVANA. Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali meningkatkan retorikanya terhadap Kuba dengan menyatakan bahwa ia berharap memiliki “kehormatan” untuk “mengambil Kuba dalam beberapa bentuk” dan mengklaim dapat melakukan “apa pun yang saya inginkan” terkait negara tetangga tersebut.
Pernyataan ini disampaikan kepada wartawan di Gedung Putih pada Senin (16/3), di tengah memburuknya krisis ekonomi dan energi yang melanda Kuba.
Pernyataan Trump muncul bersamaan dengan laporan bahwa pemerintah Amerika Serikat dan Kuba telah membuka kembali pembicaraan untuk memperbaiki hubungan bilateral yang selama puluhan tahun berada dalam ketegangan. Namun, komentar terbaru tersebut dinilai semakin memperkeruh situasi diplomatik antara kedua negara.
Pernyataan Kontroversial di Tengah Krisis Energi Kuba
Dalam keterangannya, Trump menyebut bahwa ia melihat kemungkinan “mengambil Kuba dalam beberapa bentuk” sebagai sebuah kehormatan. Ia juga mengatakan bahwa Washington tengah berkomunikasi dengan pihak Kuba, tetapi tidak merinci bentuk kebijakan atau langkah konkret yang dimaksud.
Baca Juga: China Batasi IPO Perusahaan Red Chip di Hong Kong, Perusahaan Diminta Pindah Domisili
Retorika tersebut muncul saat Kuba menghadapi krisis ekonomi terburuk dalam beberapa dekade. Pemerintah Kuba melaporkan bahwa negara tersebut mengalami kekurangan pasokan minyak selama beberapa bulan terakhir, yang berujung pada penerapan pembatasan energi ketat dan pemadaman listrik berkepanjangan.
Pada 16 Maret, sistem jaringan listrik nasional Kuba dilaporkan mengalami kolaps total, menyebabkan jutaan penduduk kehilangan akses listrik secara luas. Kondisi ini semakin memperburuk aktivitas ekonomi di negara berpenduduk sekitar 10 juta jiwa tersebut
Tekanan Ekonomi dan Kebijakan Sanksi
Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah AS di bawah Trump juga meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Kuba, termasuk kebijakan yang membatasi aliran pasokan minyak dari luar negeri ke pulau tersebut. Langkah-langkah ini disebut sebagai bagian dari strategi Washington untuk menekan pemerintah Havana terkait isu keamanan nasional dan kebijakan regional.
Gedung Putih sebelumnya telah menyatakan bahwa tindakan terhadap Kuba berkaitan dengan pertimbangan keamanan nasional dan tuduhan bahwa pemerintah Kuba memiliki hubungan dengan aktor-aktor yang dianggap bermasalah oleh Amerika Serikat. Namun, pemerintah Kuba secara konsisten menolak tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai bentuk tekanan politik.
Respons Kuba dan Prinsip Kedaulatan
Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel menegaskan bahwa setiap dialog dengan Amerika Serikat harus dilakukan berdasarkan prinsip kesetaraan, penghormatan terhadap sistem politik masing-masing negara, serta kedaulatan nasional.
Baca Juga: Qualcomm Gelar Program Buyback Saham US$ 20 Miliar dan Kerek Pembayaran Dividen
Pemerintah Kuba juga menolak segala bentuk intervensi dalam urusan internalnya dan menganggap pendekatan berbasis tekanan sebagai hambatan utama dalam negosiasi.
Hingga saat ini, Gedung Putih belum memberikan penjelasan rinci mengenai dasar hukum atau kerangka kebijakan yang akan digunakan jika terdapat langkah lebih lanjut terkait Kuba.
Ketegangan Regional yang Meningkat
Retorika terbaru ini muncul di tengah dinamika geopolitik yang lebih luas di kawasan Amerika Latin, termasuk perubahan kebijakan AS terhadap beberapa negara di kawasan tersebut. Para pengamat menilai bahwa perkembangan ini berpotensi memengaruhi stabilitas regional serta prospek hubungan diplomatik jangka panjang antara Washington dan Havana.
Situasi di Kuba masih berkembang, sementara komunitas internasional menantikan kejelasan arah kebijakan kedua negara di tengah krisis yang sedang berlangsung













