kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.923   27,00   0,16%
  • IDX 7.164   -138,03   -1,89%
  • KOMPAS100 989   -24,52   -2,42%
  • LQ45 732   -14,72   -1,97%
  • ISSI 252   -6,20   -2,41%
  • IDX30 398   -8,38   -2,06%
  • IDXHIDIV20 499   -11,65   -2,28%
  • IDX80 112   -2,43   -2,13%
  • IDXV30 136   -1,81   -1,31%
  • IDXQ30 130   -3,03   -2,28%

Trump Klaim Iran Ingin Damai, Teheran Bantah di Tengah Dampak Perang Global


Kamis, 26 Maret 2026 / 17:26 WIB
Trump Klaim Iran Ingin Damai, Teheran Bantah di Tengah Dampak Perang Global
ILUSTRASI. Penutupan Selat Hormuz memicu krisis energi global terburuk. Pahami bagaimana jalur vital ini mengancam perekonomian Anda. (via REUTERS/Kenny Holston/The New York Times)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Iran tengah “putus asa” untuk mencapai kesepakatan damai guna mengakhiri hampir empat pekan konflik. Namun, pernyataan tersebut bertolak belakang dengan sikap resmi Teheran yang menegaskan belum ada niat untuk melakukan negosiasi penghentian perang.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyampaikan bahwa negaranya memang menerima berbagai pesan dari Amerika Serikat melalui pihak perantara, tetapi hal itu tidak dapat disebut sebagai proses negosiasi.

“Pesan yang disampaikan melalui negara sahabat dan respons kami bukanlah negosiasi atau dialog,” ujar Araqchi dalam wawancara televisi pemerintah.

Sementara itu, Trump dalam pernyataannya di Washington mengklaim para pemimpin Iran sebenarnya ingin mencapai kesepakatan, namun takut menyatakannya secara terbuka.

Dampak Perang Meluas ke Ekonomi Global

Konflik yang dimulai sejak 28 Februari tersebut kini menimbulkan dampak ekonomi dan kemanusiaan yang luas. Gangguan pada Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia—telah memicu krisis energi global terburuk dalam sejarah.

Baca Juga: Drone Laut Hantam Kapal Tanker Rusia di Laut Hitam, Picu Ledakan Dekat Bosphorus

Penutupan jalur ini menyebabkan lonjakan harga energi, gangguan rantai pasok, serta menekan berbagai sektor bisnis mulai dari maskapai penerbangan hingga ritel. Sejumlah pemerintah bahkan mempertimbangkan kebijakan dukungan ekonomi seperti saat pandemi Covid-19.

Badan pangan dunia World Food Programme memperingatkan puluhan juta orang berisiko menghadapi kelaparan akut jika konflik berlanjut hingga pertengahan tahun.

CEO ADNOC, Sultan Al Jaber, menyebut pembatasan akses Selat Hormuz oleh Iran sebagai bentuk “terorisme ekonomi” yang berdampak luas terhadap ekonomi global.

Upaya Diplomasi dan Proposal AS

Amerika Serikat dilaporkan telah mengajukan proposal 15 poin kepada Iran melalui Pakistan. Proposal tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, penghentian program nuklir uranium yang diperkaya tinggi, pembatasan program rudal balistik, serta penghentian dukungan terhadap sekutu regional.

Namun, pihak Gedung Putih belum mengungkap detail resmi proposal tersebut. Sementara itu, Israel disebut skeptis Iran akan menerima syarat tersebut, serta khawatir AS akan memberikan konsesi dalam negosiasi.

Iran juga dikabarkan meminta agar Lebanon dimasukkan dalam setiap kesepakatan gencatan senjata, menambah kompleksitas diplomasi yang sedang berlangsung.

Ketegangan Militer dan Risiko Eskalasi

Di lapangan, konflik masih terus berlangsung dengan serangan rudal dan drone di kawasan Teluk. Militer Israel melaporkan telah melancarkan serangan besar ke berbagai target infrastruktur di Iran.

Sementara itu, Komando Pusat AS menyatakan telah menyerang lebih dari 10.000 target di Iran dan secara signifikan melemahkan kemampuan militer Teheran, termasuk menghancurkan sebagian besar armada laut dan fasilitas produksi senjata.

Baca Juga: Trump Akan Temui Xi Jinping di Beijing Mei 2026, Ini yang Dibahas

Pentagon juga tengah merencanakan pengerahan tambahan ribuan pasukan ke kawasan Timur Tengah, memberikan opsi bagi Trump untuk meningkatkan operasi militer, termasuk kemungkinan serangan darat.

Tekanan Politik dan Opini Publik

Di dalam negeri, Trump menghadapi tekanan politik yang meningkat. Survei Reuters/Ipsos menunjukkan 61% warga Amerika menolak serangan militer ke Iran, sementara hanya 35% yang mendukung.

Dengan harga energi yang melonjak, pasar saham melemah, serta tingkat persetujuan publik yang menurun, Trump memiliki insentif kuat untuk segera menemukan solusi diplomatik, terutama menjelang pemilu paruh waktu November.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan bahwa dunia berada di ambang perang yang lebih luas.

“Sudah saatnya menghentikan eskalasi dan mulai menempuh jalur diplomasi,” ujarnya.

Situasi ini menempatkan konflik Iran sebagai salah satu krisis geopolitik paling berisiko saat ini, dengan dampak yang tidak hanya regional tetapi juga global, khususnya terhadap stabilitas energi dan ekonomi dunia.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×