Sumber: Reuters | Editor: Harris Hadinata
KONTAN.CO.ID - ZURICH. World Economic Forum (WEF) akan kembali digelar di Davos pada 19-23 Januari pekan depan. Kali ini, para pebisnis elit, pakar ekonomi, dan politikus akan bertemu di tengah tatanan ekonomi global yang tengah terguncang, utamanya akibat kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Kehadiran Trump di forum ini juga menjadi perhatian. Pasalnya, agenda pemerintahan presiden yang juga pebisnis ini sangat bertentangan dengan pendekatan konsensus yang diusung WEF. Trump juga kerap mengkritik WEF sebagai forum diskusi orang kaya.
Trump memang banyak mengeluarkan kebijakan yang mengguncang tatanan ekonomi global. Mulai dari menggunakan tarif sebagai hukuman bagi negara yang tidak sejalan, intervensi militer di Venezuela, ancaman pengambilalihan Greenland secara paksa, hingga penarikan AS dari kerjasama dalam hal iklim, kesehatan, dan tantangan global lainnya.
Pemerintahan Trump juga mengancam Chairman Federal Reserve Jerome Powell dengan dakwaan pidana. Ini mendorong banyak bankir dari bank sentral terkemuka mengeluarkan pernyataan yang membela Powell dan independensi bank sentral.
Baca Juga: Ancaman Tarif Trump Terhadap Iran Berpotensi Panaskan Lagi Hubungan AS–China
WEF berusaha menjadi penengah dalam kondisi saat ini. Karena itu, pertemuan yang tahun ini telah diselenggarakan untuk ke-56 kali mengangkat tema A Spirit of Dialogue. "Dialog bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan," kata Borge Brende, mantan menteri Norwegia yang juga Presiden dan CEO WEF, seperti dikutip Reuters, Selasa (13/1/2026).
Kendati begitu, banyak yang pesimistis dengan tema tersebut. Apalagi, AS dan China, dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia, kini kerap memanfaatkan keunggulan yang dimiliki untuk kepentingan nasional. "Siapa yang akan memperjuangkan tatanan internasional berbasis aturan?" ucap Daniel Woker, Mantan Duta Besar Swiss yang juga pakar hubungan luar negeri.
Woker menilai, dalam sistem di mana setiap orang hanya mementingkan diri sendiri, WEF tidak punya alasan untuk tetap ada.
Para pengamat Davos juga melihat gelaran ekonomi ini telah kehilangan momentum sejak pendirinya, Klaus Schwab, yang telah berusia 87 tahun, mengundurkan diri sebagai Chairman pada April tahun lalu.
Baca Juga: Daftar Mitra Dagang Iran yang Terancam Kena Tarif AS 25%
Dalam pengarahan awal, WEF menunjukkan sikap optimistis. Lembaga yang berbasis di Jenewa ini menyoroti bagaimana perusahaan-perusahaan telah berupaya beradaptasi dengan tarif impor tinggi AS dan menunjukkan adanya penurunan ketegangan perdagangan pada akhir 2025.
Namun, survei WEF terhadap para eksekutif yang dirilis pekan lalu menunjukkan, pengusaha menilai menjalankan bisnis menjadi lebih sulit pada 2025 lalu. Jajak pendapat tersebut juga menggambarkan gambaran suram tentang kerjasama dalam bidang perdamaian dan keamanan.
Sejumlah pemimpin Eropa juga diperkirakan akan hadir. Karena itu, publik akan memperhatikan bagaimana mereka menanggapi tantangan AS, termasuk ancaman Trump untuk mengambil alih Greenland, serta serangan terhadap upaya Eropa untuk mengatur perusahaan teknologi Amerika.
Baca Juga: Danantara Cari Mitra Global dan Co-Investments di World Economic Forum Davos
Selain itu, salah satu acara penting di WEF tahun ini adalah pemaparan agenda energi Trump, yang ditunggu-tunggu para eksekutif puncak perusahaan minyak. Trump mendorong perusahaan minyak mengebor lebih banyak minyak dan gas, sambil mengabaikan energy alternatif seperti energi angin dan surya.
CEO Exxon Mobil, Shell, TotalEnergies, Equinor, dan ENI, semuanya diharapkan hadir. Di tahun-tahun sebelumnya, kehadiran petinggi perusahaan energi terbilang sporadis, lantaran menilai forum ini tidak mendukung bahan bakar fosil.













