Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - BEIJING. Ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengenakan tarif sebesar 25% terhadap negara-negara yang tetap berdagang dengan Iran berisiko membuka kembali luka lama dalam hubungan Washington–Beijing. China merupakan mitra dagang terbesar Iran.
Iran pernah menjadi titik panas dalam hubungan AS–China pada masa jabatan pertama Trump (2017–2021), ketika Washington memperketat sanksi terhadap Teheran dan membidik Huawei asal China, yang dituduh menjual teknologi ke Republik Islam tersebut.
Penangkapan Meng Wenzhou, putri pendiri Huawei, di Kanada atas permintaan Washington memicu aksi balasan dan krisis penyanderaan, dengan saling tuding yang pahit terus membayangi sisa masa pemerintahan pertama Trump.
Dengan Iran kembali menjadi sasaran, tarif tersebut berpotensi membuat pengiriman barang China ke AS dikenai pungutan lebih dari 70%, lebih tinggi dibandingkan tarif efektif 57,5% yang berlaku sebelum Trump dan Presiden China Xi Jinping mencapai kesepakatan pada Oktober lalu untuk meredakan perang dagang.
Baca Juga: Manuver Trump Guncang Risiko Perang Dagang
Masih belum jelas negara mana saja yang memiliki hubungan bisnis dengan Iran yang akan menjadi target Trump, dan ia belum secara eksplisit menyebut China. Presiden AS itu juga kerap melontarkan pernyataan spontan yang berpotensi mengguncang kebijakan luar negeri AS, namun sebelumnya tidak selalu ditindaklanjuti.
“China akan memanggil gertakan (Trump). Saya bisa memastikan Trump tidak punya nyali untuk mengenakan tambahan tarif 25% terhadap China, dan jika ia melakukannya, China akan membalas dan ia akan menerima konsekuensinya,” kata Wu Xinbo, Dekan Institute of International Studies di Universitas Fudan.
KEMBALI KE MASA LALU
Sejumlah pakar China mempertanyakan mengapa Trump tampak berniat menghidupkan kembali salah satu isu kebijakan luar negeri paling kontroversial dari masa jabatan pertamanya, meskipun langkah-langkah sebelumnya telah membuat Beijing berpikir dua kali untuk memberikan dukungan ekonomi kepada Teheran.
“Hubungan China dan Iran tidak sedekat yang dibayangkan publik,” ujar seorang akademisi China yang berbasis di Beijing dan menjadi penasihat kementerian luar negeri terkait kebijakan Iran. Ia meminta anonimitas karena tidak berwenang berbicara kepada media.
Data bea cukai China menunjukkan bahwa China telah memangkas impor dari Iran secara tajam dalam beberapa tahun terakhir, seiring kehati-hatian perusahaan China agar tidak terkena sanksi pemerintah AS.
China hanya membeli barang Iran senilai US$ 2,9 miliar dalam 11 bulan pertama tahun lalu, menurut data terbaru, jauh di bawah puncak US$ 21 miliar pada 2018 saat masa jabatan pertama Trump.
Baca Juga: Krisis Venezuela Guncang Asia: Mengapa China dan RI Serentak Kecam AS?
Meski demikian, Beijing disebut masih mengalirkan sekitar 80% minyak Iran yang dikapalkan melalui kilang-kilang independen kecil yang beroperasi di luar pembukuan untuk menghindari sanksi AS terkait ambisi nuklir Iran.
Perusahaan minyak besar milik negara China tidak lagi berbisnis dengan Iran sejak 2022. Sejumlah analis menilai pengiriman oleh kilang independen tersebut membuat total nilai pembelian China tetap berada di kisaran puluhan miliar dolar AS.
“China hanyalah alasan, semacam kamuflase bagi pemerintahan Trump, untuk menekan Iran lebih lanjut,” kata Wang Jin dari lembaga pemikir Beijing Club for International Dialogue.
Ketika ditanya dalam konferensi pers rutin hari Selasa terkait ancaman tarif Trump, Kementerian Luar Negeri China menegaskan Beijing akan “secara tegas melindungi hak dan kepentingan sahnya.”
TARUHAN TINGGI
Meski begitu, Iran tetap merupakan mitra bisnis yang jauh lebih besar bagi China dibandingkan Venezuela, di mana Trump sebelumnya bertindak untuk menekan keterlibatan Beijing, termasuk melalui operasi komando untuk menangkap Presiden Nicolas Maduro agar dihadapkan pada tuduhan narkoba di AS.
Baca Juga: Peretas Asal China Berhasil Bobol Sistem Email Staf DPR AS
Para analis menilai dorongan baru Trump untuk memutus Iran dari arus perdagangan global berpotensi memperketat sorotan terhadap prakarsa unggulan Xi Jinping, Belt and Road Initiative (BRI), di mana Iran berperan sebagai simpul strategis jalur barang China menuju Timur Tengah.
Langkah ini juga memunculkan ketidakpastian mengenai rencana kunjungan Trump ke Beijing pada April mendatang, yang sebelumnya diperkirakan akan diiringi pengumuman kesepakatan dagang besar dengan Xi.
“Apakah tarif Trump dapat benar-benar ditegakkan masih menjadi tanda tanya,” ujar Xu Tianchen, analis berbasis di Beijing dari Economist Intelligence Unit.
“Tahun lalu ia mengumumkan tarif terkait perdagangan minyak Rusia yang dianggap ‘ilegal’, namun penerapannya tidak konsisten.” katanya.
“Trump juga tipe orang yang suka menekan pihak yang lebih lemah,” tambah Xu.
“Ia seharusnya mengelola tindakannya agar tarif ini tidak meningkat menjadi konfrontasi langsung dengan China,” tambahnya.













