kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.122.000   -13.000   -0,41%
  • USD/IDR 16.902   8,00   0,05%
  • IDX 7.940   -77,07   -0,96%
  • KOMPAS100 1.111   -13,95   -1,24%
  • LQ45 806   -6,90   -0,85%
  • ISSI 283   -3,09   -1,08%
  • IDX30 427   -2,07   -0,48%
  • IDXHIDIV20 519   1,40   0,27%
  • IDX80 125   -1,34   -1,06%
  • IDXV30 141   0,27   0,19%
  • IDXQ30 137   -0,41   -0,30%

Belanja Modal Jepang Naik, Ekonomi Masih Tersendat


Selasa, 03 Maret 2026 / 18:00 WIB
Belanja Modal Jepang Naik, Ekonomi Masih Tersendat


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika

KONTAN.CO.ID - TOKYO. Investasi korporasi Jepang menunjukkan daya tahan di tengah pertumbuhan ekonomi yang masih rapuh. Data Kementerian Keuangan Jepang pada Selasa (3/3) mencatat belanja perusahaan untuk pabrik dan peralatan naik 6,5% secara tahunan pada kuartal IV-2025.

Melansir Reuters (3/3), kenaikan ini menandai empat kuartal berturut-turut ekspansi, bahkan lebih cepat dibandingkan pertumbuhan 2,9% pada kuartal sebelumnya. Secara nilai, belanja modal mencapai 15,4 triliun yen atau sekitar US$ 97,9 miliar pada periode Oktober–Desember, menjadi rekor tertinggi untuk kuartal tersebut.

Namun, kinerja investasi yang solid itu belum sepenuhnya mampu mengangkat laju ekonomi. Data awal menunjukkan produk domestik bruto (PDB) Jepang hanya tumbuh 0,2% secara tahunan pada kuartal IV-2025, di bawah ekspektasi pasar. Inflasi yang masih tinggi menekan konsumsi rumah tangga, sementara kesepakatan tarif dengan Amerika Serikat belum efektif mendongkrak ekspor.

Ekonom Meiji Yasuda Research Institute Kazutaka Maeda menilai, data belanja modal menunjukkan fondasi investasi tetap kuat. “Belanja modal secara keseluruhan masih solid,” ujarnya. Ia memperkirakan angka PDB berpotensi direvisi naik dalam rilis resmi pada 10 Maret mendatang.

Belanja modal menjadi indikator penting karena mencerminkan pertumbuhan berbasis permintaan domestik. Selain itu, penjualan korporasi pada kuartal IV naik 0,7% secara tahunan, sedangkan laba berulang tumbuh 4,7%. Artinya, perusahaan sebenarnya memiliki ruang finansial untuk memperluas investasi.

Baca Juga: Nikkei 225 Jepang Turun 1,2% Selasa (3/3), saat Perang AS-Israel dengan Iran Memanas

Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan Jepang gencar mengganti mesin-mesin lama yang kurang efisien guna mengatasi kekurangan tenaga kerja kronis akibat populasi yang menyusut. Transisi keluar dari deflasi juga mendorong perusahaan mempercepat belanja modal sebelum biaya pendanaan meningkat lebih jauh.

Pemerintah Jepang sendiri tengah menyiapkan berbagai stimulus untuk memacu belanja korporasi, mulai dari suntikan modal, subsidi hingga insentif pajak. Mizuho Research & Technologies memperkirakan kebijakan tersebut bisa mengerek belanja modal sekitar 1%, cukup untuk meredam tekanan dari kenaikan suku bunga.

Lembaga riset itu memproyeksikan pertumbuhan riil belanja modal sebesar 2,7% pada tahun fiskal 2026 yang dimulai 1 April, dan 2,5% pada tahun fiskal 2027.

Meski demikian, efektivitas dorongan fiskal masih menjadi tanda tanya. Maeda menilai, perusahaan pada dasarnya sudah memiliki laba yang memadai untuk berinvestasi tanpa perlu bergantung pada insentif tambahan. “Pemerintah berharap suntikan dana dapat mengarahkan perusahaan menjadi lebih berorientasi investasi, tetapi belum tentu efektif,” katanya.

Di sisi lain, risiko global terus membayangi. Ketegangan di Timur Tengah dan ketidakpastian kebijakan tarif memperumit perhitungan dunia usaha. Dalam situasi tersebut, kenaikan belanja modal memang memberi sinyal optimistis, tetapi belum cukup kuat untuk memastikan ekonomi Jepang benar-benar keluar dari fase pertumbuhan yang tersendat.

Baca Juga: Aktivitas Pabrik Jepang Sentuh Level Tertinggi Hampir 4 Tahun pada Februari 2026


Tag


TERBARU
Kontan Academy
AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026 Mastering Strategic Management for Sustainability

[X]
×