Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan menurun menjadi 2,7% pada 2026 dari 2,8% pada 2025. Sementara pada tahun 2027 diperkirakan naik menjadi 2,9%.
Namun angka ini masih di bawah rata-rata pra-pandemi sebesar 3,2% antara 2010–2019, menurut laporan World Economic Situation and Prospects yang dirilis oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis (8/1/2026).
Laporan tersebut mencatat kenaikan tajam tarif di Amerika Serikat pada 2025 yang menciptakan ketegangan perdagangan baru, tidak ada eskalasi yang lebih luas, sehingga gangguan terhadap perdagangan internasional terbatas.
Baca Juga: Kerusuhan Iran Meluas: Internet Mati, Penerbangan Dibatalkan, Toko Hancur
“Meski ada kejutan tarif, aktivitas ekonomi global terbukti tangguh, didukung oleh pengiriman barang yang dipercepat, akumulasi inventaris, dan belanja konsumen yang solid di tengah pelonggaran moneter serta pasar tenaga kerja yang relatif stabil,” kata laporan dari Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB.
Laporan menambahkan dukungan kebijakan makroekonomi yang berkelanjutan dapat menahan dampak tarif yang lebih tinggi, namun pertumbuhan perdagangan dan aktivitas ekonomi secara keseluruhan kemungkinan akan melambat dalam jangka pendek.
Ekonomi Amerika Serikat melambat menjadi 1,9% pada 2025 dari 2,8% pada 2024, dan diperkirakan naik tipis menjadi 2,0% pada 2026 dan 2,2% pada 2027, didukung oleh kebijakan fiskal dan moneter ekspansif.
Inflasi diperkirakan tetap di atas target 2% pada 2026, meski secara bertahap akan mereda seiring efek tarif yang berkurang dan stabilisasi biaya perumahan.
Ekonomi China diproyeksikan tumbuh 4,6% pada 2026 dan 4,5% pada 2027, turun dari estimasi pertumbuhan 4,9% pada 2025.
Laporan PBB menyebut, pelonggaran sementara ketegangan perdagangan dengan AS, termasuk pengurangan tarif terarah dan gencatan perdagangan satu tahun, membantu menstabilkan kepercayaan, sementara dukungan kebijakan diharapkan menjaga permintaan domestik.
Pertumbuhan Uni Eropa diperkirakan 1,3% pada 2026 dan 1,6% pada 2027, dibanding 1,5% pada 2025, didorong oleh belanja konsumen yang tangguh. Namun, tarif AS yang lebih tinggi dan ketidakpastian geopolitik kemungkinan akan membebani ekspor.
Di Asia Selatan, pertumbuhan diperkirakan 5,6% pada 2026 dari 5,9% pada 2025, dan diperkirakan kembali ke 5,9% pada 2027. Khusus di India, pertumbuhan diperkirakan 7,4% pada 2025, turun menjadi 6,6% pada 2026 dan 6,7% pada 2027, didukung oleh konsumsi yang kuat dan investasi publik yang tinggi, yang diharapkan mampu menyangga dampak negatif tarif AS.













