Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Raksasa pelayaran peti kemas asal Denmark, Maersk, memutuskan menghentikan sementara pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb dan Terusan Suez menyusul meningkatnya konflik militer di Timur Tengah pascaserangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Dalam pernyataan resminya pada Minggu (1/3/2026), Maersk menyebutkan bahwa memburuknya situasi keamanan di kawasan tersebut mendorong perusahaan untuk menangguhkan sementara seluruh pelayaran Trans-Suez melalui Selat Bab el-Mandeb.
Sebagai langkah mitigasi, kapal-kapal akan dialihkan memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan.
Sebelumnya pada Jumat, Maersk telah mengumumkan pengalihan sementara sejumlah rute dari Terusan Suez akibat kendala tak terduga di wilayah Laut Merah.
Padahal, bulan lalu perusahaan ini sempat menyampaikan rencana pengembalian bertahap sejumlah layanan ke rute Suez jalur strategis yang dinilai krusial untuk mengakhiri gangguan rantai pasok global selama dua tahun terakhir akibat serangan kelompok Houthi Yaman terhadap kapal-kapal di Laut Merah.
“Kami akan terus memantau situasi dengan cermat dan mengambil langkah yang diperlukan,” tulis Maersk.
Perusahaan menegaskan bahwa setelah kondisi keamanan memungkinkan, rute Trans-Suez akan kembali menjadi prioritas, khususnya untuk layanan Timur Tengah–India ke Mediterania dan Timur Tengah–India ke Pantai Timur Amerika Serikat.
Tak hanya itu, Maersk juga mengumumkan penangguhan seluruh pelayaran melalui Selat Hormuz hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Layanan ke pelabuhan di kawasan Teluk Arab diperkirakan mengalami keterlambatan, pengalihan rute, atau penyesuaian jadwal. Meski demikian, perusahaan masih menerima pengiriman kargo menuju Timur Tengah.
Langkah serupa diambil oleh pesaingnya, Mediterranean Shipping Company (MSC), yang menyatakan penghentian sementara seluruh pemesanan kargo ke Timur Tengah.
MSC juga menginstruksikan kapal-kapal yang berada di wilayah Teluk atau dalam perjalanan menuju kawasan tersebut untuk berlindung di area aman sampai situasi membaik.
Perusahaan pelayaran global lainnya, CMA CGM, yang merupakan operator peti kemas terbesar ketiga di dunia, pada Sabtu juga mengumumkan bahwa kapal-kapalnya di dalam atau menuju kawasan Teluk diminta menuju tempat perlindungan. CMA CGM turut menghentikan pelayaran melalui Terusan Suez.
Keputusan kolektif para raksasa pelayaran ini berpotensi kembali menekan rantai pasok global, meningkatkan biaya logistik, serta memperpanjang waktu pengiriman barang, terutama untuk jalur perdagangan antara Asia, Timur Tengah, Eropa, dan Amerika Serikat.













