kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.580.000   -17.000   -0,65%
  • USD/IDR 18.018   20,00   0,11%
  • IDX 6.114   -33,52   -0,55%
  • KOMPAS100 794   -4,81   -0,60%
  • LQ45 610   -2,29   -0,37%
  • ISSI 211   -0,58   -0,27%
  • IDX30 338   -1,20   -0,35%
  • IDXHIDIV20 427   -0,26   -0,06%
  • IDX80 91   -0,56   -0,61%
  • IDXV30 115   -0,43   -0,37%
  • IDXQ30 110   0,02   0,02%

Bursa Asia Tertekan Selasa (29/9), Yield US Treasury Tembus Level Tertinggi 19 Tahun


Selasa, 29 September 2026 / 09:36 WIB
Bursa Asia Tertekan Selasa (29/9), Yield US Treasury Tembus Level Tertinggi 19 Tahun
ILUSTRASI. Bursa Asia - China (REUTERS/Jason Lee)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia bergerak tertekan pada perdagangan Selasa (29/9/2026), di tengah lonjakan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah dan kenaikan harga minyak. Investor bersiap menghadapi periode suku bunga yang lebih tinggi dalam jangka waktu lebih panjang.

Tekanan terhadap pasar obligasi global semakin kuat setelah yield US Treasury tenor 10 tahun melonjak menembus 5,27% atau mencapai level tertinggi dalam 19 tahun. Sepanjang September, yield tersebut telah naik hampir 50 basis poin.

Baca Juga: Kisah Rui Pinto, Hacker di Balik Terbongkarnya Kasus Manchester City

Kenaikan yield terjadi seiring penurunan harga obligasi. Aksi jual US Treasury sepanjang bulan ini bahkan menjadi yang terburuk dalam dua tahun terakhir.

Sementara itu, yield US Treasury tenor dua tahun meningkat lebih tajam. Yield yang sensitif terhadap ekspektasi kebijakan moneter tersebut telah naik lebih dari 57 basis poin sepanjang September hingga mendekati level 5%.

Pasar memperkirakan pertumbuhan ekonomi dan inflasi Amerika Serikat (AS) yang masih kuat dapat mendorong Federal Reserve (The Fed) melakukan tiga kali kenaikan suku bunga hingga pertengahan 2027.

Kenaikan yield obligasi pemerintah menjadi perhatian pasar global karena menjadi acuan dalam menentukan imbal hasil berbagai aset berisiko, termasuk saham, sekaligus menjadi referensi untuk suku bunga kredit perumahan dan pembiayaan korporasi.

Suku bunga yang lebih tinggi juga berpotensi meningkatkan beban anggaran pemerintah, perusahaan dan rumah tangga.

Baca Juga: Camp Nou akan Jadi Mesin Uang Barcelona, Targetkan Pendapatan Rp14,3 Triliun

Di AS, indeks Nasdaq yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga turun 0,9% pada perdagangan Senin.

Penurunan tersebut masih relatif terbatas setelah Nvidia mengumumkan tambahan dana US$ 150 miliar untuk program pembelian kembali saham (buyback), yang mendorong harga saham perusahaan semikonduktor tersebut.

Tekanan juga terlihat di pasar obligasi Asia. Obligasi pemerintah Jepang, Korea Selatan dan Australia bergerak melemah, sementara mayoritas bursa saham regional turut terkoreksi.

Head of Fixed Income Fullerton Fund Management Singapore Angus Hui mengatakan, pasar mulai memasuki lingkungan baru dengan tingkat yield obligasi yang lebih tinggi.

"Biaya bunga meningkat sebagai bagian dari anggaran pemerintah di banyak negara maju," ujar Hui dilansir dari Reuters.

Baca Juga: Infantino Buka Keran Dana FIFA, 211 Anggota Bisa Dapat Lebih Banyak

Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap keuangan pemerintah dan membatasi ruang pemulihan pasar obligasi apabila ekonomi global melambat. Karena itu, yield obligasi dinilai sulit kembali ke era ketika suku bunga berada di level yang sangat rendah.

Dari pasar komoditas, harga minyak Brent naik menjadi sekitar US$ 106,60 per barel. Harga minyak masih mendapat dukungan karena belum ada terobosan dalam upaya mengakhiri konflik di Timur Tengah.

Sementara itu, sentimen di sektor teknologi China masih rapuh. Saham teknologi China sebelumnya tertekan setelah AS mengumumkan rencana melarang penggunaan komponen China di pusat data. Kondisi tersebut membuat indeks saham unggulan CSI300 bertahan di sekitar level terendah dalam satu tahun.

Pasar juga mencermati prospektus perusahaan kecerdasan buatan (AI) Anthropic yang menunjukkan besarnya investasi di sektor tersebut.

Anthropic membidik valuasi sekitar US$ 2 triliun, tetapi berencana mengalokasikan hingga US$ 518 miliar untuk komputasi dan infrastruktur guna mendukung pengembangan teknologi AI.

Di pasar valuta asing, pergerakan mata uang relatif stabil pada perdagangan Asia Selasa. Dolar AS masih berada di jalur penguatan secara bulanan.

Baca Juga: Dolar AS Dekati Level Tertinggi 2 Bulan Selasa (29/9) Pagi, Pasar Tunggu Data The Fed

Yen Jepang berada di 157,31 per dolar AS, sementara euro bertahan di US$ 1,1367. Dolar Australia relatif stabil di US$ 0,7012 menjelang keputusan suku bunga Reserve Bank of Australia (RBA) yang telah sepenuhnya diperkirakan pasar.

Pasar juga memperkirakan masih ada satu kenaikan suku bunga RBA berikutnya hingga Februari.

Strategis suku bunga Westpac Damien McColough dan Uma Choudhury mempertanyakan apakah Gubernur RBA akan memberikan sinyal yang cukup hawkish untuk mengonfirmasi ekspektasi pasar, terutama jika keputusan kenaikan suku bunga tidak diambil secara bulat.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×