Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pasar saham Asia melemah pada Jumat (15/5/2026) seiring meningkatnya kekhawatiran inflasi global yang mendorong imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) ke level tertinggi dalam satu tahun terakhir, memicu lonjakan taruhan bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga.
Kondisi ini membuat euforia pasar terhadap reli saham teknologi mulai mereda, meskipun sebelumnya sektor tersebut sempat mencatatkan rekor di Wall Street.
Baca Juga: Taiwan Apresiasi Dukungan AS di Tengah Lanjutan Pembicaraan Trump–Xi
Tekanan Inflasi dan Lonjakan Yield AS
Imbal hasil obligasi AS tenor panjang mengalami kenaikan tajam di seluruh kurva. Yield obligasi 30 tahun menembus 5,06%, level tertinggi sejak Juli 2025, sementara yield tenor 10 tahun naik ke 4,518% dan tenor 2 tahun ke 4,056%.
Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran inflasi yang dipicu lonjakan harga energi, khususnya minyak, serta melemahnya minat investor terhadap lelang obligasi AS.
Serangkaian lelang surat utang AS pekan ini mulai dari tenor 3 tahun hingga 30 tahun juga menunjukkan permintaan yang relatif lemah, memperkuat sinyal rapuhnya sentimen pasar obligasi.
Baca Juga: Jepang Pertimbangkan Ekspor Rudal Anti-Kapal ke Filipina
Pasar Asia Melemah Serempak
Melansir Reuters, Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang turun 1,2% dan menghapus seluruh kenaikan mingguan.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 juga turun 1,2% setelah data menunjukkan inflasi grosir April naik 4,9% laju tercepat dalam tiga tahun yang meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan.
Di Korea Selatan, indeks KOSPI sempat menembus level 8.000 untuk pertama kalinya, namun kemudian terkoreksi dan terakhir turun sekitar 3%.
Sementara itu, indeks saham unggulan China melemah 1% dan Hang Seng Hong Kong turun 0,9%.
Baca Juga: China Ingin Selat Hormuz Dibuka Tanpa Pembatasan
Minyak dan Ketegangan Geopolitik Tekan Sentimen
Harga minyak terus naik di tengah kekhawatiran gangguan pasokan akibat ketidakpastian di Selat Hormuz.
Brent crude tercatat naik 5,7% sepanjang pekan hingga menyentuh sekitar US$107 per barel.
Sentimen juga dipengaruhi minimnya kemajuan dalam pembukaan jalur pelayaran strategis tersebut, di tengah laporan serangan terhadap kapal dan insiden penyitaan kapal di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing turut menjadi fokus pasar, meski belum memberikan kejelasan arah kebijakan ekonomi global.
Baca Juga: AS Mau Seret Raul Castro ke Pengadilan, Ini Dakwaan yang Diajukan
Dolar Menguat, Yen Tertekan
Penguatan dolar AS berlanjut dan diperkirakan mencatat kenaikan mingguan sekitar 1,2%—terbesar dalam dua bulan terakhir.
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed ikut meningkat, dengan probabilitas pasar mencapai sekitar 45%.
Penguatan dolar membuat yen Jepang melemah ke area 158 per dolar AS, sehingga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi intervensi pemerintah Jepang di pasar valuta asing.
Sementara itu, pound sterling turun ke level terendah satu bulan di US$1,3385 setelah tekanan politik di Inggris meningkat pasca pengunduran diri Menteri Kesehatan Wes Streeting.













