kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.602.000   25.000   0,97%
  • USD/IDR 16.846   28,00   0,17%
  • IDX 8.937   11,28   0,13%
  • KOMPAS100 1.229   2,00   0,16%
  • LQ45 868   0,40   0,05%
  • ISSI 324   0,94   0,29%
  • IDX30 440   -0,98   -0,22%
  • IDXHIDIV20 517   -1,78   -0,34%
  • IDX80 137   0,24   0,18%
  • IDXV30 144   -0,01   0,00%
  • IDXQ30 140   -0,81   -0,58%

Dolar Perkasa Jumat (9/1), Bursa Asia Tertekan di Tengah Risiko Tarif Trump


Jumat, 09 Januari 2026 / 09:40 WIB
Dolar Perkasa Jumat (9/1), Bursa Asia Tertekan di Tengah Risiko Tarif Trump
ILUSTRASI. Bursa Asia (REUTERS/Issei Kato)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia bergerak melemah pada perdagangan Jumat (9/1/2026), sementara dolar Amerika Serikat (AS) menguat menjelang rilis data ketenagakerjaan AS yang krusial.

Investor juga bersiap menghadapi putusan Mahkamah Agung AS terkait legalitas tarif global luas yang diberlakukan Presiden Donald Trump, kebijakan yang sempat mengguncang pasar tahun lalu.

Ketegangan geopolitik global yang masih membara turut mendorong harga minyak dan saham-saham sektor pertahanan.

Baca Juga: Laba Kuartalan Uniqlo Melejit 34%, Tahan Gempuran Tarif AS

Perkembangan situasi di Venezuela juga menjadi perhatian pasar setelah pasukan AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam operasi militer di Caracas pada akhir pekan lalu.

Fokus utama pasar hari ini tertuju pada potensi putusan Mahkamah Agung AS terkait tarif. Jika tarif tersebut dinyatakan melanggar hukum, dampaknya bisa menggerus penerimaan pemerintah AS, mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah (Treasury), serta memicu volatilitas baru di pasar keuangan global.

“Putusan Mahkamah Agung adalah faktor paling tak terduga bagi pasar hari ini,” kata Kyle Rodda, analis pasar keuangan senior di Capital.com.

Menurutnya, pembatalan tarif akan menjadi sentimen positif besar bagi pasar.

Namun, Rodda mengingatkan bahwa meski tarif dinyatakan tidak sah, pemerintahan Trump kemungkinan tidak akan serta-merta mencabutnya dan akan mencari cara lain untuk mempertahankan pungutan tersebut.

Untuk sementara, pelaku pasar cenderung menahan diri. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,3% pada awal perdagangan, berada sedikit di bawah level tertinggi sepanjang masa yang dicapai awal pekan ini.

Baca Juga: Jumat Kelabu (9/1): Rupiah dan Won Melemah Paling Dalam Terhadap Dolar AS

Di Jepang, indeks Nikkei 225 justru naik 0,8%, didorong kinerja laba dan proyeksi positif dari Fast Retailing, pemilik merek Uniqlo.

Kontrak berjangka saham Eropa menguat 0,4%. Sementara itu, indeks S&P 500 di Wall Street ditutup stagnan, meski indeks saham dirgantara dan pertahanan mencetak rekor tertinggi baru. Saham-saham pertahanan Eropa juga menyentuh level tertinggi sepanjang masa.

Menanti Laporan Tenaga Kerja AS

Data ekonomi AS pada Kamis menunjukkan permintaan tenaga kerja masih lemah, dengan perusahaan memaksimalkan produktivitas dari tenaga kerja yang ada.

Hal ini meningkatkan perhatian pasar terhadap laporan ketenagakerjaan AS bulan Desember yang dirilis Jumat ini, yang diperkirakan menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja berada dalam fase “tidak banyak perekrutan, tidak banyak PHK”.

Baca Juga: Inflasi China Capai Level Tertinggi 3 Tahun, Tekanan Deflasi Mereda

Survei Reuters memperkirakan nonfarm payrolls AS bertambah 60.000 pekerjaan pada Desember, setelah naik 64.000 pada November.

Pada Oktober, ekonomi AS sempat kehilangan 105.000 pekerjaan, penurunan terbesar dalam hampir lima tahun, terutama akibat program pensiun dini pegawai pemerintah federal.

Pelaku pasar saat ini memperkirakan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini, meski bank sentral AS pada Desember lalu memberi sinyal hanya akan memangkas suku bunga sekali pada 2026. The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan bulan ini.

“Kita membutuhkan kejutan besar ke arah negatif dari data tenaga kerja untuk benar-benar menggerakkan pasar,” ujar Rodda.

Menurutnya, data yang solid akan menenangkan investor, sementara sedikit meleset hanya akan memperbesar peluang pemangkasan suku bunga.

Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun turun tipis ke 4,169% pada awal perdagangan Asia, setelah naik 4,5 basis poin pada sesi sebelumnya.

Indeks dolar AS menguat tipis, bertahan di dekat level tertinggi dalam satu bulan terakhir terhadap mata uang utama.

Baca Juga: Harga Emas Turun Jumat (9/1) Pagi: Dolar AS Menguat dan Menanti Data Ketenagakerjaan

Harga Minyak Naik

Harga minyak melanjutkan kenaikan dan berada di dekat level tertinggi dua pekan terakhir, didorong kekhawatiran pasokan dari Rusia, Irak, dan Iran, serta perkembangan geopolitik di Venezuela.

Dua sumber mengatakan kepada Reuters bahwa sejumlah kedutaan asing di Venezuela mulai mengatur kunjungan pekan depan yang akan melibatkan perwakilan perusahaan minyak AS dan Eropa.

Langkah ini menyusul pengumuman Washington terkait kesepakatan minyak senilai US$2 miliar serta pasokan barang AS ke negara Amerika Selatan tersebut.

Harga minyak Brent naik 0,6% menjadi US$62,36 per barel, sementara WTI AS menguat 0,5% ke US$58,04 per barel.

Selanjutnya: Bank Mega Syariah Catat Lonjakan Transaksi Syariah Card Pada Desember 2025

Menarik Dibaca: Oppo Reno14 Gunakan Layar AMOLED 6.59 Inci yang Hasilkan 1,07 Miliar Warna


Video Terkait



TERBARU

[X]
×