kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.577.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 16.846   28,00   0,17%
  • IDX 8.937   11,28   0,13%
  • KOMPAS100 1.229   2,00   0,16%
  • LQ45 868   0,40   0,05%
  • ISSI 324   0,94   0,29%
  • IDX30 440   -0,98   -0,22%
  • IDXHIDIV20 517   -1,78   -0,34%
  • IDX80 137   0,24   0,18%
  • IDXV30 144   -0,01   0,00%
  • IDXQ30 140   -0,81   -0,58%

Harga Emas Turun Jumat (9/1) Pagi: Dolar AS Menguat dan Menanti Data Ketenagakerjaan


Jumat, 09 Januari 2026 / 09:11 WIB
Harga Emas Turun Jumat (9/1) Pagi: Dolar AS Menguat dan Menanti Data Ketenagakerjaan
ILUSTRASI. METALS-PRECIOUS/GOLD (REUTERS/Hiba Kola)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga emas turun pada perdagangan Jumat (9/1/2026) seiring tekanan dari penyesuaian indeks komoditas dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS).

Pasar juga bersikap hati-hati menjelang rilis data ketenagakerjaan AS, khususnya non-farm payrolls, yang dinilai akan memberi petunjuk arah kebijakan moneter ke depan.

Melansir Reuters, harga emas spot tercatat turun 0,4% ke level US$4.458,10 per ons troi pada pukul 01.26 GMT. Sebelumnya, emas sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di US$4.549,71 per ons troi pada 26 Desember lalu.

Baca Juga: Pembeli Menahan Order, Harga Beras India dan Vietnam Mandek

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari justru naik tipis 0,2% ke US$4.467,60 per ons troi.

Tekanan terhadap harga emas datang dari penguatan dolar AS yang menguat di awal perdagangan Asia.

Pelaku pasar menanti laporan terbaru ketenagakerjaan AS serta mencermati potensi putusan Mahkamah Agung AS terkait penggunaan kewenangan tarif darurat oleh Presiden Donald Trump.

Selain itu, penyesuaian tahunan Bloomberg Commodity Index mulai dilakukan pekan ini.

Rebalancing indeks tersebut bertujuan menyesuaikan bobot komoditas agar selaras dengan kondisi pasar terkini, dan diperkirakan masih akan menekan harga logam mulia dalam jangka pendek.

Baca Juga: Presiden Jerman: AS Sedang Menghancurkan Tatanan Dunia!

Data terbaru menunjukkan klaim pengangguran baru di AS naik secara moderat pekan lalu, di tengah jumlah pemutusan hubungan kerja yang relatif rendah.

Namun, permintaan tenaga kerja masih terlihat lemah karena perusahaan berupaya memaksimalkan produktivitas tenaga kerja yang ada.

Investor saat ini memperkirakan setidaknya dua kali penurunan suku bunga oleh Federal Reserve tahun ini.

Karena itu, perhatian pasar tertuju pada data non-farm payrolls untuk mencari petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter AS.

Di sisi geopolitik, Senat AS telah meloloskan langkah awal untuk membatasi tindakan militer lebih lanjut terhadap Venezuela tanpa persetujuan Kongres.

Meski demikian, Presiden Trump menyatakan bahwa “pengawasan” AS terhadap Venezuela bisa berlangsung selama bertahun-tahun.

Baca Juga: Reliance India Pertimbangkan Beli Minyak Venezuela Jika Diizinkan Amerika

Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, emas cenderung berkinerja baik di lingkungan suku bunga rendah serta saat ketidakpastian geopolitik dan ekonomi meningkat. HSBC bahkan memproyeksikan harga emas berpotensi naik hingga US$5.000 per ons pada paruh pertama 2026, didorong oleh meningkatnya risiko geopolitik dan beban utang global.

Sementara itu, harga logam mulia lainnya juga melemah. Perak spot turun 1,5% ke US$75,71 per ons setelah sempat mencetak rekor tertinggi US$83,62 pada 29 Desember.

Platinum anjlok 2,9% ke US$2.202,50 per ons setelah mencapai puncak rekor US$2.478,50 awal pekan ini. Adapun paladium turun 2,1% ke level US$1.749,25 per ons.

Selanjutnya: IHSG Menguat pada Perdagangan Jumat (9/1) Pagi, MEDC, MDKA, BUMI Top Gainers LQ45

Menarik Dibaca: Bali Jadi Tuan Rumah Maybank Marathon 2026, Pendaftaran Dibuka Februari




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×