Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier melontarkan kritik sangat keras terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump, yang menurutnya berisiko menghancurkan tatanan dunia yang dibangun pascaperang dunia kedua.
Melansir Reuters, berbicara dalam sebuah simposium, Steinmeier memperingatkan bahwa dunia tidak boleh berubah menjadi “sarang perampok” di mana yang tak bermoral mengambil apa pun yang mereka inginkan. Pernyataan ini dipandang merujuk pada tindakan AS belakangan ini, termasuk penggulingan Presiden Venezuela Nicolás Maduro, yang telah memperburuk ketegangan global.
Steinmeier menilai perilaku AS merupakan pemutusan nilai-nilai oleh mitra Jerman yang paling penting, AS, yang ikut membangun tatanan dunia ini. Ini merupakan sebuah kritik keras terhadap pergeseran kebijakan luar negeri yang selama ini dipandang sebagai pilar stabilitas global.
Baca Juga: Reliance India Pertimbangkan Beli Minyak Venezuela Jika Diizinkan Amerika
Ia juga menyebut aneksasi Rusia atas Crimea dan invasi besar-besaran ke Ukraina sebagai momen penting, yang kini diikuti oleh apa yang ia sebut “kerusakan nilai” oleh AS sendiri, memperkuat kekhawatiran bahwa demokrasi global tengah diserang dari berbagai sisi.
Survei terbaru menunjukkan bahwa 76% warga Jerman kini merasa AS bukan mitra yang dapat diandalkan, sementara hanya 15% yang masih percaya pada Amerika, angka terendah dalam sejarah survei sikap publik Jerman.
Tonton: Investor Asal Rusia Mendominasi Pembangunan Apartemen di Bali
Kesimpulan
Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier melempar kritik luar biasa keras kepada Amerika Serikat, menilai kebijakan luar negeri AS di bawah Donald Trump berpotensi mengikis tatanan dunia berbasis aturan dan demokrasi yang telah bertahan sejak perang dunia kedua. Sikap ini mencerminkan kekhawatiran luas di Eropa tentang arah kebijakan global AS, terutama setelah tindakan unilateral terbaru seperti di Venezuela, dan menunjukkan semakin melemahnya kepercayaan sekutu tradisional terhadap Washington di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks.













