kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.590.000   -15.000   -0,58%
  • USD/IDR 17.924   -15,00   -0,08%
  • IDX 6.242   -56,72   -0,90%
  • KOMPAS100 813   -5,85   -0,71%
  • LQ45 621   -2,15   -0,35%
  • ISSI 215   -3,31   -1,52%
  • IDX30 344   -1,09   -0,32%
  • IDXHIDIV20 429   0,02   0,00%
  • IDX80 93   -0,53   -0,57%
  • IDXV30 116   -0,90   -0,76%
  • IDXQ30 111   -0,10   -0,09%

Yield US Treasury 10 Tahun Tembus 5,2%, Tertinggi Sejak 2007


Jumat, 25 September 2026 / 23:00 WIB
Yield US Treasury 10 Tahun Tembus 5,2%, Tertinggi Sejak 2007
ILUSTRASI. Dolar AS (REUTERS/Evgenia Novozhenina)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Imbal hasil (yield) US Treasury kembali melonjak ke level tertinggi dalam beberapa dekade pada Jumat (25/9/2026), meski harga minyak mulai turun.

Investor masih memperkirakan Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga di tengah kekhawatiran inflasi yang belum mereda.

Kenaikan yield obligasi AS terjadi ketika pasar saham masih relatif kuat ditopang optimisme terhadap sektor kecerdasan buatan (AI).

Sementara itu, harga minyak turun sekitar 1% karena investor mempertimbangkan peluang tercapainya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.

Baca Juga: Harga Emas Turun 2,4% Sepekan, The Fed dan Yield Treasury Jadi Pemberat

Namun, penurunan harga minyak belum cukup untuk meredakan tekanan di pasar obligasi. Kekhawatiran bahwa inflasi akan tetap tinggi mendorong yield US Treasury ke level tertinggi sejak krisis keuangan global.

"Meski tanda-tanda kemajuan diplomatik terbaru di Timur Tengah untuk sementara meredakan kekhawatiran geopolitik, pasar masih belum yakin bahwa normalisasi pasokan energi global akan segera terjadi," kata Ian Lyngen, Head of US Rates Strategy di BMO Capital Markets dilansir dari Reuters.

Menurut Lyngen, momentum harian di pasar obligasi masih cenderung negatif meski sempat terjadi penguatan pada perdagangan malam.

Yield US Treasury tenor 10 tahun naik 5,5 basis poin menjadi 5,217% dan sempat menyentuh 5,2297%. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 2007. Yield 10 tahun juga berada di jalur kenaikan mingguan terbesar sejak Mei.

Sementara itu, yield obligasi AS tenor 30 tahun naik 6,32 basis poin menjadi 5,5252%, level tertinggi sejak 2004. Yield tenor panjang tersebut juga menuju kenaikan mingguan terbesar sejak gejolak tarif pada April 2025.

Baca Juga: The Fed Siapkan Aturan Baru, Batas Aset Bank AS Bisa Naik Jadi US$ 1 Triliun

Tekanan inflasi masih menjadi perhatian utama investor. Survei yang dirilis Jumat menunjukkan sentimen konsumen AS turun ke level terendah dalam empat bulan pada September karena kekhawatiran kenaikan inflasi akan menggerus daya beli rumah tangga.

Tekanan yield juga terlihat di pasar obligasi negara lain. Yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun menyentuh 3,121%, level tertinggi sejak 1996.

Lima dari 10 bank sentral negara maju dalam kelompok G10 telah menaikkan suku bunga pada September.

Bank sentral lainnya memberikan sinyal kenaikan suku bunga atau memperingatkan meningkatnya tekanan inflasi.

Baca Juga: Harga Minyak Turun, Selat Hormuz dan Gencatan Senjata AS-Iran Jadi Faktor Penekan

Saham Tetap Tahan Tekanan Obligasi

Meski pasar obligasi mengalami tekanan, pasar saham global masih relatif resilien. Indeks saham global MSCI naik 0,22%, sementara indeks STOXX 600 Eropa menguat 0,31%.

Di Wall Street, Dow Jones Industrial Average naik 0,30%, S&P 500 menguat 0,11% menjadi 7.712,75, sedangkan Nasdaq Composite naik tipis 0,08%.

Optimisme terhadap investasi AI dan harapan membaiknya pasokan energi dari Timur Tengah menjadi penopang pasar saham. Saham global juga berada di jalur mencatat kinerja mingguan terbaik sejak awal Agustus.

Di pasar komoditas, harga minyak turun sekitar 1% setelah investor menimbang kemungkinan gencatan senjata AS-Iran.

Namun, kekhawatiran meningkatnya serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi masih membayangi prospek pasokan minyak dari kawasan tersebut.

Baca Juga: AS-China Capai Kesepakatan Dagang, Detailnya Akan Diungkap Senin (28/9)

Dolar Masih Berpotensi Menguat

Di pasar valuta asing, dolar AS melemah terhadap euro pada Jumat. Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dinilai masih dapat menjaga dolar tetap kuat.

Analis Morgan Stanley yang dipimpin David S. Adams memperkirakan penguatan dolar akan berlanjut hingga akhir 2026 dan memasuki 2027.

Proyeksi tersebut didukung perbedaan suku bunga yang menguntungkan AS, pertumbuhan ekonomi AS yang relatif kuat serta meningkatnya risiko politik di Eropa.

Euro terakhir menguat 0,19% menjadi US$1,1401.

Terhadap yen Jepang, dolar melemah 0,95% menjadi 157,32 yen. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengatakan Presiden AS Donald Trump sempat menyampaikan kekhawatiran mengenai pelemahan yen dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada awal pekan.

Sementara itu, harga emas di pasar spot naik tipis 0,02% menjadi US$4.278,74 per ons troi.

Baca Juga: BASF Dekati Evonik Terkait Rencana Pengambilalihan Perusahaan


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×