Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Amerika Serikat (AS) dijadwalkan mengungkap lebih banyak rincian mengenai hasil negosiasi perdagangan dengan China pada Senin (28/9/2026). Hal tersebut disampaikan Perwakilan Dagang AS (USTR) Jamieson Greer setelah pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Gedung Putih.
Greer mengatakan Washington dan Beijing telah mencapai sejumlah kesepakatan terkait perdagangan barang tertentu. Namun, pertemuan Trump dan Xi pada Kamis (24/9/2026) belum menghasilkan terobosan besar untuk sejumlah isu sensitif dalam hubungan ekonomi kedua negara.
"Kami berada dalam situasi perdagangan yang dikelola ... kami telah mencapai kemajuan, dan kami akan merilis pada hari Senin, saya kira, lebih banyak rincian tentang apa yang telah kami capai selama beberapa minggu terakhir dalam bernegosiasi dengan China," ujar Greer kepada CNBC.
Baca Juga: Empat Liga Top Eropa Desak Reformasi FIFA
Menurut Greer, AS dan China telah menyepakati pengecualian terhadap sejumlah barang utama dari potensi perselisihan perdagangan. AS akan meningkatkan pengiriman produk pertanian dan peralatan medis ke China. Sebagai imbalannya, China akan memasok barang-barang konsumen serta produk lain yang dinilai tidak sensitif.
"Kami sebenarnya telah mencapai kesepakatan dengan China mengenai sejumlah hal ini di berbagai bidang, di mana, Anda tahu, jika kami memiliki sengketa perdagangan di masa depan atau jika ada langkah tarif di masa depan, kami hanya membiarkan barang-barang tersebut berada di luar persoalan," kata Greer.
Perdagangan barang non-sensitif
Kesepakatan tersebut menjadi bagian dari upaya AS dan China untuk mengelola hubungan perdagangan tanpa kembali meningkatkan ketegangan tarif. Sebelumnya, kedua negara telah membahas kemungkinan pengurangan hambatan perdagangan terhadap barang yang dianggap tidak berkaitan dengan kepentingan strategis atau keamanan nasional.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pada pekan ini bahwa Washington dan Beijing juga telah sepakat memperpanjang gencatan perdagangan selama dua bulan. Perpanjangan tersebut memberikan waktu tambahan bagi kedua negara untuk membahas kesepakatan perdagangan yang lebih luas.
Gencatan tarif tersebut sebelumnya dijadwalkan berakhir pada 10 November. Perpanjangan dilakukan setelah Bessent bertemu dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng dalam rangkaian perundingan menjelang pertemuan Trump dan Xi.
Baca Juga: Pesanan Barang Modal AS Melonjak 1,6% pada Agustus, Investasi AI Jadi Pendorong
Chip AI masih menjadi isu sensitif
Meski terdapat kemajuan dalam perdagangan barang non-sensitif, Greer mengatakan pembicaraan terbaru belum mencakup sebagian kecil chip berkualitas tinggi buatan AS yang membutuhkan lisensi ekspor.
"Ini adalah permata mahkota teknologi Amerika. Inilah cara kami tetap unggul dalam perlombaan menuju superinteligensi, atau AI, sehingga pembicaraan tersebut ... sebenarnya tidak berlangsung dalam negosiasi ini," ujar Greer.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa teknologi kecerdasan buatan (AI) dan chip berteknologi tinggi masih berada di luar cakupan utama kesepakatan perdagangan yang sedang dibahas.
AS selama ini memberlakukan pembatasan ekspor terhadap sejumlah teknologi canggih ke China dengan alasan keamanan nasional. Isu teknologi menjadi salah satu bagian paling sensitif dalam hubungan ekonomi kedua negara, bersamaan dengan perdagangan, mineral kritis, dan rantai pasok.














