Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Empat kompetisi sepak bola elite Eropa, yakni Premier League Inggris, Bundesliga Jerman, Serie A Italia, dan LaLiga Spanyol, mendesak reformasi menyeluruh di tubuh FIFA. Mereka menilai para pemangku kepentingan perlu mendapatkan peran yang lebih besar dalam proses pengambilan keputusan federasi sepak bola dunia tersebut.
Desakan itu disampaikan melalui pernyataan bersama pada Jumat (25/9.2026), di tengah meningkatnya sorotan terhadap tata kelola dan kepemimpinan FIFA.
Keempat liga tersebut meminta FIFA memperkuat mekanisme pengawasan dan keseimbangan kekuasaan (checks and balances), memperjelas batas-batas konstitusional, serta memisahkan fungsi regulasi dan komersial organisasi.
Langkah bersama ini menjadi respons terkoordinasi pertama dari empat liga tersebut sejak Presiden FIFA Gianni Infantino membatalkan rencana untuk menghadirkan investasi eksternal ke dalam operasi komersial FIFA.
Rencana tersebut sebelumnya memicu penolakan dari berbagai pihak di dunia sepak bola.
Baca Juga: AS Siap Rilis Rincian Kesepakatan Dagang dengan Tiongkok pada Awal Pekan Depan
"Piala Dunia mungkin menjadi puncak olahraga kami, tetapi fondasi sepak bola dipertahankan setiap pekan, di stadion-stadion yang penuh dan komunitas lokal, oleh para pemain, penggemar, klub, dan liga yang berdedikasi di seluruh dunia," demikian pernyataan bersama keempat liga pada Jumat.
Menurut mereka, fondasi sepak bola dalam beberapa tahun terakhir menghadapi persoalan tata kelola yang mendasar.
"Fondasi sepak bola yang telah berlangsung lama dalam beberapa tahun terakhir telah terancam oleh masalah tata kelola yang mendasar, di mana presiden FIFA secara aktif mempromosikan gagasan-gagasan eksploitatif alih-alih mencegahnya. Dan meskipun para pemangku kepentingan sepak bola pada akhirnya memaksa pembatalan skema FIFA Forward Enterprise, kondisi yang menyebabkan munculnya FFE masih tetap ada," lanjut pernyataan tersebut.
Pernyataan tersebut menambah tekanan terhadap tata kelola FIFA ketika Infantino bersiap menghadapi proses pemilihan kembali sebagai presiden FIFA pada tahun depan. Reuters menyebut FIFA telah dihubungi untuk memberikan tanggapan.
Hubungan FIFA dan Liga Eropa Memanas
Hubungan antara FIFA dan liga-liga top Eropa dalam beberapa tahun terakhir semakin memburuk. Salah satu pemicunya adalah perselisihan mengenai ekspansi kompetisi internasional.
Klub dan liga domestik Eropa berulang kali menyampaikan keberatan terhadap semakin banyaknya kompetisi yang diselenggarakan FIFA. Mereka menilai agenda tersebut dapat meningkatkan beban terhadap pemain sekaligus berpotensi memengaruhi nilai dan daya tarik kompetisi domestik.
Perselisihan ini juga berkaitan dengan meningkatnya jumlah pertandingan internasional yang harus dijalani pemain yang tampil di level klub dan tim nasional.
Baca Juga: Pesanan Barang Modal AS Melonjak 1,6% pada Agustus, Investasi AI Jadi Pendorong
Infantino Usulkan Peninjauan Tata Kelola FIFA
Infantino berupaya merespons kritik tersebut melalui surat kepada Dewan FIFA dan presiden dari 211 asosiasi anggota FIFA pada awal pekan ini.
Dalam surat tersebut, Infantino mengusulkan agar Dewan FIFA mempertimbangkan penunjukan lembaga eksternal independen untuk melakukan peninjauan terhadap kerangka tata kelola FIFA, khususnya terkait berbagai inisiatif strategis utama.
Ia juga mengusulkan konsultasi dengan konfederasi, asosiasi, dan pemangku kepentingan lainnya mengenai penguatan proses pengambilan keputusan. Infantino menyatakan tetap berkomitmen penuh untuk memimpin FIFA.
Namun, usulan tersebut belum sepenuhnya meredakan kritik dari liga-liga Eropa.
"Presiden FIFA kini telah mengakui perlunya reformasi, tetapi tidak cukup jika hanya mengeksplorasi perubahan pada tingkat permukaan dan proses sebagai dampak dari FFE – reformasi tata kelola yang mendasar sangat penting untuk memulihkan batas-batas konstitusional yang jelas di dalam FIFA, termasuk keyakinan bahwa masalah disipliner individu tetap terlindungi secara nyata dari campur tangan politik," kata keempat liga.
Sejumlah federasi sepak bola Eropa juga dengan cepat menanggapi usulan Infantino. Presiden UEFA Aleksander Ceferin bahkan memberikan penilaian keras pada Rabu (23/9).
Meski tidak menyebut nama Infantino secara langsung, pernyataan Ceferin merujuk secara jelas pada proposal untuk menjual hingga 20% kepemilikan atas hak komersial FIFA, termasuk hak yang terkait dengan Piala Dunia, kepada investor swasta.
Rencana tersebut akhirnya dibatalkan pada Juli setelah mendapat penolakan dari UEFA, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), serta konfederasi sepak bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF).
Baca Juga: Thailand Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 2,5% pada 2027, Investasi Jadi Andalan
Empat Liga Eropa Minta Pengawasan Lebih Kuat
Dalam pernyataan bersama tersebut, Premier League, Bundesliga, Serie A, dan LaLiga menyampaikan sejumlah tuntutan terhadap FIFA.
Mereka meminta pemangku kepentingan yang terdampak diberikan peran nyata dalam proses pengambilan keputusan. Selain itu, mereka mendorong pembentukan badan permanen yang mewakili para pemangku kepentingan utama, termasuk asosiasi nasional, liga, klub, serta pemain dari sepak bola pria dan wanita.
Keempat liga juga menyerukan agar keputusan FIFA didasarkan pada bukti serta fungsi regulasi FIFA dilindungi dari kepentingan komersial organisasi.
"Masa depan FIFA penting bagi semua orang yang peduli terhadap sepak bola, karena olahraga kita tidak dapat berkembang secara global jika fondasinya dirusak," kata pernyataan tersebut.
Mereka juga menilai persoalan tata kelola FIFA tidak hanya berkaitan dengan satu individu.
"Masalah tata kelola FIFA jauh melampaui peran satu individu. Pertanyaan yang lebih luas adalah apakah presiden FIFA secara bersamaan seharusnya memiliki kekuasaan regulasi, komersial, dan politik sebesar itu tanpa mekanisme pengawasan dan keseimbangan yang efektif, termasuk persetujuan dari para pemangku kepentingan yang terdampak," ujar keempat liga.
Keempat liga mengingatkan bahwa FIFA sebelumnya telah menjalankan proses reformasi lebih dari satu dekade lalu setelah muncul proses hukum pidana yang melibatkan sejumlah pejabat senior sepak bola.
"Lebih dari satu dekade lalu, setelah proses hukum pidana yang melibatkan pejabat senior sepak bola, proses reformasi FIFA sendiri berupaya mengatasi masalah-masalah ini – namun, sekali lagi, sepak bola telah mengalami salah satu penyalahgunaan kekuasaan terbesar dalam sejarah FIFA," demikian pernyataan tersebut.














