kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.627.000   -1.000   -0,04%
  • USD/IDR 17.876   21,00   0,12%
  • IDX 6.277   -107,68   -1,69%
  • KOMPAS100 821   -13,16   -1,58%
  • LQ45 626   -8,68   -1,37%
  • ISSI 216   -5,69   -2,56%
  • IDX30 347   -5,77   -1,63%
  • IDXHIDIV20 433   -6,98   -1,59%
  • IDX80 94   -1,46   -1,53%
  • IDXV30 119   -2,04   -1,69%
  • IDXQ30 112   -1,71   -1,50%

Farmasi Eropa Desak Investasi Ditingkatkan, Khawatir Kalah dari AS dan China


Selasa, 22 September 2026 / 21:15 WIB
Farmasi Eropa Desak Investasi Ditingkatkan, Khawatir Kalah dari AS dan China
ILUSTRASI. Ilustrasi dokumen (Shutterstock/Shutterstock)


Sumber: Reuters | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - LONDON. Perusahaan-perusahaan farmasi Eropa mendesak peningkatan belanja pemerintah untuk obat-obatan, percepatan uji coba, dan perlindungan kekayaan intelektual. Pada hari Selasa (22/9), mereka memperingatkan bahwa industri farmasi benua tersebut berisiko kalah bersaing dengan Amerika Serikat dan Tiongkok.

Pemerintah negara-negara Eropa yang memiliki keterbatasan anggaran telah lama mendapat tekanan dari kelompok lobi dan perusahaan farmasi untuk meninjau kembali cara mereka menarik, membina, menilai, dan membiayai obat-obatan inovatif agar tidak tertinggal di dunia yang semakin kompetitif.

Para pimpinan dari sembilan perusahaan farmasi—termasuk AstraZeneca, GSK, Novo, Novartis, Roche, dan Sanofi—mendesak Uni Eropa dan negara-negara anggotanya untuk meningkatkan investasi di industri ini. Pimpinan Boehringer Ingelheim, Chiesi, dan Ipsen juga turut menandatangani seruan tersebut.

Baca Juga: Trump Akan Manfaatkan Pidato di PBB untuk Bela Perang Iran

"Alarm peringatan bagi Eropa telah berbunyi... tanpa tindakan segera, sektor-sektor strategis seperti farmasi menghadapi kemunduran yang menyakitkan secara perlahan," ujar mereka dalam surat terbuka yang dipublikasikan di situs web perusahaan masing-masing, sembari menyerukan fleksibilitas fiskal yang lebih besar dalam belanja kesehatan.

"Pemerintah Eropa harus menciptakan kondisi yang menarik investasi untuk obat-obatan generasi mendatang sebelum terlambat."

Para pimpinan tersebut menyatakan bahwa sekitar 40% terapi baru tidak pernah sampai ke tangan pasien Eropa. 

Mereka menambahkan bahwa pangsa blok tersebut dalam penelitian dan pengembangan (litbang) obat global telah turun menjadi 31% dari 43% pada tahun 1990. 

Pangsa uji coba klinis komersialnya juga telah menyusut separuhnya menjadi 9% dalam satu dekade terakhir.

Peringatan dari perusahaan-perusahaan farmasi ini merupakan tanda terbaru adanya frustrasi di tingkat manajemen puncak terkait sistem dan kebijakan Eropa yang bergerak lebih lambat dibandingkan AS dan Tiongkok—negara-negara yang berhasil menarik investasi farmasi bernilai miliaran dolar lebih banyak.

Eropa mengalokasikan sekitar 1% dari PDB untuk sektor farmasi, dibandingkan dengan 2% di Amerika Serikat dan 1,8% di Tiongkok.

Ron Lanton, seorang pengacara bidang kesehatan yang berbasis di Amsterdam, mengatakan bahwa meskipun Eropa masih memiliki kapabilitas ilmiah yang luar biasa, perusahaan-perusahaan kini semakin menyusun rencana dengan mempertimbangkan kebijakan AS yang jauh lebih agresif, kebijakan tersebut telah memaksa perusahaan untuk meninjau kembali keputusan terkait investasi, peluncuran produk, dan penetapan harga.

"Masalah daya saing farmasi Eropa bukan sekadar soal pendanaan litbang. Perusahaan mempertimbangkan seluruh tahapan mulai dari uji coba klinis hingga penggantian biaya (reimbursement) dan akses pasien saat memutuskan ke mana mereka akan menanamkan modal."

Baca Juga: Prancis Gandeng AS Susun Resolusi PBB untuk Buka Kembali Selat Hormuz




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×