Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak dunia turun sekitar 1% pada perdagangan Jumat (25/9/2026), setelah pasar mencermati peluang gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Di sisi lain, kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dari Arab Saudi akibat serangan kelompok Houthi masih membayangi pasar.
Mengutip Reuters, harga minyak Brent turun US$ 1,14 atau 1,1% menjadi US$ 105,46 per barel pada pukul 21.03 WIB. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun US$ 1,05 atau 1,1% menjadi US$ 93,56 per barel.
Dalam sepekan, harga Brent masih mencatat kenaikan sekitar 2%. Sebaliknya, harga WTI turun sekitar 7%.
Baca Juga: Jerman Pangkas Pajak Bensin dan Solar €0,17 per Liter Mulai Oktober
Pasar minyak saat ini merespons perkembangan diplomatik antara AS dan Iran. Para negosiator kedua negara yang bertemu di New York disebut tengah membahas jalan keluar bertahap dari perang.
Menurut sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut, salah satu skenario yang dibahas adalah Iran membuka kembali Selat Hormuz. Sebagai imbalannya, AS akan mencabut blokade ekonomi terhadap Iran.
Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak dunia. Sebelum perang Iran dimulai, sekitar 20% pasokan minyak dunia disebut melewati selat tersebut.
Namun, risiko gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah masih menjadi perhatian. Kepala analis KCM Trade Tim Waterer mengatakan harapan diplomatik membantu meredam dampak dari serangan militer terbaru di kawasan tersebut.
"Harapan diplomatik pada dasarnya membantu harga minyak bertahan dari serangan militer terbaru di Timur Tengah, sehingga harga minyak hanya bergerak sedikit lebih rendah meski terjadi serangan," kata Waterer.
Data awal pelacakan kapal dari Kpler menunjukkan aliran minyak mentah melalui Selat Hormuz mencapai 33,7 juta barel pada pekan yang dimulai 20 September. Angka tersebut masih sejalan dengan tingkat ekspor pada pekan sebelumnya.
Sebanyak 19 kapal tanker tercatat melintas, termasuk 17 kapal tanker jenis Very Large Crude Carrier (VLCC) yang masing-masing mampu mengangkut hingga 2 juta barel minyak.
Sebagian besar kapal tersebut membawa minyak mentah dari Arab Saudi, disusul Irak.
Baca Juga: AS-China Capai Kesepakatan Dagang, Detailnya Akan Diungkap Senin (28/9)
Kondisi ini menunjukkan bahwa meski terjadi ketegangan geopolitik di kawasan, arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz sejauh ini masih berlangsung.
Di sisi lain, rencana pemerintah AS yang mempertimbangkan larangan ekspor solar turut memengaruhi pergerakan harga minyak.
Kebijakan tersebut berpotensi membuat kilang minyak AS mengolah lebih sedikit minyak mentah jika produksi solar mereka harus diserap di pasar domestik. Kondisi ini memperlebar selisih harga antara minyak WTI dan Brent.
Pada Jumat (25/9), premi harga Brent terhadap WTI mencapai level tertinggi sejak Mei untuk hari ketiga berturut-turut.
Perkembangan perang Rusia-Ukraina juga menjadi perhatian pasar minyak.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan AS mengusulkan Uni Emirat Arab (UEA) menjadi tuan rumah pertemuan tiga pihak antara Ukraina dan Rusia. Pertemuan tersebut akan membahas upaya mengakhiri perang yang telah berlangsung sekitar 4,5 tahun.
Di Rusia, serangan drone merusak kilang minyak Novoshakhtinsk dan membuat fasilitas tersebut menghentikan operasinya untuk sementara waktu. Hal tersebut disampaikan Gubernur Rostov Yuri Slyusar.
Serangan drone terhadap kilang minyak Rusia meningkat setelah pembahasan di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York mengenai kemungkinan gencatan senjata yang berkaitan dengan sektor energi.
Jika tercapai kesepakatan untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina, ekspor energi Rusia berpotensi meningkat.
Rusia merupakan anggota OPEC+ dan menjadi salah satu produsen minyak mentah terbesar di dunia. Berdasarkan data energi AS, Rusia menempati posisi ketiga sebagai produsen minyak mentah terbesar pada 2025, setelah AS dan Arab Saudi.
Baca Juga: BASF Dekati Evonik Terkait Rencana Pengambilalihan Perusahaan














