Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - DUBAI. Perdana Menteri Qatar mengunjungi Teheran pada Kamis(27/8/2026) dalam upaya menghidupkan kembali diplomasi yang macet setelah enam bulan konflik berlangsung. Sementara, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Washington saat ini tidak sedang berdialog dengan Iran.
"Kami tidak ingin berbicara dengan mereka. Kami tidak berniat untuk bertemu atau semacamnya," ujar Trump kepada para wartawan di Ruang Oval setelah Gedung Putih menyatakan bahwa kampanye ekonomi AS terhadap Teheran akan terus berlanjut hingga Iran memutuskan untuk melakukan negosiasi yang bermakna.
Operasi tempur besar-besaran telah dihentikan selama beberapa minggu, namun hanya ada sedikit kemajuan menuju kesepakatan damai yang lebih luas atau pembukaan kembali Selat Hormuz, sebuah jalur pelayaran vital.
Enam bulan setelah pasukan AS dan Israel menyerang Iran—yang menewaskan pemimpin tertingginya serta melukai parah putra sekaligus penerusnya—pemerintah Iran berada dalam tekanan ekonomi hebat, namun tetap memegang kekuasaan dan tidak menunjukkan urgensi untuk bernegosiasi.
Baca Juga: Harga Minyak Ditutup Naik 2%: Trump Bikin Hubungan AS-Iran Kembali Panas
Trump, yang menghadapi tekanan politik di dalam negeri akibat kenaikan harga energi menjelang pemilihan umum kongres bulan November, memilih untuk fokus pada sanksi ekonomi; namun, penegakan sanksi secara agresif akan mengharuskan pengambilan tindakan terhadap mitra dagang Iran seperti China dan India.
Di Teheran, Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani mendesak kembalinya upaya diplomasi dalam pembicaraan dengan negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, pada hari Kamis, demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Qatar.
Iran kemudian meminta negara-negara tetangga di kawasan untuk mencegah AS menggunakan wilayah mereka guna melancarkan serangan militer atau ekonomi terhadap Iran, demikian disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi melalui akun Telegram-nya.
Mohsen Rezaei, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, mengatakan kepada Perdana Menteri Qatar bahwa Teheran akan menyerang kepentingan militer dan ekonomi AS jika Washington melakukan "tindakan provokatif" terhadap Iran, menurut laporan media Iran.
Rezaei menyatakan bahwa Amerika Serikat harus mengambil langkah-langkah untuk memenuhi persyaratan Iran sebelum Teheran bersedia membuka kembali Selat Hormuz. Persyaratan tersebut mencakup penghentian blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, pemberian kompensasi, dan pencabutan sanksi.
"Kami tidak memercayai Amerika Serikat; mereka telah berulang kali mengkhianati diplomasi dan perundingan," ujar Rezaei.
Sebuah nota kesepahaman yang dicapai antara Washington dan Teheran pada bulan Juni gagal terlaksana, sebagian karena perbedaan pendapat mengenai masa depan Selat Hormuz—jalur perairan sempit di antara Iran dan Oman yang menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan energi global sebelum perang pecah.
Baca Juga: Negeri Tetangga Ini Akan Bangun Energi Listrik Tenaga Nuklir untuk Pertama Kali
Iran berupaya menguasai selat tersebut dan memungut biaya dari kapal-kapal yang diizinkannya melintas, sementara Washington bersikeras bahwa selat itu harus tetap menjadi jalur pelayaran internasional yang terbuka.
Al Thani menyatakan melalui platform X bahwa ia menekankan pentingnya kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Ia dan Menteri Luar Negeri Iran juga membahas usulan pembentukan koridor pelayaran bersama sementara antara Iran dan Oman di selat tersebut, serta proyek bersama untuk pembersihan ranjau, menurut keterangan Kementerian Luar Negeri Qatar.
Garda Revolusi Iran pada hari Rabu menyatakan bahwa Iran dan Oman telah menyepakati prinsip-prinsip pengaturan lalu lintas di selat tersebut serta pembagian pendapatan, namun seorang pejabat senior Iran kemudian menyebutkan bahwa kedua negara masih merumuskan rincian kesepakatan itu.
Di sisi lain, Iran sedang menyusun daftar persyaratan untuk membuka kembali Selat Hormuz setelah pihak penengah meminta Teheran untuk merincinya, kata Rezaei.
Kapal-kapal akan menggunakan jalur tengah yang telah ditetapkan jika AS memenuhi persyaratan Iran, ujarnya melalui penerjemah dalam sebuah wawancara dengan Al Manar TV.
Sementara itu, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan pada hari Kamis bahwa Trump "tetap membuka segala opsi" terkait Iran.
"Kita telah menjalankan Operasi Epic Fury untuk menghancurkan kekuatan militer mereka. Kini kita memiliki 'Operasi Economic Outcast' untuk menghancurkan perekonomian mereka," ujar Leavitt dalam sebuah wawancara dengan Fox News.
"Saat ini tidak ada negosiasi yang berlangsung, dan situasi ini akan terus berlanjut sampai presiden merasa bahwa mereka mungkin bersedia duduk di meja perundingan secara serius," katanya. "Kami belum melihat hal itu terjadi."
Baca Juga: Pejabat The Fed Soroti Inflasi, Sinyal Kenaikan Suku Bunga Kembali Menguat
Teheran telah hidup di bawah berbagai bentuk sanksi AS sejak revolusi Islam tahun 1979.
Meskipun menderita kerugian militer yang besar, Iran masih memiliki kemampuan rudal dan pesawat nirawak (drone) yang memadai untuk menyerang negara-negara Teluk yang menampung pasukan AS serta mengganggu pelayaran di Selat Hormuz.
Organisasi Maritim Internasional telah melaporkan 70 insiden di selat tersebut sejak 28 Februari yang menewaskan 19 pelaut.
Ribuan orang lainnya telah tewas, sebagian besar di Iran dan Lebanon, sejak AS dan Israel menyerang Iran dengan tujuan yang dinyatakan untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir, membantu rakyat Iran menggulingkan pemerintahan mereka, dan menghancurkan program rudal Teheran.














