Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - ISLAMABAD. Amerika Serikat dan Iran menggelar perundingan tingkat tinggi di Pakistan pada Sabtu, yang menjadi pembicaraan langsung paling signifikan dalam lebih dari setengah abad, di tengah konflik yang masih berlangsung dan ketegangan di kawasan Teluk.
Pertemuan ini berlangsung saat Presiden AS Donald Trump mengklaim militernya telah menenggelamkan kapal penebar ranjau Iran dan mulai “membersihkan” Strait of Hormuz.
“Kami sekarang mulai proses membersihkan Selat Hormuz sebagai bentuk bantuan bagi negara-negara di seluruh dunia,” tulis Trump, seraya menyebut 28 kapal Iran telah dihancurkan.
Baca Juga: India Kerek Pajak Ekspor Diesel dan Avtur Demi Jaga Pasokan Dalam Negeri
Namun, kantor berita Iran Nournews menyebut klaim tersebut sebagai berita palsu, sementara televisi pemerintah Iran menegaskan tidak ada kapal AS yang melintasi selat tersebut.
Selat Hormuz, jalur vital bagi sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair global, menjadi salah satu isu utama dalam perundingan di Islamabad. Jalur ini sebelumnya diblokade Iran, memicu lonjakan harga energi dunia.
Delegasi AS dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance bersama utusan khusus Steve Witkoff dan penasihat Jared Kushner. Mereka bertemu dengan Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi selama sekitar dua jam, menurut sumber Pakistan sebagai mediator.
Delegasi Iran tiba sehari sebelumnya dengan mengenakan pakaian hitam sebagai tanda berkabung atas pemimpin tertinggi sebelumnya, Ali Khamenei, serta korban lain dalam perang enam minggu terakhir.
Meski dialog telah dimulai, posisi kedua pihak masih jauh berbeda. Iran menuntut pencairan aset yang dibekukan di luar negeri, kendali atas Selat Hormuz, pembayaran reparasi perang, serta gencatan senjata yang lebih luas termasuk di Lebanon.
Namun, pejabat AS membantah adanya kesepakatan terkait pencairan aset tersebut. Di sisi lain, tujuan utama Washington adalah memastikan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz serta membatasi program nuklir Iran agar tidak dapat menghasilkan senjata nuklir.
Ketegangan juga diperparah oleh keterlibatan Israel, sekutu AS, yang turut melancarkan serangan sejak awal konflik pada 28 Februari, termasuk terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon yang didukung Iran.
Baca Juga: Trump Klaim AS Bersihkan Selat Hormuz, Kapal Iran Ditenggelamkan
Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, menegaskan bahwa negaranya tetap waspada dalam perundingan. “Kami akan bernegosiasi dengan jari di pelatuk,” ujarnya, menekankan rendahnya tingkat kepercayaan terhadap AS.
Gangguan di Selat Hormuz telah memicu inflasi global dan memperlambat ekonomi dunia, dengan dampak yang diperkirakan berlangsung berbulan-bulan bahkan jika jalur tersebut kembali dibuka.
Meski demikian, data pelayaran menunjukkan tiga supertanker berbendera Liberia dan China berhasil melintasi selat pada Sabtu, menjadi kapal pertama yang keluar dari Teluk sejak gencatan senjata pekan lalu.
Di luar perundingan, serangan masih berlanjut di Lebanon selatan. Media pemerintah Lebanon melaporkan serangan udara Israel, sementara Hizbullah mengklaim melakukan sejumlah operasi militer terhadap posisi Israel.
Pejabat Israel dan Lebanon dijadwalkan menggelar pembicaraan di AS pada Selasa mendatang.
Sementara itu, Islamabad berada dalam pengamanan ketat dengan ribuan personel militer dan paramiliter dikerahkan untuk mengamankan perundingan. Kota berpenduduk lebih dari dua juta jiwa itu praktis dikunci demi kelancaran agenda diplomatik tersebut.













