Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Aset-aset keuangan di Asia melanjutkan penguatan pada perdagangan Senin (15/6/2026) setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir.
Kesepakatan tersebut mendorong penurunan harga minyak dunia dan memunculkan harapan bahwa tekanan inflasi global akan mereda, sehingga mengurangi kebutuhan bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka panjang.
Baca Juga: Taipan Tambang Australia Borong Saham SpaceX Senilai Lebih US$ 1 Miliar
Melansir Reuters, Indeks MSCI Asia Emerging Markets menguat 3,1% dan mencapai level tertinggi dalam lebih dari sepekan. Penguatan dipimpin oleh pasar saham Korea Selatan dan Taiwan yang masing-masing melonjak 5,2% dan 2,8%.
Kesepakatan sementara antara AS dan Iran juga menekan harga minyak mentah ke bawah US$ 80 per barel untuk pertama kalinya sejak Maret 2026.
Penurunan harga energi tersebut menjadi sentimen positif bagi aset-aset negara berkembang yang sebelumnya tertekan oleh lonjakan biaya energi.
"Ini positif untuk aset berisiko, positif bagi mata uang berisiko, dan negatif bagi dolar AS," ujar Market Strategist Westpac, Imre Speizer.
Reli pasar terjadi hampir di seluruh kawasan Asia. Bursa saham Filipina melonjak hingga 7% dan mencatat kinerja intraday terbaik sejak Maret 2020.
Baca Juga: Kapal LNG India Mulai Melintas Selat Hormuz Pasca Kesepakatan Damai AS-Iran
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga melanjutkan penguatan dengan kenaikan hingga 5,6%, sekaligus mencapai level tertinggi sejak 21 Mei 2026.
Penguatan tersebut memperpanjang reli IHSG menjadi sekitar 19% dalam lima sesi perdagangan terakhir sejak Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuannya secara di luar jadwal (off-cycle) pada pekan lalu.
Saham-saham perbankan besar menjadi motor penggerak utama pasar. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) tercatat menguat antara 5,6% hingga 6,8%.
Bursa saham Singapura dan Malaysia juga ikut menguat masing-masing sebesar 1,1% dan 0,4%.
Baca Juga: Bursa Saham Eropa Cetak Rekor Tertinggi Setelah AS-Iran Capai Kesepakatan Perdamaian
Di pasar valuta asing, mata uang Asia turut menguat seiring melemahnya dolar AS. Rupiah menguat lebih dari 1% ke level Rp 17.680 per dolar AS, menjadi posisi terkuat sejak 22 Mei 2026.
Won Korea Selatan sempat menguat ke level 1.503,9 per dolar AS sebelum bergerak di kisaran 1.513,3 pada perdagangan sore hari.
Pelaku pasar menilai kesepakatan AS-Iran dapat mengurangi tekanan terhadap sejumlah bank sentral yang dijadwalkan menggelar rapat kebijakan moneter pekan ini.
Meredanya risiko inflasi akibat harga energi yang lebih rendah dinilai dapat mengurangi urgensi pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.
Pasar saat ini masih menanti keputusan suku bunga di Indonesia dan Filipina, sementara mayoritas ekonom memperkirakan bank sentral Taiwan akan mempertahankan suku bunga acuannya.
Baca Juga: Serangan Rusia Hantam Kyiv, Biara Bersejarah Ukraina Terbakar
Ekonom Barclays yang dipimpin Brian Tan menilai, penurunan harga minyak berpotensi meredakan tekanan inflasi sekaligus mengurangi risiko perlambatan ekonomi yang sebelumnya dipicu lonjakan harga energi.
"Hal ini dapat mendorong bank sentral untuk menunda langkah kebijakan berikutnya dan memberikan waktu lebih banyak untuk mengevaluasi perkembangan ekonomi sebelum melakukan pengetatan lebih lanjut," tulis Barclays dalam risetnya.
Meski demikian, sejumlah analis mengingatkan bahwa tekanan harga akibat konflik yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir masih berpotensi bertahan dalam beberapa waktu ke depan.
Head of Asia Macro Strategy SMBC Jeff Ng menilai, masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa bank sentral di Asia memiliki ruang yang cukup untuk mulai melonggarkan kebijakan moneter.
Baca Juga: Ariana Grande Melarang Gedung Putih Gunakan Lagunya untuk Promosi Kebijakan Trump
"Inflasi kemungkinan tetap berada pada level moderat, tetapi dampak kenaikan harga selama beberapa bulan terakhir masih akan terasa. Karena itu, masih terlalu cepat untuk mengharapkan pelonggaran kebijakan moneter di Asia," ujarnya.
Selain perkembangan di Timur Tengah, perhatian investor pekan ini juga tertuju pada rapat kebijakan Federal Reserve AS yang berlangsung pada 16-17 Juni. Pertemuan tersebut menjadi yang pertama dipimpin Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh.













