kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.623.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 18.032   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.236   49,76   0,80%
  • KOMPAS100 817   5,56   0,69%
  • LQ45 621   2,39   0,39%
  • ISSI 215   1,38   0,65%
  • IDX30 350   1,18   0,34%
  • IDXHIDIV20 430   0,35   0,08%
  • IDX80 93   0,50   0,54%
  • IDXV30 118   0,33   0,28%
  • IDXQ30 112   0,18   0,16%

Obligasi AS Kirim Sinyal The Fed Mungkin Tak Lagi Naikkan Suku Bunga


Jumat, 31 Juli 2026 / 20:32 WIB
Obligasi AS Kirim Sinyal The Fed Mungkin Tak Lagi Naikkan Suku Bunga
ILUSTRASI. Bank Sentral AS (The Fed) (REUTERS/Elizabeth Frantz)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Pergerakan kurva imbal hasil (yield curve) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) menunjukkan perubahan yang tajam setelah bank sentral AS (The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya pada pekan ini.

Kondisi tersebut memunculkan keraguan pasar terhadap komitmen The Fed dalam mengendalikan inflasi.

Baca Juga: ​Harga HP Terancam Naik Lagi, Qualcomm Siapkan Kenaikan Harga Chip Mulai September

Alih-alih bergerak seragam, yield obligasi tenor pendek terus menurun, sementara imbal hasil obligasi tenor panjang justru melonjak. Yield obligasi Treasury tenor 30 tahun bahkan menyentuh level tertinggi dalam 19 tahun.

Analis menilai fenomena tersebut mencerminkan meningkatnya keyakinan pasar bahwa The Fed kemungkinan tidak akan kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat, meski Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bank sentral siap bertindak apabila tekanan inflasi tidak mereda.

Setelah The Fed mempertahankan suku bunga, imbal hasil obligasi awalnya turun di seluruh tenor karena investor menyambut absennya kenaikan suku bunga pada pertemuan Juli.

Namun, pola tersebut kemudian berubah. Yield obligasi tenor pendek terus turun, sedangkan tenor panjang meningkat tajam sehingga kurva imbal hasil menjadi semakin menanjak (steepening).

Baca Juga: Bos CONCACAF Dikabarkan Siap Tantang Gianni Infantino dalam Pemilihan Presiden FIFA

Melansir Reuters, Head of Macro and Investment Grade Strategy CreditSights Zachary Griffiths menyebut, pola tersebut sebagai "twist steepener" dan menilai respons pasar terhadap keputusan The Fed tersebut kurang sehat.

Pergerakan steepening itu berlanjut pada Kamis (30/7), memperlebar selisih imbal hasil antara obligasi tenor dua tahun dengan tenor 10 tahun maupun tenor 30 tahun.

Managing Director Fixed Income Truist Wealth, Chip Hughey, mengatakan perubahan kurva imbal hasil menunjukkan pelaku pasar tidak lagi memperkirakan The Fed akan menjalankan siklus kenaikan suku bunga secara agresif.

"Perubahan kurva tersebut menunjukkan pasar menilai The Fed tidak akan memulai siklus kenaikan suku bunga yang agresif. Hal itu mungkin baik bagi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menambah ketidakpastian terhadap upaya The Fed memerangi inflasi," ujarnya.

Baca Juga: Data WGC, Minat Investor ASEAN Investasi Emas Batangan dan Koin Emas Tumbuh

Menurut para analis, salah satu alasan The Fed menahan suku bunga adalah karena kondisi keuangan telah mengetat secara signifikan tanpa perlu tambahan kebijakan moneter.

Ketua The Fed Kevin Warsh juga menyampaikan bahwa pasar pada dasarnya telah melakukan sebagian besar pekerjaan bank sentral, dengan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi nominal maupun riil sebagai respons terhadap perkembangan data ekonomi.

Sepanjang Juli, yield Treasury tenor 10 tahun telah naik sekitar 25 basis poin, menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak Maret.

Secara umum, kurva imbal hasil yang semakin menanjak biasanya mencerminkan ekspektasi bahwa suku bunga akan dipertahankan atau bahkan diturunkan di masa mendatang.

Namun kali ini, pola yang terjadi berbeda. Yield obligasi jangka pendek justru turun sementara yield tenor panjang meningkat, menciptakan perbedaan ekspektasi yang tidak biasa.

Analis juga menilai pergerakan tersebut dipicu oleh berkurangnya spekulasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Juli atau memberikan sinyal pengetatan lanjutan setelah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Baca Juga: Bursa Emerging Asia Melonjak Tertinggi Hampir Dua Dekade pada Jumat (31/7)

Head of U.S. Rates Strategy BNP Paribas Guneet Dhingra mengatakan, kurva yang semakin curam menunjukkan sebagian kredibilitas The Fed dalam memerangi inflasi yang sempat terbentuk setelah rapat Juni kini mulai memudar.

Sementara itu, Global Co-Head of Fixed Income Azimut Group Nicolò Bocchin menilai, pasar masih berusaha menyesuaikan diri dengan pendekatan baru The Fed yang memberikan panduan kebijakan (forward guidance) lebih terbatas, sehingga investor lebih banyak memasukkan risiko inflasi ke dalam harga obligasi tenor panjang.

Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada data ketenagakerjaan nonpertanian (nonfarm payrolls) AS periode Juli yang akan dirilis pekan depan.

Menurut Griffiths, apabila data tenaga kerja lebih kuat dari perkiraan, pasar dapat semakin meyakini bahwa The Fed seharusnya sudah menaikkan suku bunga pada pertemuan Juli sehingga tren steepening berpotensi berlanjut.

Sebaliknya, jika data tenaga kerja melemah, kekhawatiran bahwa The Fed tertinggal dalam mengendalikan inflasi dapat mereda dan memicu pembalikan arah pergerakan kurva imbal hasil.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×