Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pertumbuhan lapangan kerja Amerika Serikat (AS) melambat lebih dari perkiraan pada Desember 2025, seiring sikap hati-hati dunia usaha dalam merekrut tenaga kerja di tengah tekanan tarif impor dan meningkatnya investasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Meski demikian, tingkat pengangguran justru turun menjadi 4,4%, memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menahan suku bunga acuannya pada bulan ini.
Departemen Tenaga Kerja AS melalui Bureau of Labor Statistics (BLS) melaporkan nonfarm payrolls hanya bertambah 50.000 pekerjaan pada Desember, setelah naik 56.000 pada November (direvisi turun).
Baca Juga: Trump Kucurkan Dana untuk KPR
Angka tersebut berada di bawah perkiraan ekonom dalam survei Reuters yang memproyeksikan penambahan 60.000 pekerjaan, menyusul laporan awal November sebesar 64.000.
Laporan ketenagakerjaan ini menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih berada dalam kondisi yang kerap disebut ekonom sebagai “no hire, no fire”, yakni perusahaan tidak agresif merekrut, namun juga tidak melakukan pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran.
Kondisi tersebut menegaskan ekonomi AS tengah mengalami ekspansi tanpa penciptaan lapangan kerja yang kuat (jobless expansion).
Padahal, pertumbuhan ekonomi dan produktivitas tenaga kerja AS melonjak pada kuartal III-2025, sebagian didorong oleh lonjakan belanja terkait AI. Namun, momentum pasar tenaga kerja justru melemah.
Sepanjang tahun lalu, pasar tenaga kerja kehilangan daya dorong, yang oleh sejumlah ekonom dikaitkan dengan kebijakan perdagangan dan imigrasi Presiden Donald Trump, yang menekan permintaan sekaligus pasokan tenaga kerja. Perlambatan penciptaan lapangan kerja sebenarnya telah terlihat sejak 2024.
Baca Juga: Ketika Pintu Eksklusif Soho House Tak Lagi Tertutup Rapat
BLS memperkirakan sekitar 911.000 pekerjaan dalam periode 12 bulan hingga Maret 2025 sebelumnya tercatat terlalu tinggi.
Revisi besar ini akan diumumkan secara resmi bulan depan bersamaan dengan laporan ketenagakerjaan Januari 2026.
Kelebihan pencatatan tersebut dikaitkan dengan metode birth-death model, yang digunakan untuk mengestimasi dampak pembukaan dan penutupan usaha terhadap penciptaan lapangan kerja.
Selain laporan Desember, BLS juga merilis revisi tahunan survei rumah tangga untuk lima tahun terakhir.
Tingkat pengangguran dihitung berdasarkan survei ini. Tingkat pengangguran November direvisi turun menjadi 4,5% dari sebelumnya 4,6%.
Baca Juga: Skandal Darurat Militer 2024: Mantan Presiden Korsel Terancam Hukuman Mati
Survei Reuters sebelumnya memperkirakan tingkat pengangguran Desember akan turun ke 4,5%.
Sejumlah ekonom menilai keterbatasan pasokan tenaga kerja telah menahan kenaikan tingkat pengangguran yang lebih tajam.
Mereka memperkirakan ekonomi AS perlu menciptakan sekitar 50.000 hingga 120.000 pekerjaan per bulan untuk mengimbangi pertumbuhan populasi usia kerja.
The Fed sendiri telah memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin pada Desember ke kisaran 3,50%–3,75%, namun para pejabat bank sentral mengindikasikan akan menahan pemangkasan lanjutan untuk sementara waktu guna menilai arah perekonomian.
Dengan faktor tarif dan adopsi AI yang menahan laju perekrutan, para ekonom semakin menilai tantangan pasar tenaga kerja AS bersifat struktural, bukan siklikal.
Kondisi ini membuat kebijakan pemangkasan suku bunga dinilai kurang efektif untuk mendorong penciptaan lapangan kerja.













