Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - LONDON. Selama tiga dekade, Soho House menjual satu hal yang tak bisa dibeli sembarang orang yaitu kemewahan pribadi. Dari sebuah rumah kota di Greek Street, Soho, klub ini tumbuh menjadi simbol gaya hidup kelas dunia, tempat para pebisnis, selebritas, dan pembuat tren saling bertemu di balik pintu yang tidak sembarang orang bisa membukanya.
Tapi kini, status Soho House sedang goyah. Mimpi perusahaan ini kembali jadi perusahaan tertutup jadi tak pasti. Kesepakatan akuisisi senilai US$ 1,8 miliar yang seharusnya mengakhiri perjalanan Soho House sebagai perusahaan terbuka berubah menjadi drama baru.
MCR Hotels, perusahaan perhotelan raksasa asal Amerika Serikat (AS), yang memimpin konsorsium pembeli, mengaku tak sanggup memenuhi komitmen pendanaan US$ 200 juta. Padahal, rencana kembali jadi perusahaan tertutup ini semula diposisikan sebagai jalan keluar dari kehidupan yang tidak pernah benar-benar cocok bagi Soho House, yakni menjadi perusahaan publik.
Sejak menggelar initial public offering (IPO) di New York pada 2021 dengan harga US$ 13,15 per saham, perjalanan Soho House di bursa lebih sering diwarnai kekecewaan ketimbang perayaan. Kesepakatan buyout di harga US$ 9 per saham, meski lebih tinggi 83% dari harga saat ini, justru menjadi pengakuan diam-diam bahwa kejayaan lama sudah berlalu.
Di balik angka-angka tersebut, ada cerita lain yang lebih dramatis, cerita soal merek yang tumbuh terlalu cepat dibanding janjinya.
Baca Juga: Skandal Darurat Militer 2024: Mantan Presiden Korsel Terancam Hukuman Mati
Soho House berkembang dari satu klub menjadi 46 lokasi di seluruh dunia. Tapi klub eksklusif ini kini justru dianggap terlalu ramai, terlalu penuh, dan terlalu umum. Pada 2024, manajemen sampai harus menghentikan sementara penerimaan anggota baru di London, New York, dan Los Angeles, langkah yang hampir terdengar seperti pengakuan bahwa eksklusivitas mereka telah bocor.
Kini, di saat keanggotaan kembali tumbuh dan pendapatan membership naik 14% menjadi US$ 122,7 juta, perusahaan justru dibebani utang lebih dari US$ 700 juta. Soho House tampak seperti seseorang yang masih berpakaian mewah, tetapi mulai gelisah memikirkan tagihan di saku.
Masuknya nama-nama besar seperti Apollo, Goldman Sachs, hingga aktor Ashton Kutcher dalam konsorsium pembeli, seharusnya memberi rasa aman. Bahkan pendiri Nick Jones dan Chairman Ron Burkle sudah siap roll over saham ke entitas baru. Namun satu lubang pendanaan dari MCR cukup untuk membuat seluruh rencana tampak rapuh.
Soho House mungkin masih punya merek yang kuat, masih punya cerita dan anggota yang setia. Tapi kejadian ini memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam, yakni klub paling eksklusif pun tak kebal dari hukum paling sederhana dalam bisnis, yakni tanpa uang tunai, tak ada mimpi yang bisa berjalan.
Dan bagi sebuah merek yang hidup dari citra kemapanan dan kemewahan, goyahnya rencana tersebut bukan sekadar soal transaksi yang batal, melainkan noda bagi cerita yang selama ini mereka jual.
Baca Juga: Perang Pasokan Eksportir Utama: Harga Beras Global Diramal Tetap Rendah













