Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - RAIPUR. Harga beras global diperkirakan akan tetap berada di bawah tekanan pada tahun 2026, karena produsen utama, termasuk India, Thailand, dan Vietnam, bersaing untuk mengirimkan kelebihan pasokan, yang mendorong pembeli untuk menunda pembelian.
Harga beras yang lebih rendah akan menguntungkan konsumen yang sensitif terhadap harga di Afrika dan wilayah lain. Namun kemungkinan akan menekan pendapatan petani yang sudah minim di seluruh Asia, yang menghasilkan hampir 90% beras dunia.
"Eksportir utama seperti India, Thailand, dan Vietnam memiliki surplus, dan pembeli mengetahuinya. Mereka sedang menguji kesabaran penjual dengan menahan pembelian," kata Nitin Gupta, wakil presiden senior di Olam Agri India seperti dikutip Reuters, Jumat (9/1/2026).
Baca Juga: Bursa London Pulih: Glencore dan Harga Minyak Angkat FTSE 100
Harga beras India diperkirakan akan turun US$ 15 hingga US$ 25 per ton pada bulan Maret 2026, karena pasokan meningkat dari panen musim baru, yang diperkirakan akan mencapai rekor, kata Gupta di sela-sela India International Rice Summit.
India adalah eksportir beras terbesar di dunia, menyumbang hampir 40% dari pengiriman global. Harga beras India baru-baru ini sedikit naik dari titik terendah sembilan tahun yang dicapai pada bulan Oktober. Saat ini, negara tersebut menawarkan beras parboiled pecah 5% dengan harga sekitar $355–$360 per ton, sementara beras putih pecah 5% dihargai $350–$355 per ton.
Panen musim baru menambah persediaan yang sudah besar dari musim sebelumnya, mendorong harga beras India di bawah harga yang ditawarkan oleh Thailand dan Vietnam, kata Niraj Kumar, kepala bisnis beras India di Aditya Birla Global Trading.
Persediaan beras India di gudang pemerintah meningkat hampir 12% dari tahun sebelumnya menjadi rekor 57,57 juta metrik ton pada awal Desember setelah lembaga-lembaga milik negara meningkatkan pengadaan hasil panen padi musim baru, menurut data pemerintah.
Produksi beras global diperkirakan mencapai rekor 556,4 juta metrik ton pada tahun 2025/26, naik 1,2% dari tahun sebelumnya, menurut perkiraan dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO).
Importir beras utama seperti Indonesia dan Filipina baru-baru ini memberlakukan pembatasan impor beras, yang meningkatkan persaingan di antara eksportir yang mencari pangsa pasar yang lebih besar di pasar lain, kata Mukesh Jain, presiden Asosiasi Eksportir Beras Chhattisgarh.
Baca Juga: PBB Ramal Pertumbuhan Ekonomi Global Melambat Hingga 2026













