Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - KINSHASA. Pemerintah Republik Demokratik Kongo (Democratic Republic of Congo/DRC) resmi melarang ekspor konsentrat tembaga dan konsentrat kobalt sebagai bagian dari upaya mempercepat hilirisasi industri pertambangan dan meningkatkan nilai tambah dari sumber daya mineral yang dimiliki negara tersebut.
Kebijakan tersebut tertuang dalam peraturan pemerintah baru yang ditinjau Reuters pada Kamis (6/8). Langkah ini menjadi eskalasi besar dalam strategi Kongo untuk mewajibkan pengolahan mineral di dalam negeri sebelum diekspor ke pasar internasional.
Peraturan yang ditandatangani pada 29 Juni oleh Menteri Pertambangan Louis Kabamba Watum, Menteri Perdagangan Luar Negeri Julien Paluku Kahongya, dan Menteri Ekonomi Daniel Mukoko Samba itu secara tegas menyatakan bahwa "ekspor konsentrat tembaga dan konsentrat kobalt dilarang."
Baca Juga: AS Kembalikan US$100 Miliar Tarif Impor yang Dibatalkan Mahkamah Agung
Sebagai produsen kobalt terbesar di dunia sekaligus pemasok tembaga terbesar kedua secara global, Kongo berupaya memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari kekayaan mineralnya melalui pengembangan industri pengolahan domestik.
Selain melarang ekspor konsentrat, pemerintah Kongo juga memperkenalkan rezim pajak baru terhadap produk sampingan pertambangan yang memiliki nilai ekonomi signifikan. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk meningkatkan penerimaan negara dari sektor pertambangan.
Larangan ekspor mulai berlaku segera setelah aturan diterbitkan. Sementara itu, penerapan rezim pajak baru untuk produk sampingan pertambangan diberikan masa transisi selama tiga bulan.
Baca Juga: Perlombaan Bangun Pusat Data AI Kian Memanas di China
Meski demikian, peraturan tersebut juga memberikan ruang bagi Menteri Pertambangan untuk menerbitkan pengecualian ekspor selama satu tahun dalam kondisi yang dianggap "bersifat strategis."
Industri pertambangan Kongo didominasi oleh sejumlah perusahaan tambang besar dunia. Di antaranya adalah perusahaan asal China, CMOC, yang merupakan produsen kobalt terbesar di dunia, serta Glencore, Huayou Cobalt, Zijin Mining, Ivanhoe Mines, dan Eurasian Resources Group.
Kebijakan hilirisasi yang ditempuh Kongo diperkirakan akan memengaruhi rantai pasok global tembaga dan kobalt, dua mineral yang menjadi bahan baku utama dalam produksi baterai kendaraan listrik, elektronik, dan berbagai teknologi energi bersih.
Langkah tersebut juga berpotensi mendorong investasi baru pada fasilitas pemurnian dan pengolahan mineral di dalam negeri.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
