Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – DUBAI. Amerika Serikat (AS) meningkatkan eskalasi serangan terhadap Iran pada Jumat (17/7/2026) dengan menyasar sejumlah jembatan dan bandara. Sebagai balasan, Teheran melancarkan serangan ke pangkalan-pangkalan militer AS di berbagai wilayah Timur Tengah.
Di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi pusat distribusi energi dunia, ketegangan terbaru kembali mengganggu pasokan minyak dan gas dari kawasan Timur Tengah. Marinir AS dilaporkan menaiki sebuah kapal tanker, sementara kapal lain dilaporkan terkena proyektil di perairan tersebut.
Kedua pihak terus menguji batas eskalasi setelah kesepakatan gencatan senjata yang sempat tercapai runtuh pekan lalu. Kondisi ini meningkatkan risiko pecahnya perang skala penuh antara Washington dan Teheran.
Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan udara berskala besar terhadap infrastruktur Iran. Ia juga belum menutup kemungkinan operasi darat di wilayah pesisir maupun pulau-pulau Iran. Sejumlah pejabat AS menyatakan bahwa serangan ke Iran bagian selatan bertujuan memberikan lebih banyak opsi militer bagi Trump.
Namun, langkah tersebut berisiko memicu respons lebih agresif dari Iran, termasuk serangan terhadap infrastruktur negara-negara tetangga atau gangguan lanjutan terhadap pasokan energi melalui aksi sekutu Iran di Yaman terhadap jalur pelayaran di Laut Merah.
Baca Juga: Setelah 15 Tahun, India Siapkan Comeback Formula 1 pada 2028
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) untuk pertama kalinya dalam lebih dari sepekan memasukkan “infrastruktur logistik militer” ke dalam daftar target yang mereka klaim telah dihantam dalam serangan terbaru ke Iran.
Meski demikian, serangan sejauh ini tampaknya masih difokuskan pada wilayah pesisir selatan Iran yang dalam beberapa hari terakhir memang menjadi sasaran utama.
Media pemerintah Iran melaporkan sedikitnya lima jembatan di wilayah selatan telah diserang. Sebanyak tujuh orang dilaporkan tewas akibat serangan terhadap jembatan di pelabuhan Bandar Khamir, yang juga menyebabkan stasiun kereta setempat terkena dampak.
Sebuah bandara di Iranshahr, provinsi yang berbatasan dengan Pakistan, juga dilaporkan menjadi sasaran serangan.
Reuters belum dapat memverifikasi laporan tersebut, termasuk informasi mengenai serangan lain yang menewaskan seorang perempuan dan melukai anaknya di pelabuhan Bandar Abbas.
Perseteruan Memanas di Selat Hormuz
Iran menyatakan telah menyerang pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain, serta sebuah stasiun radar AS di Oman. Ledakan juga terdengar di Doha, ibu kota Qatar, di mana kementerian dalam negeri setempat menyebut seorang anak terluka akibat serpihan ledakan.
Untuk pertama kalinya sejak perang pecah, Iran mengaku meluncurkan serangan ke Suriah dengan menargetkan pangkalan pasukan khusus AS di Tanf. Namun, Suriah menyatakan pasukan AS telah meninggalkan pangkalan tersebut awal tahun ini.
Sumber militer Suriah mengatakan serangan tersebut menghantam area di dekat pangkalan, tetapi tidak menimbulkan kerusakan maupun korban jiwa.
Kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang runtuh sejak 7 Juli lalu, ketika Iran menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz dan AS membalasnya dengan serangan udara.
Pertempuran terbaru kembali melumpuhkan sebagian besar lalu lintas di jalur pelayaran energi terpenting dunia tersebut, mendorong harga minyak melonjak hingga sekitar US$ 85 per barel pekan ini.
Iran telah mengumumkan penutupan Selat Hormuz, sementara Washington kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Dalam insiden terbaru di laut, militer AS menyatakan telah menaiki kapal tanker Wen Yao untuk menegakkan blokade. Foto-foto yang dirilis menunjukkan marinir AS turun dari helikopter ke dek kapal, termasuk seorang personel yang berpose di depan bendera Iran.
Baca Juga: Jersey Final Piala Dunia 1958 Milik Pele Terjual Rp 87 Miliar dalam Sebuah Lelang
Layanan keamanan maritim Inggris, UKMTO, juga melaporkan bahwa sebuah kapal tanker terkena proyektil pada Kamis (16/7/2026) di lepas pantai Oman.
Meski kedua pihak terus saling melancarkan serangan setiap hari, mereka sejauh ini masih menahan diri untuk tidak melampaui batas-batas yang telah terbentuk sejak awal perang. Infrastruktur sipil dan target-target ekonomi utama sebelumnya relatif dihindari karena kekhawatiran akan pembalasan yang lebih luas.
Iran menegaskan akan menyerang infrastruktur sipil di Timur Tengah jika Trump benar-benar merealisasikan ancamannya untuk menghantam fasilitas-fasilitas penting Iran.
Teheran juga memberi sinyal dapat mendorong kelompok Houthi di Yaman untuk menutup Selat Bab al-Mandeb di pintu masuk Laut Merah. Langkah tersebut berpotensi memperburuk krisis energi global karena akan menutup jalur ekspor minyak penting lainnya dari Timur Tengah.
Sejumlah sumber mengatakan kepada Reuters bahwa Iran telah menginstruksikan kelompok Houthi untuk bertindak apabila Washington menyerang infrastruktur Iran.
Lonjakan harga energi akibat konflik ini meningkatkan tekanan politik terhadap Trump untuk segera mengakhiri perang yang tidak populer tersebut. Namun, membiarkan Iran tetap menguasai Selat Hormuz juga berpotensi menjadi pukulan strategis bagi AS, yang selama puluhan tahun berperan sebagai penjamin keamanan utama di kawasan Timur Tengah.
Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Kamis malam (16/7/2026), yang sebagian besar membahas keamanan pemilu, Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat “meraih kemenangan besar di Iran, dan Anda akan segera melihat hasil dari upaya tersebut dalam waktu yang sangat dekat.”













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
