kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.690.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.836   -74,00   -0,41%
  • IDX 6.425   15,24   0,24%
  • KOMPAS100 844   -0,43   -0,05%
  • LQ45 640   -0,56   -0,09%
  • ISSI 223   0,70   0,32%
  • IDX30 359   -0,65   -0,18%
  • IDXHIDIV20 436   -1,77   -0,40%
  • IDX80 96   -0,11   -0,11%
  • IDXV30 120   -0,42   -0,35%
  • IDXQ30 114   -0,55   -0,48%

Ini Daftar Perusahaan AS yang Terdampak Serangan Siber Sepanjang 2026


Senin, 10 Agustus 2026 / 09:57 WIB
Diperbarui Senin, 10 Agustus 2026 / 10:29 WIB
Ini Daftar Perusahaan AS yang Terdampak Serangan Siber Sepanjang 2026
ILUSTRASI. Ilustrasi Hacker (DOK/Shutterstock)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Perusahaan di Amerika Serikat (AS) menghadapi peningkatan serangan siber yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) maupun ransomware.

Serangan tersebut tidak hanya mengancam pencurian data sensitif, tetapi juga mengganggu aktivitas operasional perusahaan.

Gedung Putih pada bulan lalu menyatakan akan membangun koordinasi antara pengembang AI dan operator infrastruktur kritis untuk berbagi informasi mengenai kerentanan keamanan siber yang teridentifikasi oleh sistem AI.

Namun, hingga kini belum ada rincian lebih lanjut mengenai program tersebut.

Baca Juga: Unitree dan Tren Produsen Robot Humanoid China Berlomba IPO

Melansir Reuters Senin (10/8/2026), berikut sejumlah perusahaan AS yang melaporkan atau terdampak insiden siber sepanjang 2026:

Tanggal Perusahaan Detail insiden
26 Januari Nike Kelompok ransomware World Leaks mengklaim telah mempublikasikan 1,4 terabyte data milik Nike. Perusahaan tidak memberikan komentar mengenai detail investigasi maupun kemungkinan pembayaran tebusan.
28 Januari Bumble, Match Group, Crunchbase, Panera Bread Sejumlah perusahaan tersebut dilaporkan menjadi sasaran serangan siber. Panera Bread mengungkap adanya insiden yang melibatkan informasi kontak dan telah melaporkannya kepada pihak berwenang.
24 Februari Wynn Resorts Peretas memperoleh data karyawan. Perusahaan melakukan investigasi setelah pelaku meminta tebusan sekitar US$1,5 juta dalam bentuk bitcoin.
11 Maret Stryker Kelompok peretas yang terkait Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan yang mengganggu pemrosesan pesanan, produksi dan pengiriman secara global. Stryker mengatakan layanan pasien dan produk medis yang terhubung tetap tidak terdampak.
12 Maret Crunchyroll Peretas mengklaim mencuri data pribadi serta 8 juta catatan tiket dukungan pelanggan, termasuk 6,8 juta alamat email unik.
28 Maret Hasbro Perusahaan mainan tersebut menyelidiki insiden keamanan siber yang melibatkan akses tidak sah ke jaringan. Sejumlah sistem dimatikan sementara dan gangguan diperkirakan dapat menunda pemenuhan pesanan selama beberapa pekan.
10 April OpenAI OpenAI menemukan masalah keamanan setelah alat pengembang pihak ketiga, Axios, membuat alur kerja GitHub mengunduh dan menjalankan versi berbahaya dari Axios. OpenAI mengatakan tidak menemukan bukti bahwa data pengguna, sistem, atau kekayaan intelektual terdampak.
13 April Take-Two Interactive/Rockstar Games Kelompok peretas ShinyHunters mengklaim mencuri hampir 80 juta catatan bisnis Rockstar Games melalui celah pada penyedia analitik Anodot. Rockstar mengatakan hanya sejumlah terbatas informasi perusahaan yang tidak material yang diakses.
4 Mei West Pharmaceutical Services Serangan siber yang melibatkan pencurian data dan penguncian sistem mengganggu kegiatan manufaktur serta logistik perusahaan secara global. Sistem kemudian dimatikan sementara sebelum operasi dipulihkan.
11 Mei Instructure/Canvas Serangan yang dikaitkan dengan ShinyHunters mengganggu akses dan mengekspos data siswa serta sekolah dari hampir 9.000 institusi.
21 Mei Blank Rome Kelompok kriminal siber yang menyamar sebagai tim teknologi informasi perusahaan menipu seorang pengacara agar mengunggah sejumlah berkas. Insiden tersebut mengekspos informasi pribadi 57.554 klien.
27 Mei Carnival Serangan rekayasa sosial (social engineering) berhasil mengambil alih akun karyawan dan mengekspos informasi pribadi, termasuk nama, alamat, serta nomor identitas yang diterbitkan pemerintah.
11 Juni Novo Nordisk Pihak tidak berwenang menyalin informasi dari sistem teknologi informasi internal, termasuk data terbatas pasien dalam uji klinis. Sejumlah sistem internal ditutup sementara, tetapi operasi utama tetap berjalan.
15 Juni iRhythm Holdings Pelaku memperoleh data yang berpotensi sensitif, termasuk informasi kepemilikan dan data kesehatan pasien, melalui serangan rekayasa sosial terhadap aplikasi bisnis yang dikelola pihak ketiga.
15 Juni AdaptHealth Pelaku mencuri informasi pasien dan kata sandi penagihan asuransi setelah serangan rekayasa sosial terhadap akun kontraktor pihak ketiga.
17 Juni Fortinet Peneliti menemukan kampanye peretasan berskala besar yang menargetkan perangkat firewall dan VPN Fortinet. Sekitar 75.000 sistem di seluruh dunia disebut terdampak, termasuk perusahaan Fortune 500 dan lembaga pemerintah.
16 Juli Coca-Cola/fairlife Akses tidak sah terhadap sejumlah sistem menyebabkan fairlife menghentikan sementara produksi di AS. Pada 27 Juli, sebagian besar produksi di empat fasilitas telah kembali berjalan.
17 Juli Clover Health Investments Peretas menggunakan rekayasa sosial untuk mengakses tiga akun karyawan dan berpotensi mengekspos informasi pribadi serta informasi kesehatan yang dilindungi.
17 Juli Abbott Laboratories Perusahaan menyelidiki akses tidak sah terhadap sejumlah sistem internal di bisnis diagnostik kanker serta potensi pelanggaran pada portal LabCentral.
7 Agustus Levi Strauss Pihak ketiga yang tidak berwenang memperoleh akses ke sistem perusahaan dan mengambil sejumlah informasi korporasi. Insiden tersebut tidak mengganggu operasional bisnis dan diperkirakan tidak berdampak material.

Baca Juga: Rupiah dan Dolar Taiwan Jadi Mata Uang Asia dengan Penguatan Terbesar Senin (10/8)

Serangan Semakin Menyasar Perusahaan Besar

Serangkaian insiden tersebut menunjukkan bahwa serangan siber semakin menyasar berbagai sektor, mulai dari ritel, kesehatan, teknologi, manufaktur hingga jasa keuangan.

Selain ransomware, metode rekayasa sosial juga menjadi salah satu modus yang banyak digunakan.

Pelaku memanfaatkan manipulasi terhadap karyawan atau akun pihak ketiga untuk memperoleh akses ke sistem dan data perusahaan.

Baca Juga: Perang Ukraina dan Timur Tengah Kuras Persediaan Rudal Patriot, Ini Fakta-faktanya

Pada Juli, puluhan lembaga keuangan dan perusahaan besar AS juga menjadi sasaran kelompok peretas yang mencari tebusan dengan menggunakan panggilan telepon untuk membobol sistem korban, berdasarkan data Google dan informasi intelijen internet yang ditinjau Reuters.

Perkembangan AI turut menambah kompleksitas ancaman. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk membuat serangan phishing yang lebih meyakinkan, mengotomatisasi aktivitas berbahaya, hingga membantu menganalisis data yang berhasil dicuri.

Kondisi ini membuat perusahaan perlu memperkuat keamanan sistem sekaligus meningkatkan kesadaran karyawan terhadap serangan berbasis rekayasa sosial.


Video Terkait



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×