Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperluas sanksi ekonomi terhadap Iran dengan menyasar sektor perkeretaapian dan otomotif, termasuk perusahaan asing yang memasok industri otomotif negara tersebut.
Departemen Keuangan AS pada Kamis (1/10/2026) mengatakan, sanksi terbaru tersebut merupakan bagian dari kampanye ekonomi terhadap Teheran yang bertujuan mengisolasi Iran dan memangkas sumber pendanaan untuk perang, pembangunan rudal, serangan siber serta Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Baca Juga: Pejabat The Fed Lorie Logan Serukan Kenaikan Suku Bunga Setidaknya 50 Bps Lagi
Kebijakan tersebut memperluas tekanan ekonomi AS terhadap Iran dari jalur laut ke sektor transportasi darat. Tekanan ini meningkat setelah blokade laut membuat pengiriman minyak Iran melalui Selat Hormuz terganggu.
Departemen Keuangan AS menyebut blokade terhadap pelabuhan Iran telah mendorong Teheran lebih mengandalkan jaringan kereta api dan kendaraan untuk mengangkut minyak bumi, pupuk, bahan kimia serta berbagai barang lainnya.
Dengan kondisi tersebut, sanksi terbaru AS menyasar jalur alternatif yang digunakan Iran untuk mempertahankan aktivitas ekonominya.
Dalam sektor otomotif, AS menetapkan sanksi terhadap Iran Khodro Company (IKCO) dan SAIPA Iranian Automobile Manufacturing Company (SAIPA).
Departemen Keuangan AS menyebut kedua perusahaan tersebut menguasai lebih dari 90% pasar otomotif domestik Iran.
Baca Juga: Kasus Negreira Dibuka Lagi, Ini 6 Sanksi yang Bisa Diterima Barcelona dari UEFA
Sementara di sektor perkeretaapian, sanksi dikenakan terhadap perusahaan milik negara Islamic Republic of Iran Railway Company yang menyediakan layanan angkutan penumpang dan barang.
Sanksi juga menyasar Raja Passenger Trains Company serta Sherkat-E Rah Ahan-E Khamle-O-Naghle atau Railway Transportation Company, yang disebut Departemen Keuangan AS sebagai salah satu perusahaan angkutan barang swasta terbesar di Iran.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan, kebijakan tersebut secara langsung menyasar pihak-pihak yang dianggap membantu pemerintah Iran dan menjadi dasar bagi AS serta negara mitranya untuk menekan sumber pendapatan Teheran.
"Langkah ini secara langsung menargetkan para pendukung Iran dan meletakkan dasar bagi AS dan mitra kami untuk menguras pendapatan rezim tersebut," kata Bessent.
Tak hanya perusahaan Iran, sanksi terbaru juga mencakup sejumlah perusahaan asing di Indonesia, Uni Emirat Arab (UEA), dan Turki yang memasok kebutuhan industri otomotif Iran.
Baca Juga: UEFA Buka Lagi Kasus Negreira Barcelona, Real Madrid Kirim 50.000 Halaman Dokumen
Perluasan sanksi tersebut juga menimbulkan kekhawatiran terhadap dampaknya bagi masyarakat Iran. Tekanan terhadap berbagai sektor ekonomi dinilai berpotensi meningkatkan beban terhadap aktivitas ekonomi dan mata pencaharian masyarakat.
Brett Erickson, pakar sanksi sekaligus managing principal di Obsidian Risk Advisors, mengatakan tekanan AS kini semakin menyentuh berbagai jalur ekonomi Iran.
"Blokade menekan Iran melalui laut, sanksi semakin mengisolasinya melalui udara, dan kini Washington mempersempit arteri ekonominya melalui darat," ujar Erickson.
Menurut dia, tekanan ekonomi dengan cakupan luas tersebut berpotensi memberikan dampak langsung kepada masyarakat Iran yang menggantungkan kehidupannya pada sektor-sektor yang terdampak sanksi.














