kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.799.000   25.000   0,90%
  • USD/IDR 17.900   47,00   0,26%
  • IDX 6.127   -2,81   -0,05%
  • KOMPAS100 807   -1,47   -0,18%
  • LQ45 611   -9,23   -1,49%
  • ISSI 216   0,35   0,16%
  • IDX30 348   -6,56   -1,85%
  • IDXHIDIV20 426   -11,92   -2,72%
  • IDX80 93   -0,89   -0,95%
  • IDXV30 118   -2,46   -2,04%
  • IDXQ30 112   -2,96   -2,59%

AS Sorot Lonjakan Militer China, Peringatkan Sekutu Asia Kerek Belanja Pertahanan


Sabtu, 30 Mei 2026 / 10:21 WIB
Diperbarui Sabtu, 30 Mei 2026 / 10:22 WIB
AS Sorot Lonjakan Militer China, Peringatkan Sekutu Asia Kerek Belanja Pertahanan
ILUSTRASI. Donald Trump, Pete Hegseth, dan Marco Rubio (REUTERS/Piroschka Van De Wouw)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth melontarkan peringatan keras soal meningkatnya kekuatan militer China, sekaligus mendesak sekutu-sekutu AS di Asia untuk menaikkan belanja pertahanan demi menjaga keseimbangan kawasan Indo-Pasifik.

Berbicara dalam forum keamanan utama kawasan Shangri-La Dialogue di Singapore, Hegseth menyebut laju modernisasi militer China telah memicu kekhawatiran yang beralasan di kawasan. 

Ia menekankan bahwa tidak ada negara yang boleh mendominasi kawasan Asia-Pasifik secara sepihak.

Baca Juga: Jenderal China Dituduh Bocorkan Rahasia Nuklir AS, Apa Motifnya?

"Penting membangun jaringan aliansi yang lebih kuat dan mandiri untuk mencegah agresi," ujarnya, sembari menegaskan bahwa dominasi satu kekuatan di kawasan akan mengganggu stabilitas regional.

Dalam pidatonya, Hegseth juga menekan soal pembagian beban pertahanan. Washington, kata dia, menginginkan sekutu Asia meningkatkan anggaran pertahanan hingga sekitar 3,5% dari PDB. 

Ia menegaskan era ketergantungan penuh pada AS sudah berakhir.

"Ini bukan lagi zamannya AS mensubsidi keamanan negara-negara kaya. Kita butuh mitra, bukan pihak yang bergantung," tegasnya, dengan menyoroti pentingnya kontribusi nyata dari para sekutu.

Meski demikian, ia menyebut hubungan militer AS–China saat ini relatif lebih stabil dibanding beberapa tahun terakhir, dengan komunikasi militer yang lebih rutin untuk meredam ketegangan.

Baca Juga: Kapal Induk China Melintasi Selat Taiwan, Ketegangan Kawasan Kian Meningkat

Terkait isu sensitif Taiwan, Hegseth menegaskan keputusan akhir penjualan senjata tetap berada di tangan Presiden AS Donald Trump. 

Ia merespons kekhawatiran soal potensi gangguan pasokan senjata dengan menyatakan stok militer AS masih dalam kondisi aman.

Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa kebijakan Washington terhadap Taiwan tidak mengalami perubahan mendasar, meski dinamika hubungan AS–China terus berfluktuasi.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×