kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.045.000   -77.000   -2,47%
  • USD/IDR 16.945   43,00   0,25%
  • IDX 7.583   -356,28   -4,49%
  • KOMPAS100 1.057   -54,55   -4,91%
  • LQ45 771   -34,66   -4,30%
  • ISSI 268   -14,75   -5,21%
  • IDX30 410   -17,22   -4,03%
  • IDXHIDIV20 501   -17,54   -3,38%
  • IDX80 119   -6,05   -4,86%
  • IDXV30 136   -5,28   -3,75%
  • IDXQ30 132   -5,07   -3,70%

Bank Dunia Ungkap Proyeksi: Separuh Negara Maju Untung, Negara Berkembang Stagnan


Rabu, 14 Januari 2026 / 09:25 WIB
Bank Dunia Ungkap Proyeksi: Separuh Negara Maju Untung, Negara Berkembang Stagnan
ILUSTRASI. Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan global stabil di 2,6% (2026), didorong AS dan perdagangan. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Perekonomian global dinilai masih cukup tangguh meskipun dibayangi ketegangan perdagangan dan ketidakpastian kebijakan. 

Mengutip laman worldbank.org, dalam laporan Global Economic Prospects terbaru, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia relatif stabil dalam dua tahun ke depan, yakni 2,6% pada 2026 dan meningkat menjadi 2,7% pada 2027. 

Angka ini lebih tinggi dibandingkan proyeksi yang dirilis pada Juni lalu, terutama didorong kinerja ekonomi Amerika Serikat yang menyumbang sekitar dua pertiga dari revisi kenaikan tersebut.

Meski demikian, Bank Dunia mengingatkan bahwa jika tren ini berlanjut, dekade 2020-an berpotensi menjadi periode pertumbuhan global terlemah sejak 1960-an. Perlambatan ini memperlebar kesenjangan standar hidup antarnegara. Hingga akhir 2025, hampir seluruh negara maju telah menikmati pendapatan per kapita di atas level pra-pandemi 2019, sementara sekitar seperempat negara berkembang justru masih berada di bawah level tersebut.

Pada 2025, pertumbuhan global ditopang lonjakan perdagangan menjelang perubahan kebijakan serta penyesuaian cepat rantai pasok global. Namun, dorongan ini diperkirakan mereda pada 2026 seiring melemahnya perdagangan dan permintaan domestik. 

Baca Juga: Mata Uang Asia Bergerak Terbatas Rabu (14/1) Pagi, Baht Thailand Sedikit Melemah

Pelonggaran kondisi keuangan global dan ekspansi fiskal di sejumlah negara besar diperkirakan akan meredam perlambatan tersebut. Inflasi global diproyeksikan turun menjadi 2,6% pada 2026, didukung pasar tenaga kerja yang melemah dan harga energi yang lebih rendah, sebelum pertumbuhan kembali menguat pada 2027.

Bank Dunia menilai pertumbuhan ekonomi negara berkembang akan melambat ke 4% pada 2026 dari 4,2% pada 2025, lalu naik tipis menjadi 4,1% pada 2027. Negara berpendapatan rendah diperkirakan tumbuh lebih cepat, rata-rata 5,6% pada 2026–2027, namun laju ini belum cukup untuk mempersempit kesenjangan pendapatan dengan negara maju. 

Tantangan penciptaan lapangan kerja juga semakin besar, mengingat sekitar 1,2 miliar penduduk usia muda di negara berkembang akan memasuki pasar kerja dalam satu dekade ke depan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Bank Dunia menekankan perlunya kebijakan menyeluruh, mulai dari penguatan modal fisik, digital, dan sumber daya manusia, perbaikan iklim usaha, hingga mobilisasi investasi swasta. Selain itu, keberlanjutan fiskal menjadi agenda mendesak di tengah lonjakan utang. 

Tonton: Fleksibilitas Menkeu Purbaya: Cara Baru Hadapi Gejolak Kurs dan Biaya Utang

Bank Dunia menilai aturan fiskal yang dirancang dengan baik dapat membantu menstabilkan utang dan meningkatkan kepercayaan pasar, namun efektivitasnya sangat bergantung pada kredibilitas kebijakan, penegakan aturan, dan komitmen politik pemerintah.


Tag


TERBARU
Kontan Academy
AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026 Mastering Strategic Management for Sustainability

[X]
×