Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa kripto terbesar di dunia Binance, membekukan aset kripto senilai US$ 2,54 miliar atau sekitar US$ 2,54 billion saat menyelidiki dugaan insiden keamanan yang berpotensi melibatkan peretasan.
Sejumlah penerbit stablecoin, termasuk Circle dan Tether, turut membekukan aset yang terkait dengan insiden tersebut.
Salah satu pendiri Binance, Yi He, mengatakan perusahaan akan menanggung seluruh kerugian akibat peretasan tersebut.
Baca Juga: Proyek Generali Stadium untuk AC Milan & Inter Milan Diresmikan, Dibangun Mulai 2028
Binance juga menyebut nilai aset yang dibekukan masih berpotensi bertambah seiring koordinasi dengan aparat penegak hukum, penerbit token, perusahaan intelijen blockchain, serta mitra industri lainnya untuk melacak dan membekukan aset tambahan.
Salah satu pendiri Binance lainnya, Changpeng Zhao, yang kini tidak lagi menjalankan perusahaan, menyebut insiden tersebut tampak seperti aksi peretasan dalam unggahannya di platform X.
Tether menyatakan telah membekukan aset hampir US$ 1,57 miliar yang terkait dengan insiden tersebut. Sementara itu, Circle membekukan aset senilai lebih dari US$ 800 juta.
Binance mengatakan saat ini tengah melakukan pemeriksaan keamanan. Perusahaan akan kembali membuka layanan penarikan dana setelah persoalan tersebut sepenuhnya ditangani.
Binance juga menegaskan dana pengguna tetap aman dan tim internal masih melakukan peninjauan atas insiden tersebut.
Baca Juga: Operator Burger King di Indonesia dan India Pangkas Rugi, Pendapatan Tumbuh 20%
Sebagai langkah pencegahan, Binance untuk sementara menghentikan perdagangan di platform Binance Alpha.
Perusahaan kripto World Liberty Financial, yang memiliki keterkaitan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan keluarganya mengatakan telah bekerja sama dengan kustodian kripto BitGo untuk membekukan dana yang dicuri dalam insiden yang mereka sebut sebagai peretasan Binance.
Yi He menyebut sekitar US$ 27 juta dalam bentuk stablecoin dan token World Liberty senilai sekitar US$ 2 juta telah dibekukan. Perusahaan kripto Ripple juga membekukan dana sekitar US$ 200 juta.
Jack McDonald, Wakil Presiden Senior Stablecoin Ripple, mengatakan perusahaannya terus memantau laporan dugaan eksploitasi keamanan yang melibatkan Binance. Ripple juga membekukan dana terdampak dan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait.
Sementara itu, CEO perusahaan intelijen blockchain Arkham, Miguel Morel, mengatakan data yang tersedia mengindikasikan adanya pencurian aset kripto bernilai miliaran dolar dari Binance oleh pelaku yang belum diketahui. Namun, penyebab pasti insiden tersebut belum dapat dikonfirmasi.
Morel menyebut insiden mulai terjadi sekitar pukul 16.30 waktu Eastern Standard Time (EST) dan tampaknya masih berlangsung.
Baca Juga: MLS Cetak Rekor 1.553 Gol dalam Semusim, Messi Jadi Pemain Paling Subur
Insiden ini menambah daftar kasus pencurian aset kripto yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data peneliti TRM Labs, penyerang mencuri aset kripto senilai US$ 2,9 miliar melalui hampir 150 serangan sepanjang tahun lalu.
Pada September lalu, bursa kripto Bitget juga melaporkan pencurian aset kripto sekitar US$ 350 juta dari platformnya. Rentetan kasus tersebut kembali menyoroti kerentanan industri aset digital terhadap serangan siber.
Binance, yang menyediakan layanan jual beli dan perdagangan aset digital, memiliki lebih dari 300 juta pengguna terdaftar secara global.
Berdasarkan laporan tahunan 2024 perusahaan, Binance mengelola aset kustodian sekitar US$ 160 miliar.
Di sisi lain, Binance.US, bursa kripto terpisah yang beroperasi di Amerika Serikat, menyatakan tidak terdampak insiden keamanan tersebut. Coinbase juga memastikan platformnya tidak terdampak dan terus memantau perkembangan situasi.
Baca Juga: Karhutla Indonesia Rugikan Malaysia Rp35,8 Triliun, Picu 1.700 Kematian Dini
Pada hari yang sama, operator pasar prediksi Polymarket juga sempat menghentikan perdagangan setelah terjadi insiden keamanan yang melibatkan penyedia layanan pihak ketiga.
Perdagangan kemudian kembali dibuka dan perusahaan menyatakan akan mengganti seluruh kerugian trader yang terdampak.














