kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.018   37,00   0,21%
  • IDX 5.877   0,90   0,02%
  • KOMPAS100 763   -1,63   -0,21%
  • LQ45 580   -2,08   -0,36%
  • ISSI 204   0,46   0,23%
  • IDX30 328   -1,10   -0,33%
  • IDXHIDIV20 405   -1,71   -0,42%
  • IDX80 87   -0,23   -0,27%
  • IDXV30 110   -0,38   -0,34%
  • IDXQ30 106   -0,53   -0,50%

Bursa Asia Bergerak Lesu, Investor Menanti Laba Emiten AI dan Arah Suku Bunga The Fed


Senin, 06 Juli 2026 / 12:51 WIB
Bursa Asia Bergerak Lesu, Investor Menanti Laba Emiten AI dan Arah Suku Bunga The Fed
ILUSTRASI. Pasokan minyak global melonjak, harga anjlok, tekanan inflasi mereda. REUTERS/Manami Yamada)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan pasar saham Asia cenderung melemah pada perdagangan Senin (6/7/2026) seiring sikap hati-hati investor menjelang musim laporan keuangan emiten teknologi, khususnya perusahaan yang diuntungkan oleh booming kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Di saat yang sama, harga minyak dunia kembali tertekan akibat prospek peningkatan pasokan global. Kondisi tersebut dinilai dapat membantu meredakan tekanan inflasi sehingga mengurangi kekhawatiran pasar terhadap kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed).

Hingga kini belum ada perkembangan baru dalam pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Meski demikian, lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz tetap berlangsung normal, dengan sekitar 160 kapal dilaporkan melintas sepanjang Senin hingga Sabtu pekan lalu.

Di sisi lain, kelompok produsen minyak OPEC+ menyepakati tambahan kenaikan target produksi sebesar 188.000 barel per hari mulai Agustus. Kebijakan tersebut melanjutkan peningkatan produksi yang telah dilakukan pada Juni dan Juli.

Kenaikan pasokan minyak membuat harga minyak mentah Brent turun 0,2% ke level US$ 71,95 per barel, mendekati level terendah dalam empat bulan terakhir. Sementara itu, harga minyak mentah AS (WTI) bergerak stabil di kisaran US$ 68,72 per barel.

Baca Juga: Rusia Gempur Kyiv dengan Rudal dan Drone, 9 Orang Tewas, Puluhan Gedung Rusak

Penurunan harga energi, dikombinasikan dengan laporan ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan, mendorong pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.

Kontrak berjangka kini mencerminkan peluang sebesar 78% bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan 29 Juli mendatang.

Pelaku pasar kini menantikan risalah rapat terakhir The Fed yang akan dirilis pada Rabu (8/7). Dokumen tersebut diperkirakan memberikan gambaran mengenai sikap sebagian pejabat bank sentral yang cenderung lebih hawkish, meskipun pembahasan tersebut dilakukan sebelum harga minyak mengalami penurunan tajam.

"Bahkan jika sebelumnya Anda menganggap ada risiko The Fed akan segera menaikkan suku bunga, saya rasa setidaknya kita aman selama satu bulan ke depan," ujar Kepala Riset ANZ, Richard Yetsenga.

Ia menambahkan, "Secara keseluruhan, pandangan kami tetap bahwa The Fed tidak akan mengambil tindakan. Namun, inflasi berdasarkan ukuran yang paling diperhatikan The Fed sudah berada di atas target selama lima tahun terakhir. Ada risiko bahwa The Fed akhirnya kehilangan kesabaran."

Meski demikian, meredanya risiko kenaikan suku bunga pada bulan ini diperkirakan akan mengalihkan perhatian investor ke musim laporan keuangan kuartalan yang segera dimulai. Ledakan investasi di sektor AI diproyeksikan kembali mendorong lonjakan laba perusahaan-perusahaan teknologi.

Pekan ini, perhatian pasar akan tertuju pada laporan keuangan Delta Air Lines dan PepsiCo. Namun, sorotan terbesar diperkirakan datang dari Samsung Electronics yang dijadwalkan merilis panduan kinerja pada Selasa (7/7). Para analis memperkirakan laba perusahaan tersebut melonjak hingga 18 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Produsen Chip Diperkirakan Catat Lonjakan Laba

Samsung Electronics, produsen chip memori terbesar di dunia berdasarkan nilai penjualan, diperkirakan membukukan laba operasional sebesar 86 triliun won atau sekitar US$ 56,35 miliar pada periode April–Juni, berdasarkan estimasi LSEG SmartEstimate.

Baca Juga: Rupiah Ikut Melemah, Dolar Taiwan dan Baht Jadi Mata Uang Asia Tertekan

Pasar saham Korea Selatan yang telah menguat tajam sepanjang tahun mulai mengalami koreksi ringan pekan lalu. Namun secara tahunan, indeks tersebut masih mencatat kenaikan sekitar 90%, didorong tingginya permintaan chip AI dan keterbatasan pasokan yang mengerek harga semikonduktor.

Pada perdagangan Senin, indeks saham Korea Selatan turun 0,8%, sementara indeks Nikkei Jepang melemah 0,4%.

Sementara itu, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,2%, sedangkan indeks saham unggulan China bergerak relatif stabil.

Di Eropa, kontrak berjangka EURO STOXX 50 turun 0,1%, sedangkan futures DAX Jerman dan FTSE Inggris bergerak mendatar.

Sebaliknya, futures indeks S&P 500 naik 0,2% dan futures Nasdaq menguat 0,7%, melanjutkan kenaikan Nasdaq sebesar 2,1% pada pekan sebelumnya.

Investor Pantau Agenda Bank Sentral

Presiden AS Donald Trump dijadwalkan menghadiri pertemuan NATO di Turki pekan ini. Dalam kesempatan tersebut, Trump juga dijadwalkan bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy untuk kembali mendorong upaya mengakhiri perang di Ukraina.

Dari sisi data ekonomi, perhatian pasar pada Senin tertuju pada survei sektor jasa Institute for Supply Management (ISM) AS. Konsensus memperkirakan indeks tersebut sedikit turun ke level 54,0 pada Juni, namun masih menunjukkan ekspansi yang sehat.

Selain itu, sejumlah pejabat bank sentral akan berbicara dalam konferensi Bank Sentral Eropa (ECB), termasuk Gubernur Dewan The Fed Christopher Waller serta Presiden ECB Christine Lagarde.

Presiden Federal Reserve New York John Williams juga dijadwalkan memberikan pidato pada Kamis, sebelum Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan kesaksian di hadapan Komite Jasa Keuangan DPR AS pekan depan.

Di kawasan Asia Pasifik, bank sentral Selandia Baru dijadwalkan menggelar rapat kebijakan pada Rabu. Pasar memperkirakan suku bunga acuan sebesar 2,25% akan dinaikkan 25 basis poin, yang menjadi kenaikan pertama sejak pertengahan 2023.

Baca Juga: Korea Selatan Buka Perdagangan Won 24 Jam, Upaya Tarik Investor Global

Meski para pembuat kebijakan sebelumnya telah memberi sinyal pengetatan moneter, penurunan tajam harga minyak membuka peluang bank sentral mengejutkan pasar dengan mempertahankan suku bunga.

"Meskipun The Fed tetap menahan suku bunga, sektor manufaktur yang masih lemah, ancaman kenaikan harga pangan akibat El Niño, serta pelemahan mata uang domestik membuat para pembuat kebijakan moneter tetap bersikap waspada," kata Kepala Ekonom Asia HSBC, Frederic Neumann.

Menurutnya, Selandia Baru dan Korea Selatan berpeluang menaikkan suku bunga bulan ini. Indonesia juga dinilai memiliki peluang untuk mengambil langkah serupa.

Di pasar valuta asing, indeks dolar AS bergerak stabil di level 100,880 setelah sempat melemah menyusul laporan ketenagakerjaan AS yang mengecewakan pada Juni.

Euro diperdagangkan stabil di level US$ 1,1434, sedikit di atas level terendah dalam 13 bulan terakhir di US$ 1,1325.

Sementara itu, dolar AS menguat 0,3% terhadap yen Jepang menjadi 161,96 yen, mendekati level tertinggi dalam 40 tahun di 162,84 yen. Kondisi tersebut menunjukkan pelaku pasar terus menguji komitmen otoritas Jepang untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing.

Di pasar komoditas, harga emas sedikit melemah ke level US$ 4.166 per ons setelah sebelumnya menguat sekitar 2% sepanjang pekan lalu.




TERBARU

[X]
×