Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Australia bergerak nyaris stagnan pada perdagangan Rabu (21/10/2026).
Kejatuhan saham operator pusat data NEXTDC mengimbangi penguatan saham perbankan setelah perusahaan tersebut memangkas proyeksi kinerja 2027 akibat keterlambatan peningkatan pasokan listrik di fasilitas utamanya di Melbourne.
Melansir Reuters, indeks S&P/ASX 200 turun tipis 0,1% ke level 8.811,60 pada pukul 00.40 GMT, setelah ditutup melemah 0,3% pada perdagangan Selasa (20/10/2026).
Baca Juga: Indeks Nikkei Jepang Menguat 1,56% Rabu (21/10), Saham AI Jadi Pendorong
Saham NEXTDC anjlok hingga 44,8%, berpotensi mencatatkan penurunan harian terdalam sepanjang sejarah perusahaan.
Pelemahan tersebut menghapus lebih dari A$ 3,1 miliar atau sekitar US$ 2,17 miliar dari kapitalisasi pasar perusahaan.
Penurunan saham NEXTDC turut menekan sektor teknologi Australia hingga 5,6%. Kondisi ini juga memunculkan kekhawatiran mengenai kemampuan infrastruktur kelistrikan dalam mengimbangi pertumbuhan permintaan pusat data global yang didorong oleh perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Keterbatasan pasokan listrik menjadi salah satu tantangan bagi ekspansi pusat data. Infrastruktur tersebut membutuhkan kapasitas energi besar untuk menopang operasional komputasi, termasuk pengembangan dan penggunaan teknologi AI.
Di tengah tekanan pada saham teknologi, sektor keuangan yang sensitif terhadap perubahan suku bunga justru menguat 0,3%. Keempat bank besar Australia tercatat bergerak di zona positif.
Baca Juga: Dolar AS Tertekan Rabu (21/10), Dolar Australia Menguat Berkat Sinyal Kenaikan Bunga
Sentimen suku bunga masih menjadi perhatian investor setelah Deputi Gubernur Reserve Bank of Australia (RBA) Andrew Hauser mengatakan kebijakan moneter ketat telah membantu memperlambat perekonomian.
Namun, prospek inflasi justru memburuk sehingga ia belum dapat memastikan apakah suku bunga perlu kembali dinaikkan.
Pasar swap memperkirakan peluang kenaikan suku bunga RBA sebesar 25 basis poin menjadi 4,85% pada November mendatang hampir mencapai 45%. Angka tersebut meningkat dari sekitar 30% pada awal pekan.
Dari sektor energi, saham Woodside Energy sempat turun hingga 1,3%, menjadi penurunan intraday terdalam dalam lebih dari sepekan.
Pelemahan terjadi setelah produsen minyak dan gas independen terbesar di Australia itu memangkas batas atas proyeksi produksi tahunannya.
Baca Juga: Ekspor Jepang Tumbuh 16,7% pada September 2026, Ditopang Permintaan Chip AI
Secara sektoral, saham energi turun 0,5% seiring pelemahan harga minyak mentah Brent. Saham pertambangan juga terkoreksi 0,5% mengikuti penurunan harga tembaga.
Sementara itu, di Selandia Baru, indeks acuan S&P/NZX 50 melemah 0,1% menjadi 13.613,81. Investor menantikan data inflasi kuartal III yang dijadwalkan rilis Kamis (22/10/2026) untuk memperoleh petunjuk mengenai arah kebijakan Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) dalam rapat pada 28 Oktober mendatang.














