kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.565.000   4.000   0,16%
  • USD/IDR 18.063   103,00   0,57%
  • IDX 5.246   -618,08   -10,54%
  • KOMPAS100 671   -90,35   -11,87%
  • LQ45 521   -68,73   -11,65%
  • ISSI 180   -21,27   -10,56%
  • IDX30 292   -36,98   -11,25%
  • IDXHIDIV20 379   -43,38   -10,26%
  • IDX80 77   -10,24   -11,74%
  • IDXV30 105   -11,02   -9,52%
  • IDXQ30 96   -11,74   -10,87%

Bursa Saham India Berpeluang Menguat, Ini Sentimen Pendorongnya


Jumat, 16 Oktober 2026 / 09:51 WIB
Bursa Saham India Berpeluang Menguat, Ini Sentimen Pendorongnya
ILUSTRASI. National Stock Exchange (NSE) - Bursa India (REUTERS/Francis Mascarenhas)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bursa saham India diperkirakan dibuka menguat pada perdagangan Jumat (16/10/2026), melanjutkan pemulihan dari sesi sebelumnya. Sentimen pasar mendapat dukungan dari penurunan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) serta perubahan aturan sesi lelang penutupan oleh regulator pasar modal India.

Kontrak berjangka GIFT Nifty berada di level 23.082 pada pukul 07.52 waktu India. Posisi tersebut mengindikasikan pembukaan positif bagi indeks acuan Nifty 50, yang ditutup pada level 22.997,35 pada perdagangan Kamis (15/10/2026).

Mengutip Reuters, Jumat (16/10/2026), indeks Nifty 50 dan BSE Sensex mencatat kenaikan harian terbesar dalam empat bulan pada perdagangan Kamis. Penguatan tersebut didorong oleh kebangkitan perdagangan saham global yang berkaitan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), serta sentimen positif dari kinerja keuangan perusahaan.

Baca Juga: Perusahaan Israel Diduga Gunakan Iklan Digital untuk Memata-matai Pengguna

Perubahan aturan bursa India dukung sentimen pasar

Regulator pasar modal India, Securities and Exchange Board of India (SEBI), pada Kamis menyatakan akan menggunakan harga rata-rata tertimbang berdasarkan volume perdagangan (volume-weighted average price/VWAP) selama 30 menit terakhir perdagangan reguler untuk penyelesaian kontrak derivatif saham dan indeks yang jatuh tempo.

Kebijakan tersebut membalikkan keputusan sebelumnya yang menggunakan sesi lelang penutupan atau closing auction session (CAS). Perubahan ini dilakukan setelah para pelaku pasar menyampaikan keberatan terhadap aturan tersebut.

Jefferies menilai, kebijakan terbaru berpotensi mengurangi volatilitas pada hari berakhirnya kontrak derivatif yang sebelumnya muncul akibat penerapan CAS. Perubahan ini juga dinilai menguntungkan perusahaan pialang yang volume pesanannya masih berada di bawah tingkat sebelum penerapan CAS.

Dari pasar global, yield obligasi pemerintah AS untuk tenor panjang turun ke level terendah sejak September. Penurunan tersebut dipicu kekhawatiran mengenai perlambatan pertumbuhan sektor AI dan ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya.

Meski demikian, pemulihan pasar saham India diperkirakan masih rentan. Dua analis menilai tingginya harga minyak dan risiko inflasi berpotensi membuat investor tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.

Baca Juga: Houthi Serang Kompleks Istana Presiden Yaman, 5 Orang Tewas dan 16 Terluka

Kontrak berjangka minyak mentah Brent bertahan di kisaran US$ 106 per barel. Pergerakan harga minyak tersebut dipengaruhi oleh kekhawatiran investor terhadap risiko di Timur Tengah, termasuk situasi yang melibatkan Iran, serta kemungkinan langkah AS untuk melonggarkan pembatasan terhadap jaringan kapal tanker yang beroperasi di luar sistem resmi atau shadow fleet.

Investor asing masih melepas saham India

Tekanan terhadap pasar saham India juga datang dari aksi jual investor asing. Berdasarkan data sementara, investor asing menjual saham India senilai 52,85 miliar rupee atau sekitar US$ 555,99 juta pada Kamis.

Sepanjang 2026, investor asing tercatat telah melepas saham India senilai US$ 32,8 miliar.

Di sisi lain, bursa saham Asia bergerak menguat pada awal perdagangan Jumat. Indeks saham Asia naik sekitar 1%, seiring kembalinya minat beli terhadap saham sektor teknologi setelah aksi jual pada Kamis.

Penurunan yield obligasi turut mengurangi tekanan terhadap saham teknologi, yang umumnya sensitif terhadap perubahan suku bunga dan ekspektasi pertumbuhan ekonomi.




TERBARU

[X]
×