Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Agensi periklanan digital asal Israel, Discover-Tech, diduga memata-matai pengguna internet melalui jaringan iklan daring yang luas. Jaringan tersebut digunakan untuk melacak target sekaligus membantu meretas perangkat mereka, menurut laporan dua kelompok peneliti keamanan siber pada Kamis (15/10/2026).
Layanan Discover-Tech memberikan akses kepada perusahaan spyware asal Israel, Candiru, serta sejumlah perusahaan pengawasan lainnya ke berbagai platform periklanan. Platform tersebut antara lain dikelola oleh Google (GOOGL.O), Comcast (CMCSA.O), perusahaan Rusia Yandex, dan sejumlah pihak lainnya.
Temuan tersebut diungkapkan dalam laporan terpisah oleh Citizen Lab, kelompok pemantau keamanan siber asal Kanada, dan Confiant, perusahaan keamanan periklanan yang berbasis di New York.
Laporan itu menunjukkan bahwa industri periklanan daring, yang selama ini menjadi sorotan terkait persoalan privasi, juga dapat dimanfaatkan sebagai saluran untuk menjalankan operasi mata-mata berskala luas.
Baca Juga: Houthi Serang Kompleks Istana Presiden Yaman, 5 Orang Tewas dan 16 Terluka
"Cara kerja periklanan daring saat ini merupakan ancaman keamanan sistemik," kata Wolfie Christl, peneliti senior Citizen Lab, kepada Reuters.
"Ancaman ini berlaku bagi negara, sektor swasta, masyarakat sipil, dan semua pihak lainnya," ujarnya.
Menurut Citizen Lab, iklan daring Discover-Tech, yang kerap mempromosikan produk sehari-hari seperti ponsel dan earbud, menjangkau lebih dari 120.000 situs web dan 75.000 aplikasi melalui berbagai kemitraannya.
Para peneliti mengatakan, pengguna yang mengunjungi situs web atau menggunakan aplikasi yang menampilkan iklan berbahaya tersebut dapat diidentifikasi dan dilacak oleh Discover-Tech. Dalam sejumlah kasus, perusahaan itu juga diduga berupaya mengambil nomor telepon dari sebagian pengguna ponsel pintar.
Bahkan, iklan tersebut hanya perlu dimuat di sebuah situs web agar aktivitas pengintaian dapat berlangsung.
Kedua kelompok peneliti juga menemukan bahwa sebagian iklan digunakan untuk membantu memasang spyware buatan Candiru pada perangkat pengguna. Meski demikian, Confiant menyebut iklan yang dikaitkannya dengan Candiru hanya mencakup sebagian kecil dari keseluruhan iklan yang disebarkan Discover-Tech.
Iklan berbahaya muncul di ratusan jaringan sensitif
Salah satu pendiri Confiant, Jerome Dangu, mengatakan Discover-Tech menayangkan sedikitnya 10 juta iklan per hari di seluruh dunia.
Baca Juga: Malaysia Tak Akan Gugat Indonesia soal Kabut Asap, Pilih Jalur Diplomasi
Selain itu, mekanisme berbagi data yang dikenal sebagai cookie matching memungkinkan perusahaan tersebut melacak pengguna bahkan di luar jangkauan iklannya sendiri.
"Kemungkinan besar ratusan juta orang telah terpapar Discover-Tech," kata Dangu.
Discover-Tech didirikan pada 2020. Namun, perusahaan tersebut tidak menanggapi pesan yang dikirim melalui formulir kontak di situsnya. Pesan melalui LinkedIn serta email yang dikirim kepada CEO Discover-Tech, Dekel Boni, juga tidak mendapat balasan.
Reuters juga tidak berhasil menghubungi pemilik Candiru.
Pada 2021, Departemen Perdagangan Amerika Serikat memasukkan Candiru ke dalam daftar hitam karena diduga memasok spyware yang digunakan untuk menargetkan pejabat pemerintah, jurnalis, aktivis, dan akademisi secara berbahaya.
Citizen Lab mengungkapkan bahwa salah satu spyware Candiru yang memiliki kemampuan canggih dan dikirim melalui iklan Discover-Tech diduga digunakan untuk membobol 45 perangkat berbasis Windows milik stasiun televisi Al Jazeera di Qatar sepanjang 2024 hingga 2025.
Citizen Lab mengatakan, pihaknya dapat mengonfirmasi temuan tersebut setelah Al Jazeera membagikan catatan aktivitas jaringan atau network logs kepada kelompok peneliti itu.
Dalam pernyataannya, Al Jazeera mengatakan pihaknya "mengutuk serangan spyware yang menargetkan sejumlah stafnya" dan sedang mengambil langkah-langkah untuk melindungi karyawan serta sistemnya.
"Pihak yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban," demikian pernyataan Al Jazeera.
Dangu mengatakan iklan berbahaya tersebut muncul di "ratusan jaringan dalam kategori sensitif", termasuk jaringan Pentagon, Badan Energi Atom Internasional (IAEA), dan Mahkamah Pidana Internasional (ICC).
Baca Juga: Tak Hanya Di Indonesia, Polemik Kelulusan Pejabat Pemerintah Juga Terjadi Di AS
Ia juga menyebut sejumlah wilayah, termasuk wilayah Palestina, menjadi sasaran paparan iklan Discover-Tech dalam jumlah yang sangat tinggi.
"Anda mengunjungi hampir semua situs di Palestina, situs mana pun, dan Anda akan menemukan iklan Discover-Tech. Hal itu memberi mereka visibilitas yang sangat menyeluruh terhadap aktivitas digital seluruh negara," ujarnya.
Citizen Lab juga menyatakan memiliki bukti serupa yang menunjukkan iklan berbahaya tersebut ditampilkan kepada pengguna di lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), NATO, Komisi Eropa, serta lebih dari selusin pemerintahan nasional.
Jaringan lain yang menampilkan iklan tersebut mencakup perusahaan-perusahaan di industri semikonduktor dan teknologi, seperti Nvidia (NVDA.O), Sandisk (SNDK.O), Broadcom (AVGO.O), dan Micron (MU.O).
Iklan itu juga ditemukan di sejumlah organisasi media di Meksiko, Israel, dan Eropa yang tidak disebutkan namanya.
Selain mengidentifikasi Candiru dan beberapa penyedia layanan pengawasan lainnya, Citizen Lab memperoleh sejumlah petunjuk mengenai kemungkinan lokasi pengguna Discover-Tech.
Informasi tersebut ditemukan setelah perusahaan itu secara tidak sengaja mengekspos catatan autentikasi ke internet. Catatan tersebut menunjukkan aktivitas login dari alamat protokol internet (IP) di Israel, Eropa, dan kawasan Teluk.
Google dan Comcast menindak Discover-Tech
Discover-Tech kini mulai kehilangan akses ke sejumlah bagian pasar periklanan daring menyusul temuan tersebut.
Google menyatakan telah bekerja sama dengan Citizen Lab dan Confiant dalam penyelidikan tersebut. Perusahaan teknologi itu kemudian mengeluarkan Discover-Tech dari platform periklanannya.
Google menyebut langkah tersebut diambil "karena secara sistematis melanggar kebijakan kami".
IAB Europe, asosiasi tingkat Eropa yang mewakili ekosistem pemasaran dan periklanan digital, mengatakan melalui email bahwa Discover-Tech telah ditangguhkan dari daftar vendor global yang disetujui pada pekan sebelumnya. Penangguhan dilakukan setelah audit menemukan pelanggaran kebijakan.
Baca Juga: Harga Emas Naik 1,3%, Investor Menanti Data PPI dan Penjualan Ritel AS
Anak usaha teknologi periklanan Comcast, Beeswax, juga menghapus Discover-Tech dari platformnya.
Comcast menyatakan tindakan itu dilakukan "menyusul aktivitas baru-baru ini". Sementara itu, Yandex tidak menanggapi permintaan komentar dari Reuters.
Pengawasan melalui iklan menjadi ancaman keamanan nasional
Penggunaan teknologi periklanan untuk menjalankan pengawasan semakin dipandang sebagai ancaman terhadap keamanan nasional.
Pada awal 2026, Pentagon menyatakan telah menerima laporan bahwa personel militer Amerika Serikat yang ditempatkan di zona konflik diduga menjadi sasaran melalui data lokasi yang dikumpulkan oleh perusahaan teknologi periklanan dan pialang data atau data brokers.
Data tersebut berpotensi mengungkap keberadaan serta pergerakan personel militer.
Setelah laporan itu muncul, sejumlah cabang militer Amerika Serikat menonaktifkan pelacak iklan pada perangkat tertentu.














