kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.980.000   16.000   0,81%
  • USD/IDR 16.488   106,00   0,65%
  • IDX 7.830   -121,60   -1,53%
  • KOMPAS100 1.089   -17,02   -1,54%
  • LQ45 797   -14,45   -1,78%
  • ISSI 265   -3,29   -1,23%
  • IDX30 413   -7,90   -1,88%
  • IDXHIDIV20 481   -7,60   -1,56%
  • IDX80 120   -2,17   -1,77%
  • IDXV30 129   -2,94   -2,22%
  • IDXQ30 134   -2,35   -1,73%

CEO Adidas: Tarif Impor AS Bisa Picu Inflasi dan Kurangi Penjualan


Kamis, 06 Maret 2025 / 14:53 WIB
CEO Adidas: Tarif Impor AS Bisa Picu Inflasi dan Kurangi Penjualan
ILUSTRASI. CEO Adidas Bjorn Gulden bersama Pelari Tigist Assefa dengan sepatu Adizero Adios Pro Evo 1


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - HERZOGENAURACH, Jerman. CEO Adidas Bjorn Gulden menyatakan bahwa tarif impor tambahan dari Amerika Serikat (AS) akan menyebabkan kenaikan harga dan menurunkan daya beli konsumen.

Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya bea masuk yang diterapkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap China, Kanada, dan Meksiko.

Baca Juga: Adidas Memperkirakan Penjualan di Tahun Ini Tumbuh Melambat

Gulden mengungkapkan bahwa Adidas belum memperkirakan dampak potensial dari tarif AS terhadap Vietnam—negara manufaktur utama Adidas—yang juga terancam kenaikan bea masuk oleh Trump.

"Jika tarif 25% diterapkan pada lebih banyak negara, inflasi akan naik dan volume penjualan akan turun," kata Gulden kepada wartawan setelah melaporkan kinerja Perusahaan pada Rabu (5/3).

"Kami tahu itu akan terjadi, tetapi seberapa besar dampaknya? Kami bisa memberikan angka, tetapi satu hal yang pasti: kami harus menyesuaikan diri dengan sangat cepat."

Vietnam saat ini memproduksi 27% dari total produk Adidas, diikuti oleh Indonesia dengan 19% dan China sebesar 16%.

Baca Juga: Penjualan Sepatu Yeezy Berakhir, Kinerja Adidas Makin Susut

Namun, Gulden meremehkan dampak tarif tinggi AS terhadap produk buatan China, dengan menyebut bahwa hanya sebagian kecil dari produk Adidas yang dijual di AS berasal dari negara tersebut.

"Kami memiliki kurang dari 5% volume produk yang masuk ke AS yang diproduksi di China," ujarnya.




TERBARU

[X]
×