Reporter: Dupla Kartini, Bloomberg | Editor: Dupla Kartini
CHINA. Kecenderungan menguatnya yen atas dollar AS dan euro memacu China melakukan pembelian surat utang Jepang.
Selama Oktober, China melakukan pembelian bersih senilai 262,5 miliar yen atau setara US$ 3,1 miliar. Departemen Keuangan China, hari ini, mengatakan pembelian China senilai 231,9 miliar yen untuk obligasi jangka pendek, dan 30,6 miliar yen pada obligasi jangka panjang.
Negeri Tirai Bambu ini juga menambah kepemilikannya dalam obligasi pemerintah Korea Selatan selama November, mengambil keuntungan dari pelemahan won.
"Dengan risiko depresiasi dolar dan ketidakstabilan saat ini di pasar keuangan dan euro, Cina mungkin akan terus mendiversifikasi portofolionya," kata Satoru Ogasawara, wakil presiden riset ekonomi Credit Suisse Group AG.
Penasihat bank sentral China, Li Daokui mengatakan, pemerintah dapat mempertimbangkan penjualan treasurie demi mencari kompensasi atas kerugian investasi dalam mata uang asing, pasca keputusan AS mengucurkan stimulus tahap keduanya. Kepemilikan negara dalam surat utang AS jatuh 1,3% dalam sembilan bulan pertama tahun ini menjadi US$ 883,5 miliar.
Pada Oktober lalu, Gubernur Bank Sentral Zhou Xiaochuan mengatakan Cina sedang mempertimbangkan alokasi lebih dari US$ 2,65 triliun cadangan devisanya ke dalam mata uang negara berkembang untuk mendongkrak imbal hasil.
Sementara, Ayako Sera, ahli strategi Sumitomo Trust & Banking Co menduga China mungkin bertujuan mencari keuntungan dari mata uang, bukan dari imbal hasil obligasi.
"Sepertinya Cina membeli surat utang Jepang hanya untuk saat ini karena dolar dan euro lemah," ujarnya.













