Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - China kembali membuka impor semen atau sperma sapi dari sejumlah negara pemasok utama, termasuk Australia dan Kanada, setelah perdagangan genetika ternak sempat terhenti selama beberapa tahun.
Namun, pemerintah China kini menerapkan persyaratan ketat, yakni hanya semen dari 10% pejantan dengan kualitas genetika terbaik di negara asal yang dapat diimpor.
Mengutip Reuters, Selasa (27/10/2026), kebijakan ini menjadi bagian dari upaya China meningkatkan produktivitas peternakan, memperbesar produksi daging sapi, serta mendongkrak profitabilitas industri susu.
Baca Juga: Taipan Tembaga China, He Jinbi, Dihukum Seumur Hidup karena Penipuan
Langkah tersebut juga ditujukan untuk menekan ketergantungan China terhadap impor daging sapi dan produk susu yang nilainya terus meningkat.
Impor semen sapi dari Australia kembali dimulai pada April 2026. Selain Australia dan Kanada yang mulai meningkatkan pengiriman, pemasok dari Amerika Serikat (AS) dan Inggris berpotensi memperoleh persetujuan untuk memasuki pasar China.
Sebelumnya, perdagangan genetika ternak China sempat mengalami hambatan akibat pembatasan impor sapi hidup dan semen sapi dari sejumlah negara pada periode 2019–2025.
Kondisi tersebut mengganggu rantai pasok genetika ternak dan bahkan mendorong munculnya praktik penyelundupan semen serta sapi hidup melalui negara-negara tetangga.
Kini, proses pemulihan perdagangan berlangsung dengan pemeriksaan yang lebih ketat. Setiap pengiriman harus melalui peninjauan panel ahli selama lebih dari empat bulan untuk memastikan kualitas genetika memenuhi standar pemerintah China.
Sejumlah pengiriman bahkan hanya memperoleh persetujuan sebagian karena tidak memenuhi persyaratan.
Hao Hongman, manajer perusahaan genetika sapi Beijing World Wide Sires, mengatakan peternak China kini mengincar genetika impor agar sapi dapat tumbuh lebih cepat, mengonsumsi lebih sedikit pakan, serta menghasilkan lebih banyak daging dan susu.
"Secara historis, sapi China dibiakkan untuk membajak sawah, sedangkan ras Barat dikembangkan untuk produksi daging dan susu," kata Hao.
Baca Juga: Cetak 73 Gol Semusim, Harry Kane Akhirnya Sabet Ballon d'Or
Produktivitas ternak jadi perhatian
Kesenjangan produktivitas menjadi salah satu alasan utama China mengimpor genetika sapi dari negara-negara Barat.
Data Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) menunjukkan, bobot karkas sapi potong di China berada di kisaran 150 kilogram, jauh di bawah Amerika Serikat yang mendekati 400 kilogram.
Produktivitas sapi perah China juga masih tertinggal dibandingkan Amerika Serikat. Melalui perbaikan genetika, peternak berharap dapat meningkatkan pertumbuhan ternak, efisiensi pakan, kualitas daging, serta produksi susu.
Kebutuhan tersebut semakin penting seiring perubahan pola konsumsi masyarakat China. Kelompok kelas menengah yang semakin sejahtera mulai meningkatkan konsumsi daging sapi premium, termasuk jenis Angus dan Wagyu, serta produk susu berkualitas tinggi.
Pada 2024, konsumsi daging sapi masyarakat China hampir dua kali lipat dibandingkan satu dekade sebelumnya.
Baca Juga: Cetak 73 Gol Semusim, Harry Kane Akhirnya Sabet Ballon d'Or
Konsumsi produk susu juga meningkat sekitar 30% dalam periode yang sama, menurut data resmi China.
Peningkatan permintaan tersebut ikut mendorong impor daging sapi dan produk susu, seperti krim, keju, serta mentega, hingga mencapai sekitar US$ 25 miliar-US$ 30 miliar per tahun.
China pada akhirnya menargetkan pengembangan genetika ternak berkelas dunia agar dapat mengurangi ketergantungan impor dan beralih menjadi eksportir.
Strategi ini serupa dengan upaya negara tersebut membangun kemampuan domestik di berbagai industri lain.
Namun, Marcus Rees, general manager ABS Global di Australia, menilai pencapaian target tersebut tidak mudah.
Perusahaan genetika internasional, kata dia, akan terus mengembangkan pejantan dengan kualitas lebih tinggi untuk mempertahankan keunggulan genetika mereka.
Baca Juga: Inflasi Jasa Jepang Naik 3,7%, Peluang Kenaikan Suku Bunga BOJ Menguat
Pengiriman mulai meningkat
Pemerintah China telah menetapkan kemandirian genetika ternak sebagai prioritas keamanan nasional sejak 2021.
Pemerintah juga menggelontorkan dana jutaan dolar AS untuk mengembangkan pusat pembibitan lokal hingga 2026.
Meski demikian, pelaku industri menilai kualitas genetika lokal masih tertinggal dari negara-negara pemasok utama.
Rone Lane, CEO Beijing World Wide Sires, mengatakan peternakan besar di China masih membutuhkan genetika impor untuk meningkatkan produktivitas.
Pembatasan perdagangan sebelumnya membuat sebagian peternak mencari pasokan melalui jalur tidak resmi, termasuk dari Mongolia, Kazakhstan, dan Vietnam.
Sejumlah pelaku industri mengatakan permintaan terhadap semen sapi dari AS masih tinggi karena negara tersebut merupakan pemasok dominan di pasar global.
Baca Juga: Brent Bertahan di Atas US$ 115, Serangan ke Arab Saudi Bayangi Pasokan Minyak
Menurut data bea cukai China, hingga akhir Agustus 2026, negara itu telah menerima 92.573 sedotan semen sapi dari Australia dan Kanada dengan nilai sekitar US$ 700.000.
Volume tersebut masih jauh di bawah sekitar 10 juta sedotan per tahun yang diimpor sebelum pembatasan diberlakukan.
Meski demikian, perusahaan pemasok mulai menyiapkan peningkatan pengiriman. ABS Australia memperkirakan dapat memasok sekitar 200.000 sedotan semen sapi ke China dalam setahun mendatang, mencakup ras Wagyu, Angus, Holstein, dan Jersey.
Jumlah tersebut diperkirakan melampaui total pengiriman perusahaan ke seluruh negara lain jika dibandingkan secara individual.
Perusahaan tersebut juga berencana menambah dua hingga tiga pejantan Angus untuk memenuhi permintaan China.
Di antara pejantan yang disiapkan adalah Utopia, sapi Angus unggulan milik ABS Global. Semennya dikumpulkan dua kali seminggu dan sebagian besar diperkirakan digunakan untuk membuahi sapi perah di China, sehingga keturunannya dapat menghasilkan daging dengan kualitas dan produktivitas lebih baik.
Kembalinya China ke pasar semen sapi global membuka peluang bisnis bagi perusahaan genetika ternak internasional.
Namun, persyaratan kualitas yang ketat menunjukkan bahwa peluang tersebut akan lebih banyak dinikmati pemasok dengan teknologi pembibitan dan kualitas genetika yang mampu memenuhi standar pemerintah China.














