kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45863,16   -14,36   -1.64%
  • EMAS920.000 -0,86%
  • RD.SAHAM -1.01%
  • RD.CAMPURAN -0.38%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.08%

Colonial Pipeline tidak berencana membayar tebusan kepada peretas


Kamis, 13 Mei 2021 / 07:17 WIB
Colonial Pipeline tidak berencana membayar tebusan kepada peretas
ILUSTRASI. Krisis bahan bakar di wilayah tenggara AS karena jalur pipa bahan bakar Colonial Pipeline belum berjalan normal

Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Colonial Pipeline tidak berencana untuk membayar tebusan yang diminta oleh para peretas yang telah mengenkripsi datanya. Hal tersebut diungkapkan sumber Reuters pada Rabu (12/5).

Aksi peretasan tersebut telah membuat mendorong penutupan saluran pipa bahan bakar milik perusahaan yang sekarang sudah memasuki hari keenam. Hal tersebut berdampak pada panic buying dan kekurangan bensin di bagian tenggara Amerika Serikat (AS). 

Colonial Pipeline mengatakan, pihaknya mulai membuka kembali jalurnya pada Rabu sore, sebuah proses yang mungkin berlangsung berhari-hari. Perusahaan juga masih menolak berkomentar tentang masalah tebusan.

Colonial Pipeline bekerja sama dengan penegak hukum, Departemen Energi, dan firma keamanan siber AS FireEye untuk mengurangi kerusakan dan memulihkan operasional. 

Jawaban Kolonial dan pemerintah tersebut diawasi dengan ketat setelah salah satu serangan peretasan paling berpengaruh terhadap infrastruktur penting AS setelah peringatan bertahun-tahun.

Presiden Joe Biden mengatakan bahwa Rusia harus memikul tanggung jawab atas gangguan tersebut, karena peretasan datang dari dalam perbatasan-nya.

Serangan ransomware telah meningkat dengan peretas mengenkripsi data dan mencari pembayaran dalam cryptocurrency untuk membukanya. Mereka juga semakin banyak merilis data yang dicuri dan mengancam kecuali mereka dibayar lebih.

Baca Juga: Harga minyak ditutup menguat ke level tertinggi dalam 8 bulan pada Rabu (12/5)

Penyelidik dalam kasus Colonial Pipeline mengatakan, perangkat lunak penyerang didistribusikan oleh geng bernama DarkSide, yang mencakup penutur bahasa Rusia dan menghindari target peretasan di bekas Uni Soviet.

DarkSide sebelumnya mengatakan bahwa mereka tidak bermaksud mencampuri masalah geopolitik dan akan lebih berhati-hati dengan afiliasinya di masa depan.

Pada hari Rabu, kelompok itu mengatakan di situs webnya bahwa mereka merilis data dari tiga korban lagi, termasuk sebuah perusahaan teknologi di Chicago.

Pejabat sejauh ini tidak menemukan hubungan yang signifikan dengan pemerintah Rusia, malah menyimpulkan bahwa perusahaan pipa yang mengirimkan 45% minyak ke East Cost AS itu lumpuh akibat serangan ransomware.

DarkSide memungkinkan "afiliasi" meretas target di tempat lain, lalu menangani negosiasi tebusan dan rilis data.

Dua orang yang terlibat dalam penyelidikan Colonial mengatakan afiliasi dalam kasus ini adalah penjahat Rusia tanpa hubungan khusus dengan pemerintah.

 

Selanjutnya: Serangan pada saluran pipa Colonial picu krisis bensin dan panic buying

 




TERBARU

[X]
×