kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Dokter: Tokoh Oposisi Rusia Alexei Navalny Kemungkinan Diracun


Selasa, 30 Juli 2019 / 07:24 WIB

Dokter: Tokoh Oposisi Rusia Alexei Navalny Kemungkinan Diracun

KONTAN.CO.ID - DW. Dokter pribadi tokoh oposisi Rusia Alexei Navalny, Anastasiya Vasilyeva, mengatakan hari Senin (29/7), kliennya kemungkinan besar diracun.

"Beberapa agen beracun mungkin menjadi alasan penyakit Alexei Navalny," kata Vasilyeva kepada wartawan. Pengacara Navalny, Olga Mikhailova, mendukung anggapan itu dan mengatakan, dia memang "diracun".

Alexei Navalny dilarikan ke rumah sakit hari Minggu (28/7) saat sedang menjalani hukuman penjara 30 hari. Pihak berwenang mengatakan dia memperlihatkan "reaksi alergi" dalam tahanan.

Anastasiya Vasilyeva mengeluh bahwa dia tidak diberi akses menemui Alexei Navalny untuk memeriksanya, dan mengatakan pekerja rumah sakit berperilaku aneh ketika dia mendekati mereka.

Pihak rumah sakit menyatakan, Navalny hanya memperlihatkan gejala gatal-gatal, kata Vasilyeva. "Tapi mengapa berbohong?" lanjutnya dan menambahkan, rumah sakit memutuskan bahwa penyebabnya adalah "kembung biasa dan gatal-gatal".

Seorang resepsionis di rumah sakit Moskow No. 64 mengatakan kepada kantor berita Reuters, Alexei Navalny berada "dalam kondisi baik".

Penangkapan massal

Polisi hari Sabtu (27/7) menangkap lebih dari 1.300 orang pada di Moskow yang berpartisipasi dalam unjuk rasa menuntut demokrasi dan keputusan panitia pemilu. Sebelumnya panitia pemilu memutuskan bahwa beberapa calon independen tidak bisa mengikuti pemilihan komunal mendatang.

Pemerintah Jerman dan beberapa negara Eropa lain menyerukan agar mereka yang ditahan segera dibebaskan, dan mengatakan bahwa tanggapan polisi atas unjuk rasa itu "tidak proporsional". Polisi mengatakan mereka tidak memberi izin untuk unjuk rasa di Moskow, tetapi penyelenggara tetap melanjutkan aksinya.

Alexei Navalny adalah seorang kritikus Presiden Vladimir Putin dan tokoh oposisi paling dikenal di Rusia. Dia sudah sering ditahan karena menggelar aksi protes menentang korupsi dan kebijakan pemerintah yang dianggapnya represif.

Pada 2018 dia berniat maju dalam pemilihan presiden untuk bersaing dengan Vladimir Putin, tetapi gagal setelah pengadilan Rusia melarang dia berpartisipasi setelah dia dijatuhi hukuman pidana karena dakwaan kejahatan keuangan. Navalny menyebut proses pengadilan itu bermotivasi politik.

Kelompok-kelompok hak asasi internasional meminta pihak berwenang Rusia mengakhiri tindakan keras terhadap oposisi. "Semua kandidat yang sah harus diizinkan untuk berpartisipasi, dan Moskow harus menjamin pemilihan umum yang bebas dan adil," kata juru bicara Dewan Eropa Daniel Holtgen.


Sumber : DW.com
Video Pilihan

Tag
TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0003 || diagnostic_api_kanan = 0.0022 || diagnostic_web = 0.2374

Close [X]
×