Sumber: Telegraph | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Nilai dolar Amerika Serikat sedang menuju penurunan tahunan terdalam dalam hampir satu dekade terakhir. Penyebab utamanya adalah perang dagang yang dipicu oleh Donald Trump, yang membuat nilai greenback terus tertekan.
The Telegraph melaporkan, serangan tarif besar-besaran Trump, ditambah persepsi adanya tekanan terhadap independensi bank sentral AS (Federal Reserve), membuat dolar anjlok lebih dari 8% terhadap sekeranjang 10 mata uang utama dunia. Ini menjadi penurunan terbesar sejak 2017.
Di saat yang sama, rubel Rusia justru muncul sebagai mata uang dengan kinerja terbaik sepanjang 2025. Ini merupakan kebangkitan yang mengejutkan bagi ekonomi Rusia yang terdampak perang dan sanksi berat. Dalam 12 bulan terakhir, rubel menguat sekitar 45% terhadap mata uang utama dunia.
Dalam kelompok mata uang G10, pelemahan dolar bervariasi, mulai dari 0,7% terhadap yen Jepang hingga 16,8% terhadap krona Swedia.
Dolar juga melemah 7,1% terhadap pound sterling, mendorong nilai tukar pound naik dari sekitar US$ 1,25 setahun lalu menjadi hampir US$ 1,35 saat ini.
Pelemahan dolar semakin nyata pada April lalu, ketika nilainya turun 4% hanya dalam satu bulan, tak lama setelah kebijakan tarif Trump yang dijuluki sebagai “hari pembebasan” mengguncang pasar keuangan global.
Pasar juga terguncang oleh sinyal bahwa Trump bisa mengganti pimpinan The Fed dengan sosok yang lebih mendukung penurunan suku bunga.
Baca Juga: Warren Buffett Resmi Pensiun Sebagai CEO Berkshire, Cuan 6.100.000% Selama 60 Tahun
Situasi ini memicu kekhawatiran bahwa dolar bisa kehilangan statusnya sebagai aset safe haven dan mata uang cadangan utama dunia, sehingga investor dan pelaku pasar mulai beralih ke mata uang lain.
Alain Bokobza dari Societe Generale mengatakan, terjadi pergeseran nyata menjauhi dolar AS, terutama di negara-negara non-OECD yang ingin mengurangi ketergantungan pada aset berbasis dolar karena kekhawatiran terhadap sanksi dan fragmentasi sistem keuangan global.
Ia menambahkan, dampaknya sangat besar. Ketergantungan yang menurun terhadap dolar melemahkan dominasi global AS, meningkatkan volatilitas pasar valuta asing, serta memperkuat peran emas sebagai jangkar moneter.
Seiring merosotnya pamor dolar, rubel Rusia dinobatkan sebagai mata uang dengan kinerja terbaik 2025. Saat ini, sekitar 78 rubel dibutuhkan untuk membeli US$ 1, jauh membaik dibanding hampir 114 rubel per dolar pada akhir 2024.
Baca Juga: Peta Pentagon Bongkar Jangkauan Rudal China, Taiwan hingga AS Masuk Radius Serangan













