Sumber: Telegraph | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Penguatan ini sebagian didorong oleh harapan bahwa Trump akan memaksa tercapainya gencatan senjata di Ukraina dengan syarat yang menguntungkan Rusia.
Ekonom Oxford Economics, Tatiana Orlova, menilai kebijakan Trump sangat memengaruhi pergerakan rubel sepanjang tahun ini.
Menurutnya, rubel sempat melemah pada Juli dan Agustus ketika Trump mulai mengubah pendekatan dan menekan Rusia lewat negara-negara mitra dagangnya, terutama India sebagai pembeli terbesar minyak Rusia. Pada akhir Juli, Trump bahkan mengumumkan tarif tambahan atas impor dari India.
Meski demikian, rubel tetap menguat meski sanksi baru dijatuhkan kepada raksasa energi Rusia, Rosneft dan Lukoil. Orlova menyebut kondisi ini sebagai sebuah teka-teki.
“Dalam beberapa bulan terakhir, rubel tampak kebal terhadap sanksi,” ujarnya. Salah satu alasannya adalah Rusia kini semakin jarang bertransaksi menggunakan dolar AS atau euro dengan mitra dagangnya.
Namun, rubel masih lebih lemah dibanding sebelum Presiden Vladimir Putin memperluas perang Ukraina menjadi invasi skala penuh pada 2022. Saat itu, nilai tukar berada di kisaran 73 rubel per dolar.
Perlu dicatat, Rusia menerapkan kontrol ketat atas arus modal keluar negeri, yang bisa saja menopang nilai rubel secara artifisial.
Tonton: Putin Sebut Rumahnya Dibombardir Drone Ukraina, Kyiv Membantah
Ahli strategi mata uang Rabobank, Jane Foley, mengatakan penguatan rubel bisa memberikan gambaran yang menyesatkan.
“Biasanya mata uang yang menguat diasosiasikan dengan ekonomi yang kuat. Namun dengan kontrol modal, gambaran itu bisa sangat terdistorsi,” ujarnya.
Sementara itu, mata uang dengan kinerja terburuk di dunia tahun ini berasal dari Turki, Ethiopia, dan Argentina.
Lira Turki melemah 17,6%, birr Ethiopia turun 18%, dan peso Argentina anjlok 29% terhadap dolar AS.
Dalam jangka panjang, kondisi Argentina sangat memprihatinkan. Dalam satu dekade terakhir, nilai peso Argentina telah anjlok 99%, akibat rentetan krisis ekonomi yang berkepanjangan.
Kesimpulan
Dolar AS sedang mengalami penurunan terparah dalam hampir satu dekade, dipicu oleh kebijakan tarif agresif dan ketidakpastian kebijakan moneter di bawah Donald Trump. Kepercayaan global terhadap dolar mulai goyah, mendorong investor dan negara-negara berkembang mengurangi ketergantungan pada aset berbasis dolar.
Di sisi lain, penguatan rubel Rusia (meski tampak impresif) tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan ekonomi riil karena ditopang kontrol modal dan perubahan pola perdagangan. Perubahan peta kekuatan mata uang global ini menandai era volatilitas baru di pasar keuangan dunia.













