kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   27.000   0,96%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

Rusia Janji Tetap Patuhi Batas Senjata Nuklir, Asal AS Lakukan Hal yang Sama


Rabu, 11 Februari 2026 / 17:31 WIB
Rusia Janji Tetap Patuhi Batas Senjata Nuklir, Asal AS Lakukan Hal yang Sama
ILUSTRASI. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov (Sergei Ilnitsky/REUTERS)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  MOSKOW. Rusia menyatakan akan tetap mematuhi batas jumlah rudal dan hulu ledak nuklir strategis seperti yang diatur dalam perjanjian New START, meski perjanjian tersebut resmi berakhir pekan lalu.

Sikap ini diambil dengan satu syarat: Amerika Serikat juga tidak melampaui batas yang sama.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan, Moskow masih menjalankan moratorium sepihak yang sebelumnya diumumkan Presiden Vladimir Putin. Namun, komitmen itu hanya berlaku selama Washington juga menahan diri.

Baca Juga: AS Dorong Perjanjian Pengendalian Senjata Nuklir Baru Usai New START Berakhir

“Moratorium dari pihak kami masih berlaku, tetapi hanya sepanjang Amerika Serikat tidak melampaui batas yang telah ditetapkan,” ujar Lavrov saat berbicara di parlemen Rusia, Duma Negara, Rabu (11/2).

Perjanjian New START yang ditandatangani pada 2010 resmi berakhir pada 5 Februari lalu.

Berakhirnya perjanjian ini membuat dua negara dengan persenjataan nuklir terbesar di dunia itu tidak lagi terikat aturan pembatasan senjata strategis untuk pertama kalinya dalam lebih dari 50 tahun.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak usulan resmi Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memperpanjang kepatuhan terhadap ketentuan New START selama satu tahun secara sukarela.

Meski demikian, Rusia menyatakan tetap akan mematuhi batas tersebut untuk sementara waktu.

Baca Juga: Isyarat Uji Senjata Nuklir Trump Tuai Kecaman: Langkah yang Membuat Dunia Tak Aman

Berakhirnya New START memicu kekhawatiran munculnya perlombaan senjata nuklir baru yang melibatkan Rusia, Amerika Serikat, dan China.

Meski jumlah hulu ledak nuklir China masih jauh lebih sedikit dibanding Rusia dan AS, Beijing dinilai tengah mempercepat penguatan militernya.

Namun, sejumlah analis menilai Rusia sebenarnya berupaya menghindari perlombaan senjata yang mahal. Pasalnya, anggaran negara Rusia saat ini berada di bawah tekanan akibat perang di Ukraina yang telah berlangsung sekitar empat tahun.


Tag


TERBARU

[X]
×