Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - CAPE TOWN. Republik Demokratik Kongo (DRC) menyatakan siap menjajaki kerja sama dengan mitra lain jika kerangka kerja sama mineral dengan Amerika Serikat tidak menghasilkan proyek nyata.
Hal ini disampaikan Menteri Pertambangan Kongo, Louis Watum Kabamba, di sela konferensi pertambangan Indaba di Cape Town, Selasa (11/2/2026).
Watum menegaskan, kesepakatan yang diteken bersama AS sejauh ini masih sebatas kerangka kerja untuk membahas kepentingan bersama. Belum ada proyek konkret yang disepakati dalam kerja sama tersebut.
“Kesepakatan dengan Amerika ini masih awal. Bisa berkembang menjadi proyek besar, tapi bisa juga tidak berlanjut. Jika tidak berjalan, kami akan terus melangkah karena masih banyak mitra lain yang bisa diajak berdiskusi,” ujarnya.
Baca Juga: Indonesia-AS: Kemitraan Mineral Kritis lewat FDI Dinilai Prospektif
Pada Desember lalu, Kongo dan AS menandatangani perjanjian kerangka kerja sama pengembangan rantai pasok mineral kritis.
Mineral tersebut dibutuhkan untuk berbagai sektor strategis, mulai dari pusat data, pertahanan, hingga kendaraan listrik. AS sendiri tengah berupaya mengamankan pasokan sumber daya alam guna mengimbangi dominasi China.
Meski demikian, Watum menekankan bahwa Kongo tidak akan gegabah dalam mengelola kekayaan alamnya. Ia membantah anggapan bahwa negaranya akan “menjual murah” sumber daya mineral kepada AS.
“Kami tidak menjual apa pun, dan kami tidak akan menjual apa pun secara cuma-cuma,” tegasnya.
Kongo dikenal sebagai salah satu negara dengan cadangan kobalt, tembaga, dan litium terbesar di dunia. Namun, menurut Watum, potensi tersebut baru dimanfaatkan kurang dari 10%.
Saat ini, sektor pertambangan Kongo diisi oleh perusahaan besar global seperti Glencore dan Ivanhoe Mines, serta perusahaan asal China seperti CMOC Group dan Zijin Mining.
Baca Juga: Dilirik AS untuk Transisi Energi, Mineral Indonesia Tak Boleh Dijual Murah
Terkait persaingan geopolitik antara AS dan China, Watum menegaskan Kongo tidak ingin terjebak di dalamnya. “Kami tidak tertarik pada rivalitas China dan Amerika. Kongo harus memainkan permainannya sendiri,” katanya.
Menurut dia, fokus utama pemerintah adalah menyelesaikan persoalan dalam negeri, mulai dari memenuhi kebutuhan pangan hingga berinvestasi pada pengembangan sumber daya manusia, khususnya generasi muda.













