kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.597.000   -16.000   -0,61%
  • USD/IDR 17.998   74,00   0,41%
  • IDX 6.148   -94,03   -1,51%
  • KOMPAS100 799   -14,31   -1,76%
  • LQ45 612   -9,30   -1,50%
  • ISSI 212   -3,34   -1,55%
  • IDX30 339   -4,87   -1,42%
  • IDXHIDIV20 427   -2,25   -0,52%
  • IDX80 91   -1,67   -1,79%
  • IDXV30 116   -0,86   -0,73%
  • IDXQ30 110   -0,92   -0,84%

Dolar AS Flat, Harga Minyak dan Yield Treasury Naik di Tengah Konflik AS-Iran


Selasa, 29 September 2026 / 05:55 WIB
Dolar AS Flat, Harga Minyak dan Yield Treasury Naik di Tengah Konflik AS-Iran
ILUSTRASI. Dolar AS (REUTERS/Feisal Omar)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak datar terhadap sejumlah mata uang utama pada perdagangan Senin (28/9/2026).

Pergerakan dolar tertahan di tengah kenaikan harga minyak dan imbal hasil US Treasury akibat ketegangan berkepanjangan antara AS dan Iran.

Yield Treasury AS bertahan di atas 5% dan berada di sekitar level tertinggi dalam beberapa dekade. Namun, sentimen terhadap dolar tetap menghadapi tekanan akibat konflik Timur Tengah yang berkepanjangan dan mengganggu pengiriman minyak serta gas melalui Selat Hormuz.

Baca Juga: Harga Emas Spot Jatuh 3,5%, Sentuh Level Terendah dalam 7 Minggu

Melansir Reuters, Indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap sekeranjang mata uang utama bergerak datar di level 101,20, masih berada di sekitar level tertinggi dalam dua bulan.

Euro berada di US$1,1370, mendekati level terendah dalam dua bulan terhadap dolar. Sementara itu, pound sterling relatif datar di US$1,3250 dan masih berada dekat level terendah dalam tiga bulan.

“Penolakan AS terhadap tawaran Iran membuat harga minyak melonjak, mendorong tekanan ke atas pada yield AS dan pada akhirnya mengangkat dolar secara lebih luas,” kata Marc Chandler, chief market strategist Bannockburn Forex.

Harga minyak Brent berjangka naik hampir 1% dan ditutup pada US$105,28 per barel setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal perdamaian dengan Iran.

Risiko pasokan energi dan fundamental ekonomi AS yang masih kuat meningkatkan kekhawatiran inflasi. Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar memperbesar ekspektasi terhadap kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) yang lebih ketat.

Kenaikan yield Treasury tenor panjang juga memberikan dukungan terhadap dolar AS.

Baca Juga: Harga Minyak Naik, Brent Bertahan di Atas US$105 di Tengah Risiko Selat Hormuz

Analis Scotiabank yang dipimpin Shaun Osborne mengatakan perhatian pasar saat ini terutama tertuju pada harga minyak.

Kenaikan harga energi mencerminkan memburuknya kembali negosiasi AS dan Iran serta penolakan Trump terhadap proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Durasi dan besarnya kenaikan harga energi menjadi salah satu pertimbangan penting bagi bank sentral dalam menentukan kebijakan suku bunga.

Yen Jadi Perhatian

Pergerakan dolar terhadap yen Jepang juga menjadi perhatian investor setelah Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama dan Menteri Keuangan AS Scott Bessent kembali menegaskan komitmen kedua negara untuk memperkuat kerja sama dalam menghadapi pelemahan yen.

Diplomat valuta asing senior Jepang Atsushi Mimura pada Senin mengatakan pasar perlu mencermati secara serius pesan Tokyo dan Washington terkait kekhawatiran terhadap pelemahan yen.

Yen Jepang bergerak datar di sekitar 157,39 per dolar setelah sempat menguat tipis pada perdagangan Asia.

Marc Chandler menilai pergerakan dolar-yen akan tetap dipengaruhi oleh kenaikan suku bunga AS. Menurut dia, terdapat tarik-menarik antara intervensi verbal pejabat Jepang dan kenaikan yield Treasury AS.

Baca Juga: Indonesia Kalah Lagi Dibanding Malaysia, Kini Soal Paspor

Pasar Tunggu Data Ekonomi AS

Investor selanjutnya menunggu sejumlah data ekonomi penting AS yang akan dirilis pekan ini. Data indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) dijadwalkan keluar Rabu, sedangkan laporan nonfarm payrolls akan dirilis Jumat.

Kedua data tersebut akan menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan peluang sekitar 73% untuk kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada pertemuan Oktober. The Fed sebelumnya telah menaikkan suku bunga pada pertemuan September.

Pelaku pasar juga hampir sepenuhnya memperhitungkan empat kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam 12 bulan mendatang.

Baca Juga: Daftar Medali Indonesia di Asian Games 2026 per 28 September, Total 27 Medali

Selain The Fed, Reserve Bank of Australia (RBA) juga diperkirakan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 4,60% pada Selasa. Jika terealisasi, level tersebut menjadi yang tertinggi dalam hampir 15 tahun.

Dolar Australia melemah 0,11% terhadap dolar AS menjadi US$0,7015. Sebaliknya, dolar Selandia Baru menguat 0,16% menjadi US$0,5664.

Di China, yuan offshore menguat tipis menjadi 6,713 per dolar setelah pertemuan tiga hari antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping tidak menghasilkan terobosan besar yang diumumkan secara publik terkait sejumlah isu perdagangan dan ekonomi yang masih menjadi




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×