kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.580.000   -17.000   -0,65%
  • USD/IDR 18.029   31,00   0,17%
  • IDX 6.148   -94,03   -1,51%
  • KOMPAS100 799   -14,31   -1,76%
  • LQ45 612   -9,30   -1,50%
  • ISSI 212   -3,34   -1,55%
  • IDX30 339   -4,87   -1,42%
  • IDXHIDIV20 427   -2,25   -0,52%
  • IDX80 91   -1,67   -1,79%
  • IDXV30 116   -0,86   -0,73%
  • IDXQ30 110   -0,92   -0,84%

Harga Minyak Naik, Brent Bertahan di Atas US$105 di Tengah Risiko Selat Hormuz


Selasa, 29 September 2026 / 05:45 WIB
Harga Minyak Naik, Brent Bertahan di Atas US$105 di Tengah Risiko Selat Hormuz
ILUSTRASI. Harga Minyak (BBM) (via REUTERS/Majid Asgaripour)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia ditutup menguat tipis pada perdagangan Senin (28/9/2026), setelah kekhawatiran gangguan pasokan kembali mencuat menyusul penolakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Harga minyak sempat melonjak lebih dari US$4 per barel pada awal perdagangan. Namun, penguatan kemudian terpangkas setelah mediator Qatar menyatakan akan menggelar pembicaraan dengan AS dan Iran untuk mencari kesepakatan damai yang dapat membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.

Baca Juga: Indonesia Kalah Lagi Dibanding Malaysia, Kini Soal Paspor

Melansir Reuters, harga minyak Brent berjangka ditutup naik 96 sen atau 0,9% menjadi US$105,28 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 19 sen atau 0,2% menjadi US$92,60 per barel.

Mediator Qatar diperkirakan menggelar pembicaraan terpisah dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi di New York serta dengan pihak AS pada Senin atau Selasa.

Seorang pejabat yang mengetahui proses negosiasi mengatakan, pembicaraan akan membahas versi revisi dari proposal tujuh hari yang diajukan Iran pekan lalu di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Iran sebelumnya menegaskan bahwa konflik dengan AS dan Israel hanya dapat diselesaikan melalui jalur diplomasi. Sementara itu, Trump mengatakan kepada Axios pada Minggu bahwa negosiator AS akan kembali melakukan pembicaraan dengan Iran pekan ini.

Baca Juga: Jadwal Final Bulu Tangkis Asian Games 2026, 2 Wakil Indonesia Berburu Emas

Aliran Minyak Mulai Pulih

Di tengah ketidakpastian negosiasi, data menunjukkan aliran minyak dari produsen utama Timur Tengah mulai mengalami pemulihan.

Ekspor minyak mentah dari sejumlah produsen utama Timur Tengah mencapai 12,8 juta barel per hari (bph) pada September.

Berdasarkan data awal Kpler, angka tersebut merupakan level tertinggi sejak perang dimulai pada Februari, seiring peningkatan ekspor dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).

Pengiriman minyak melalui Selat Hormuz juga mulai pulih dan diperkirakan mencapai sekitar 7,4 juta bph pada September.

Arab Saudi bahkan mengalihkan sebagian ekspornya dari pelabuhan Laut Merah Yanbu ke pelabuhan Ras Tanura di wilayah timur setelah serangan merusak jaringan pipa East-West.

Baca Juga: Daftar Medali Indonesia di Asian Games 2026 per 28 September, Total 27 Medali

“Meski lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz meningkat, arus minyak masih berada di bawah level sebelum konflik sehingga pasar tetap mengalami kekurangan pasokan,” kata analis UBS Giovanni Staunovo.

Sebelum AS dan Israel menyerang Iran pada Februari, sekitar seperlima pasokan minyak dunia atau sekitar 20 juta bph melewati Selat Hormuz.

Kondisi tersebut membuat perkembangan di jalur pelayaran strategis tersebut tetap menjadi perhatian pasar minyak.

Gangguan berkepanjangan berpotensi menekan pasokan global dan menjaga harga minyak pada level tinggi.

Harga Diesel Melonjak

Tekanan pasokan juga tercermin dari kenaikan harga diesel. Harga diesel melonjak akibat gangguan pasokan yang berkaitan dengan konflik di Timur Tengah dan Ukraina, serta pembatasan ekspor dari Rusia dan China.

Di AS, Gedung Putih tengah mempertimbangkan pelonggaran aturan yang memungkinkan penjualan diesel merah secara lebih luas sebagai upaya menekan kenaikan harga bensin dan diesel.

Departemen Transportasi AS juga telah menyelesaikan aturan standar efisiensi bahan bakar kendaraan yang lebih rendah.

Baca Juga: Siti Hasmah, Istri Mahathir Mohamad, Meninggal Dunia di Usia 100 Tahun

Sementara itu, rencana AS untuk melarang ekspor diesel setelah harga bahan bakar tersebut mencapai rekor dalam beberapa pekan terakhir turut memperlebar selisih harga antara minyak mentah AS dan Brent.

Selisih harga Brent terhadap WTI pada Senin mencapai level tertinggi sejak Mei untuk ketiga kalinya dalam empat sesi perdagangan. Kondisi ini berpotensi mendorong perusahaan energi mengirim lebih banyak kapal tanker untuk mengangkut minyak AS ke pasar luar negeri.

Goldman Sachs menilai Eropa dan terutama Amerika Latin merupakan tujuan utama ekspor diesel AS. Namun, pengetatan pasokan diesel di AS berpotensi dengan cepat menyebar ke pasar global.

Di Rusia, pemerintah memberlakukan larangan ekspor diesel untuk menjaga pasokan domestik setelah gangguan kilang akibat serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy pada Senin juga mengatakan militer Ukraina telah menyerang sejumlah fasilitas minyak Rusia di wilayah Krasnodar.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×