Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Jumat (26/6/2026) pagi dan bersiap mencatat penurunan mingguan yang tajam.
Kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan mulai mereda setelah lebih banyak kapal tanker berhasil melintasi Selat Hormuz, meskipun sebuah kapal kargo dilaporkan diserang di dekat Oman.
Baca Juga: Yen Tertekan Dekati Rekor Terendah Sejak 1986, Dolar AS Masih Perkasa
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun 19 sen atau 0,25% menjadi US$ 75,07 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah 13 sen atau 0,18% ke US$ 71,79 per barel.
Meski demikian, kedua kontrak acuan sempat melonjak lebih dari 2% pada Kamis (25/6) setelah sebuah kapal kargo terkena proyektil yang belum diketahui asalnya di dekat Oman.
Insiden tersebut mendorong badan pelayaran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menghentikan sementara skema evakuasi sukarela bagi kapal-kapal di kawasan itu.
Dua pejabat Amerika Serikat mengatakan kepada Reuters bahwa kapal tersebut ditembaki oleh Iran ketika berusaha melintasi Selat Hormuz.
Sementara itu, otoritas Iran menyatakan keamanan kapal yang berlayar di luar jalur resmi Selat Hormuz tidak dapat dijamin.
Analis IG Tony Sycamore mengatakan premi risiko geopolitik mulai kembali masuk ke dalam harga minyak.
"Pasar akan mencermati apakah lalu lintas kapal tanker dapat kembali normal atau justru hambatan terbaru ini memaksa produsen menunda rencana peningkatan produksi," ujarnya.
Baca Juga: Drama Suksesi JPMorgan Berlanjut, Jamie Dimon Bertahan, Kandidat Pewaris Mengerucut
Bersiap turun sekitar 7% sepekan
Meski sempat menguat, harga minyak Brent maupun WTI masih berada di jalur penurunan sekitar 7% sepanjang pekan ini.
Data terbaru menunjukkan pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz meningkat pada pekan ini ke level tertinggi sejak konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pecah pada Februari.
Peningkatan tersebut terjadi setelah kesepakatan gencatan senjata memungkinkan jalur pelayaran kembali dibuka.
Pulihnya aktivitas pengiriman minyak membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap pasokan global.
Namun demikian, volume lalu lintas kapal masih jauh di bawah kondisi normal. Sebelum konflik dimulai pada 28 Februari, sekitar 125 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari.
Baca Juga: Samsung Akan Mengumumkan Investasi US$ 648 Miliar di Korea Selatan
Gempa Venezuela picu kekhawatiran baru
Di sisi lain, gempa bumi yang mengguncang Venezuela pada Kamis turut memunculkan kekhawatiran baru terhadap pasokan minyak.
Hasil penilaian awal menunjukkan sebagian besar fasilitas produksi minyak, gas, kilang, jaringan pipa, dan terminal ekspor Venezuela tidak mengalami kerusakan berarti karena berada jauh dari pusat gempa.
Meski demikian, gangguan pasokan listrik setelah gempa menimbulkan ketidakpastian mengenai kemampuan Venezuela mempertahankan produksi minyaknya di kisaran 1,2 juta barel per hari, menurut sejumlah sumber Reuters.
Pelaku pasar kini terus memantau perkembangan situasi keamanan di Selat Hormuz serta kondisi produksi Venezuela sebagai faktor yang berpotensi memengaruhi arah harga minyak dalam jangka pendek.














