Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Partai Demokrat berhasil merebut kendali Senat dan DPR Amerika Serikat (AS) dalam pemilihan paruh waktu (midterm elections) pada Selasa (3/11/2026).
Hasil ini menjadi pukulan politik besar bagi Presiden Donald Trump, setelah jutaan pemilih di sejumlah basis tradisional Partai Republik beralih memberikan dukungan kepada Demokrat.
Kemenangan Demokrat didorong oleh meningkatnya ketidakpuasan masyarakat terhadap kebijakan pemerintahan Trump, terutama perang dengan Iran, tingginya biaya hidup, serta pengelolaan ekonomi AS.
Sejumlah negara bagian yang selama puluhan tahun menjadi basis Partai Republik bahkan mencatatkan kemenangan bersejarah bagi Demokrat.
Di Texas, negara bagian yang selama ini menjadi basis kuat Partai Republik, Demokrat berhasil memenangkan satu kursi Senat dan mengalahkan Gubernur petahana Greg Abbott yang telah menjabat selama tiga periode.
Sementara itu, Kansas berhasil memilih senator Demokrat pertama sejak era Depresi Besar hampir satu abad lalu.
Di South Carolina, Demokrat juga berhasil mengalahkan kandidat Senat pilihan Trump, meskipun negara bagian tersebut dimenangkan Trump dengan selisih hampir 18 poin dalam pemilu 2024.
Hasil pemilu ini akan membawa Washington memasuki era pemerintahan terbelah atau divided government.
Selama dua tahun terakhir, Partai Republik menguasai Kongres dan relatif jarang menggunakan kewenangannya untuk membatasi kebijakan Trump.
Dengan mayoritas baru yang mulai bertugas pada Januari 2027, Demokrat diperkirakan akan meningkatkan pengawasan terhadap pemerintahan Trump, termasuk menyelidiki aktivitas administrasi pemerintahan, keluarga, dan sekutu politiknya.
Demokrat juga akan memiliki kekuatan untuk memblokir sejumlah nominasi Trump, termasuk calon hakim Mahkamah Agung AS apabila terjadi kekosongan jabatan.
Pemimpin minoritas Demokrat di Senat Chuck Schumer mengatakan, hasil pemilu tersebut akan mengubah peta politik AS secara signifikan.
"Rakyat Amerika memilih perubahan, dan sekarang Demokrat harus mewujudkannya," ujar Schumer.
Trump sendiri menerima hasil pemilu tersebut dan menyampaikan ucapan selamat kepada Demokrat dalam wawancara dengan Fox News.
Ia juga menyatakan bersedia bekerja sama dengan Demokrat dalam sejumlah isu, termasuk imigrasi.
Namun, Trump memperingatkan akan memveto setiap rancangan undang-undang yang dianggapnya tidak masuk akal.
Biaya Hidup dan Perang Iran Jadi Isu Utama Pemilu
Kemenangan Demokrat tidak terlepas dari strategi kampanye yang berfokus pada isu korupsi dan keterjangkauan biaya hidup atau affordability.
Demokrat menyalahkan kebijakan tarif perdagangan Trump dan perang dengan Iran sebagai faktor yang mendorong kenaikan biaya hidup masyarakat.
Mereka juga menyoroti keuntungan miliaran dollar AS yang diperoleh keluarga Trump sejak kembali ke Gedung Putih.
Sebaliknya, Partai Republik berupaya menyerang Demokrat melalui isu sosial dan budaya, termasuk hak transgender, serta menggambarkan lawan politiknya sebagai kelompok radikal.
Namun, hasil survei pemilih menunjukkan persoalan ekonomi dan daya beli menjadi perhatian yang lebih besar bagi masyarakat.
Berdasarkan penghitungan Reuters dan USA Today terhadap sekitar 2.100 wilayah yang sebagian besar suaranya telah dihitung, Demokrat berhasil meningkatkan perolehan suara di hampir seluruh wilayah AS.
Penguatan dukungan Demokrat terjadi di berbagai kelompok wilayah, mulai dari daerah berpendapatan tinggi hingga rendah, serta wilayah dengan tingkat pendidikan tinggi maupun rendah.
Kenaikan dukungan juga terlihat signifikan di wilayah dengan populasi Latino yang besar, termasuk sejumlah wilayah perbatasan Texas dan kawasan pertanian di Kansas.
Di Seward County, Kansas, misalnya, kandidat Demokrat Adam Hamilton unggul 13 poin atas senator petahana dari Partai Republik Roger Marshall. Padahal, dua tahun sebelumnya Trump memenangkan wilayah tersebut dengan keunggulan 39 poin.
Demokrat juga berhasil merebut lebih dari dua lusin kursi DPR yang sebelumnya dikuasai Partai Republik. Partai tersebut memenangkan seluruh persaingan ketat di DPR yang hasilnya telah dipastikan hingga saat itu.
Kekuasaan Trump Mulai Terbatas
Hasil pemilu ini berpotensi mempercepat berkurangnya pengaruh politik Trump menjelang akhir masa jabatannya.
Konstitusi AS melarang Trump mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga, sehingga perhatian politik mulai beralih ke pemilihan presiden 2028 dan calon penerusnya.
Dalam beberapa pekan terakhir sebelum pemilu, Trump aktif menggelar kampanye dan meminta pendukungnya memperlakukan pemilu paruh waktu seolah-olah dirinya ikut menjadi kandidat.
Trump juga turun tangan dalam sejumlah pemilihan pendahuluan Partai Republik untuk memastikan kandidat pilihannya memperoleh tiket pencalonan.
Namun, sejumlah kandidat yang didukung Trump justru mengalami kekalahan. Di Texas, kandidat pilihan Trump Ken Paxton kalah dari petahana Senator John Cornyn. Sementara di South Carolina, kandidat Darline Graham juga gagal memenangkan kursi Senat.
Bahkan, senator petahana Susan Collins dari Maine yang selama kampanye berupaya menunjukkan sikap berbeda dari Trump tetap kehilangan kursinya setelah menjabat selama 30 tahun.
Pemilu kali ini juga mencatatkan sejumlah sejarah baru. Demokrat Abdul El-Sayed memenangkan kursi Senat Michigan dan menjadi Muslim pertama yang terpilih menjadi anggota Senat AS.
Di Georgia, Keisha Lance Bottoms menjadi perempuan kulit hitam pertama yang terpilih sebagai gubernur negara bagian di AS.
Sementara itu, Byron Donalds dari Partai Republik memenangkan pemilihan gubernur Florida dan menjadi gubernur kulit hitam pertama dari Partai Republik di AS.
Texas juga akan memiliki gubernur perempuan Latino pertama melalui kemenangan Gina Hinojosa dari Demokrat.
Adapun California akan dipimpin Xavier Becerra, yang menjadi gubernur Latino pertama di negara bagian tersebut.
Pemilih Ingin Kongres Batasi Kekuasaan Presiden
Hasil jajak pendapat pemilih yang dilakukan SSRS untuk konsorsium media AS, termasuk sejumlah jaringan televisi besar dan Associated Press, memperlihatkan besarnya ketidakpuasan masyarakat terhadap arah pemerintahan Trump.
Sekitar separuh pemilih secara nasional menyatakan pemilu paruh waktu 2026 menjadi kesempatan untuk memberikan teguran kepada presiden.
Selain itu, sekitar 75% responden mengaku marah atau tidak puas terhadap arah perkembangan AS. Sebanyak 70% pemilih juga menginginkan Kongres memperkuat mekanisme pengawasan dan keseimbangan kekuasaan terhadap presiden.
Senator Demokrat petahana dari Georgia Jon Ossoff mengatakan, hasil pemilu mencerminkan penolakan masyarakat terhadap kepemimpinan Trump.
Di sisi lain, Trump mengakui perang dengan Iran turut memengaruhi kekalahan Partai Republik. Meski demikian, ia tetap mempertahankan keputusannya untuk melancarkan perang tersebut.













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
